Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Stop Buang Ampas Kopi ke Wastafel, Ini Bahayanya!

Kompas.com, 8 Juli 2025, 20:51 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

Sumber The Spruce

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap kali selesai menyeruput kopi tak sedikit orang yang membuang ampasnya ke saluran wastafel dapur. 

Meski menjadi kesalahan yang cukup umum dilakukan, kamu harus menghentikan kebiasaan ini demi mencegah kerusakan atau masalah pada sistem saluran wastafel dapur

Baca juga: Jangan Diamkan Piring Kotor di Wastafel Lebih dari Sehari, Ini Akibatnya 

“Banyak orang membilas ampas kopi ke dalam wastafel tanpa menyadari ampas kopi dapat menumpuk dan menyebabkan saluran air lambat atau penyumbatan penuh,” ucap Joy Ramos, ahli pembersih profesional dan Manajer Operasi untuk Bear Bros Cleaning.

Masalahnya terjadi ketika ampas kopi bercampur dengan minyak dan sisa sabun lainnya, menyebabkan terbentuknya lumpur yang tebal serta menempel pada pipa.

Hal ini pada akhirnya menyebabkan penumpukan yang dapat membentuk penyumbatan lebih besar yang sulit dihilangkan tanpa bantuan tukang ledeng profesional.

“Penumpukan ini tidak hanya terjadi di dapur. Ini dapat menyebar ke seluruh sistem drainase  dan menyebabkan perbaikan pipa yang mahal," jelas Ramos. 

Baca juga: Jangan Membuang Minyak Goreng ke Wastafel, Ini Bahayanya 

Cara membersihkan ampas kopi dari saluran wastafel 

Ilustrasi ampas kopi.Shutterstock/Nor Gal Ilustrasi ampas kopi.
Jika telanjur membuang ampas kopi ke wastafel, tapi belum melihat efek negatifnya, mungkin saja penumpukannya sudah mulai terjadi.

Ramos mengatakan untuk segera mengambil tindakan sebelum berubah menjadi penyumbatan penuh.

“Mulailah membilas saluran pembuangan dengan larutan air panas dan sabun cuci piring untuk membantu melarutkan penyumbatan,” ujarnya.

Apabila menyadari wastafel tersumbat atau membutuhkan waktu lebih lama untuk mengering, kamu perlu mencoba solusi lebih kuat.

“Kamu juga dapat menuangkan kombinasi baking sodadan cuka. Biarkan selama 10-15 menit, lalu bilas dengan air mendidih untuk membantu membersihkan residu yang tersangkut di pipa.”

Langkah terakhir adalah berhenti membuang ampas kopi ke wastafel secara permanen. Namun, jika telah melihat efek lebih besar dari pembuangan sebelumnya, mungkin ini saat tepat memanggil ahli pipa dan memastikan masalahnya tidak berisiko menjadi lebih buruk. 

Baca juga: 7 Sisa Makanan yang Tidak Boleh Dibuang ke Saluran Wastafel

Cara tepat membuang ampas kopi 

Sebaiknya, membuang ampas kopi ke tempat sampah. Namun, Ramos mengatakan ada pilihan yang lebih ramah lingkungan, yakni menjadikan ampas kopi sebagai kompos atau menggunakannya di kebun sebagai pupuk alami. 

Penting juga dicatat, ampas kopi bukan satu-satunya masalah yang menyebabkan wastafel tersumbat. Ada beberapa bahan makanan dan produk sampingan lainnya yang tidak boleh dibuang ke wastafel.

“Beberapa bahan makanan sehari-hari dapat menyebabkan masalah pipa jika dibuang ke saluran pembuangan,” tambah Ramos.

Ada beberapa makanan yang tidak boleh dibuang ke dalam wastafel, seperti cangkang telur, nasi, pasta, minyak, dan kulit kentang. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau