Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terungkap, Pembeli Lahan Jumbo 8 Hektar Milik APLN di Bali

Kompas.com, 15 Desember 2025, 14:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk sektor properti Indonesia yang terus bergoyang oleh fluktuasi ekonomi global, sebuah transaksi besar baru saja mengguncang pasar.

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), raksasa pengembang superblok dan hunian mewah, baru saja melepas aset lahan seluas 8 hektar di Bali, dengan lokasi premium yang semula direncanakan untuk ekspansi ambisius.

Tapi, pertanyaan besar yang menggelitik investor dan pecinta properti: siapa pembeli lahan APLN di Bali ini?

Baca juga: Jual Lahan 8 Hektar di Bali, Agung Podomoro Pangkas Utang Rp 4,5 Triliun

Sebelum mengungkap identitas pembeli lahan dimaksud, strategi APLN untuk bertahan di tengah badai ekonomi dinilai sebagai langkah tepat.

Sejak berdiri pada 30 Juli tahun 2004, APLN telah membangun imperium dengan proyek ikonik seperti Podomoro City di Jakarta, Podomoro City di Deli Serang, Borneo Bay City di Balikpapan, dan Bukit Podomoro Jakarta, dengan total aset mencapai triliunan rupiah.

Namun, 2025 menjadi tahun transisi bagi APLN. Pasca pandemi Covid, kenaikan inflasi, suku bunga BI yang belum bersahabat, dan lesunya daya beli masyarakat membuat emiten ini harus beradaptasi cepat

Pada 11 Desember 2025, APLN menyelesaikan penjualan seluruh saham di PT Karya Pratama Propertindo, entitas yang mengelola lahan 8 hektar di Ubud, Bali, sekaligus pemilik Sofitel Bali Ubud Resort & Spa.

Transaksi 11 Desember

Transaksi ini melibatkan entitas anak APLN, PT Kencana Unggul Sukses (KUS), dan hasilnya adalah pengurangan utang serta tambahan kas untuk mendanai proyek unggulan seperti Podomoro Park Bandung dan ekspansi di Medan.

Ini bukan transaksi material atau afiliasi menurut POJK OJK, tapi jelas langkah cerdas untuk likuiditas.

Baca juga: Ini Lahan Kawasan Elit Milik Kemenkeu di Bali yang Diminta Ara Dibangun Rusun MBR

Divestasi ini mencerminkan tren industri properti 2025, di mana developer besar seperti APLN beralih dari ekspansi agresif ke optimalisasi aset.

Sebagaimana diketahui, Bali dengan kontribusi 15 persen terhadap PDB pariwisata nasional, adalah magnet utama investasi dunia.

Apakah pembeli akan lanjutkan visi APLN, atau menciptakan sesuatu yang lebih radikal? Jawabannya ada pada identitas mereka.

Mereka adalah konsorsium dua perusahaan PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development.

Transaksi ditandatangani pada 11 Desember 2025, dengan mengakuisisi seluruh 100 persen saham PT Karya Pratama Propertindo.

Baca juga: Bali Terancam Krisis Pangan, Nusron Desak Penyetopan Izin Properti

"Untuk nilai transaksinya belum bisa kami sampaikan, karena masih terikat dengan kesepakatan. Kami akan sampaikan pada kesempatan berikutnya," ujar Corporate Secretary APLN, Justini Omas, kepada Kompas.com, Senin (15/12/2025).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau