Penulis
KOMPAS.com – Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto) dikenal sebagai rumah sakit militer terbesar di Indonesia.
Saat ini, rumah sakit tersebut menjadi rujukan tertinggi bagi rumah sakit TNI di seluruh Indonesia.
Namun, sebelum berkembang menjadi fasilitas kesehatan modern seperti sekarang, rumah sakit ini memiliki perjalanan sejarah panjang yang dimulai sejak masa kolonial Belanda.
Dirangkum dari arsip sejarah RSPAD Gatot Soebroto, rumah sakit ini pada awalnya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada Oktober 1936 dengan nama Groot Militair Hospitaal Weltevreden.
Rumah sakit ini didirikan untuk merawat para serdadu Belanda yang sakit atau terluka, terutama mereka yang mengalami cedera dalam berbagai pertempuran melawan pejuang kemerdekaan Indonesia, seperti Perang Paderi dan Perang Diponegoro.
Baca juga: Sejarah Masjid Cut Meutia, Masjid yang Bangunannya Kayak Bukan Masjid
Pembangunan rumah sakit militer besar di Jawa sebenarnya telah dirintis sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang mendirikan tiga rumah sakit militer besar di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Awalnya fasilitas kesehatan militer berada di beberapa lokasi seperti Weltevreden dan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).
Pada 1819 jumlah tempat tidur di rumah sakit militer ini meningkat dari 222 menjadi 400 tempat tidur, namun kapasitas tersebut kemudian dianggap tidak mencukupi karena meningkatnya jumlah tentara yang dirawat akibat berbagai perang di Nusantara.
Seiring waktu, rumah sakit ini tidak hanya menjadi fasilitas perawatan tentara, tetapi juga berperan penting dalam perkembangan ilmu kedokteran di Hindia Belanda.
Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1896, ketika dokter Belanda Christiaan Eijkman melakukan penelitian yang mengungkap hubungan antara kekurangan nutrisi dengan penyakit beri-beri. Penelitian tersebut kemudian mengarah pada penemuan vitamin B.
Atas penemuan tersebut, Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran pada 1929.
Baca juga: Sejarah SCBD, dari Permukiman Kumuh, Kini Jadi Kawasan Elit Jakarta
Selain itu, dari lingkungan rumah sakit ini pula lahir pendidikan kedokteran bagi penduduk pribumi melalui STOVIA, yaitu sekolah pendidikan dokter pribumi yang menjadi cikal bakal pendidikan kedokteran modern di Indonesia.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, rumah sakit ini berada di bawah kendali tentara Jepang dan namanya diubah menjadi Rikugun Byoin.
Pada masa itu, fungsi rumah sakit tetap sebagai fasilitas kesehatan militer yang melayani tentara Jepang selama pendudukan berlangsung.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945 dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, rumah sakit ini kembali dikuasai pihak Belanda melalui KNIL dengan nama Leger Hospitaal Batavia.