Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RSPAD Gatot Soebroto, Berawal dari RS Militer yang Dirintis Daendels

Kompas.com, 16 Maret 2026, 17:06 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com – Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto) dikenal sebagai rumah sakit militer terbesar di Indonesia.

Saat ini, rumah sakit tersebut menjadi rujukan tertinggi bagi rumah sakit TNI di seluruh Indonesia.

Namun, sebelum berkembang menjadi fasilitas kesehatan modern seperti sekarang, rumah sakit ini memiliki perjalanan sejarah panjang yang dimulai sejak masa kolonial Belanda.

Sejarah RSPAD Gatot Soebroto

Dirangkum dari arsip sejarah RSPAD Gatot Soebroto, rumah sakit ini pada awalnya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada Oktober 1936 dengan nama Groot Militair Hospitaal Weltevreden.

Rumah sakit ini didirikan untuk merawat para serdadu Belanda yang sakit atau terluka, terutama mereka yang mengalami cedera dalam berbagai pertempuran melawan pejuang kemerdekaan Indonesia, seperti Perang Paderi dan Perang Diponegoro.

Baca juga: Sejarah Masjid Cut Meutia, Masjid yang Bangunannya Kayak Bukan Masjid

Pembangunan rumah sakit militer besar di Jawa sebenarnya telah dirintis sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang mendirikan tiga rumah sakit militer besar di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Awalnya fasilitas kesehatan militer berada di beberapa lokasi seperti Weltevreden dan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).

Pada 1819 jumlah tempat tidur di rumah sakit militer ini meningkat dari 222 menjadi 400 tempat tidur, namun kapasitas tersebut kemudian dianggap tidak mencukupi karena meningkatnya jumlah tentara yang dirawat akibat berbagai perang di Nusantara.

Seiring waktu, rumah sakit ini tidak hanya menjadi fasilitas perawatan tentara, tetapi juga berperan penting dalam perkembangan ilmu kedokteran di Hindia Belanda.

Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1896, ketika dokter Belanda Christiaan Eijkman melakukan penelitian yang mengungkap hubungan antara kekurangan nutrisi dengan penyakit beri-beri. Penelitian tersebut kemudian mengarah pada penemuan vitamin B.

Atas penemuan tersebut, Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran pada 1929.

Baca juga: Sejarah SCBD, dari Permukiman Kumuh, Kini Jadi Kawasan Elit Jakarta

Selain itu, dari lingkungan rumah sakit ini pula lahir pendidikan kedokteran bagi penduduk pribumi melalui STOVIA, yaitu sekolah pendidikan dokter pribumi yang menjadi cikal bakal pendidikan kedokteran modern di Indonesia.

Masa Jepang dan Revolusi Kemerdekaan

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, rumah sakit ini berada di bawah kendali tentara Jepang dan namanya diubah menjadi Rikugun Byoin.

Pada masa itu, fungsi rumah sakit tetap sebagai fasilitas kesehatan militer yang melayani tentara Jepang selama pendudukan berlangsung.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945 dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, rumah sakit ini kembali dikuasai pihak Belanda melalui KNIL dengan nama Leger Hospitaal Batavia.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau