Penulis
Istana Negara mengusung gaya arsitektur Palladio. Hal ini tampak jelas dari eksterior istana yang menampilkan saka-saka bercorak Yunani.
Bagian depan Istana Negara menonjolkan 14 saka dengan laras yang sama. Serambi di Istana Negara sedikit lebih sempit dibanding serambi yang dimiliki Istana Merdeka.
Serambi Istana Negara dicapai dari dua anak tangga di sisi kanan dan kiri serta bagian depannya ditutup dengan pagar balustrada.
Istana Negara pada dasarnya terdiri atas dua balairung besar, yaitu Ruang Upacara dan Ruang Jamuan.
Sesuai dengan namanya, Ruang Upacara adalah untuk tempat penyelenggaraan upacara-upacara resmi kenegaraan.
Pada masa Hindia Belanda, Ruang Upacara dipakai sebagai ballroom untuk pesta-pesta yang disemarakkan dengan acara dansa.
Serambi depan yang terbuka, menghadap ke Jalan Veteran, dapat dicapai dengan anak-anak tangga di kedua sisinya.
Baca juga: Ruang Kredensi dan Konferensi Istana Garuda IKN Pakai Plafon Anti-rayap
Melalui pintu-pintu kaca, pengunjung akan tiba di ruang depan. Ruang depan ini dipergunakan sebagai tempat untuk tukar-menukar cenderamata antara dua Kepala Negara sebelum memasuki Ruang Jamuan.
Di ruang ini, terdapat tiga kandelabra besar dan sepasang cermin antik yang tingginya hampir mencapai tiga meter.
Dari ruang depan ini terdapat sebuah koridor untuk mencapai Ruang Jamuan. Di kedua sisi koridor itu terdapat beberapa ruang khusus. Di sisi barat terdapat suite untuk Wakil Presiden dan ruang tunggu tamu presiden.
Ruang kerja presiden berada di sisi timur koridor ini, diapit dengan sebuah meja kerja besar, sebuah kursi kerja untuk presiden, dua kursi hadap, dan sebuah lemari panjang untuk menyimpan berbagai benda seni.
Di belakang ruang kerja ini terdapat ruang istirahat dan ruang makan bagi Presiden.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang