Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kekeringan Mengancam, JIAT Bakal Dibangun di Lumbung Pangan Nasional

Kompas.com, 29 Maret 2026, 19:10 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Ancaman krisis pangan global yang dipicu oleh instabilitas geopolitik dan anomali iklim ekstrem, menjadi tantangan tersendiri buat Indonesia.

Dalam merespons urgensi ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan akselerasi masif pada infrastruktur pengairan guna menjamin resiliensi sektor agraris.

Fokus utama saat ini adalah mengoptimalkan kedaulatan air sebagai prasyarat mutlak pencapaian swasembada pangan yang ditargetkan terealisasi penuh pada 2026.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa air adalah variabel penentu dalam ketahanan pangan Nasional.

Baca juga: JIAT, Solusi Lahan Pertanian Tak Terjangkau Aliran Air Infrastruktur

Menurutnya, tanpa manajemen sumber daya air (SDA) yang presisi, produktivitas lahan pertanian akan terdegradasi, terutama saat menghadapi fenomena El NiƱo yang memperpanjang durasi musim kemarau.

"Kedaulatan pangan adalah prioritas nomor satu. Peristiwa geopolitik hari ini menyebabkan harga pangan melonjak. Jika kita mampu swasembada, kebutuhan masyarakat akan tetap tercukupi terlepas dari guncangan global di luar sana," ujar Dody, saat meninjau infrastruktur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (29/3/2026).

Transformasi Lahan Tadah Hujan Melalui JIAT

Salah satu langkah strategis yang ditempuh Kementerian PU adalah pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).

Program ini dirancang untuk mengintervensi lahan-lahan pertanian yang selama ini hanya mengandalkan curah hujan (tadah hujan), sehingga hanya mampu berproduksi sekali dalam setahun.

Dengan pemanfaatan sumur dalam yang mengeksplorasi akuifer pada kedalaman hingga 120 meter, JIAT mampu menyediakan debit air yang stabil sebesar 12 hingga 20 liter per detik.

Secara teknis, satu titik JIAT dapat melayani irigasi hingga 20 hektar lahan. Rencananya, JIAT akan dibangun di lumbung-lumbung pangan seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan luar Pulau Jawa.

Baca juga: Bendungan Lau Simeme Siap Kurangi Potensi Banjir Medan

Menteri Dody menginstruksikan agar setiap titik JIAT diintegrasikan dengan jaringan irigasi tersier. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air secara signifikan.

"Kita harus berhemat dengan air tanah. Penggunaan irigasi tersier memastikan air tersalurkan tepat sasaran ke lahan petani, mencegah kehilangan air (water loss) akibat evaporasi atau peresapan yang tidak terkendali," tambahnya.

Rehabilitasi Bendungan dan Mitigasi Sedimentasi

Selain eksploitasi air tanah yang terukur, tantangan besar lainnya terletak pada keberlanjutan fungsi infrastruktur SDA eksisting.

Seiring bertambahnya usia, banyak infrastruktur bendungan, bendung, embung, dan waduk mengalami penurunan kapasitas tampung akibat laju sedimentasi yang masif di area hulu. Seperti Bendung Boyo di Boyolali, dan Bendungan Wonogiri serta Waduk Kedungombo.

Baca juga: Sudah Ada 2 Bendungan Kering, Kenapa Jakarta dan Bekasi Masih Banjir?

Kementerian PU mengidentifikasi, sedimentasi bukan sekadar masalah teknis pengerukan, melainkan masalah ekologis sistemik.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau