Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Apa yang Bikin Bintang Jatuh?

Oleh: Lisa Harvey-Smith

HAI Katelyn,

Terima kasih telah mengajukan pertanyaan yang luar biasa.

Saya yakin kamu pernah melihat ke langit malam dan melihat banyak bintang.

Bintang-bintang itu indah, bukan? Setiap bintang adalah bola gas yang sangat besar dan bercahaya, seperti Matahari. Bintang-bintang terlihat jauh lebih kecil dan lebih redup daripada Matahari karena letaknya yang sangat jauh.

Terlepas dari namanya, bintang jatuh bukanlah bintang. Bintang jatuh adalah petualang-petualang angkasa yang secara tidak sengaja masuk ke langit dan tersedot ke arah kita oleh gravitasi Bumi.

Mari kita lihat perjalanan salah satu petualang ini. Saya akan memanggilnya Gemma.

Suatu ketika ada setitik debu kecil - debu luar angkasa - bernama Gemma. Selama bertahun-tahun ia menghabiskan waktunya dengan berkelana tanpa beban di luar angkasa dan menari-nari mengelilingi planet-planet dan bintang-bintang.

Suatu hari, Gemma melihat cahaya di kejauhan. “Apa itu?”, dia bertanya-tanya dalam hati.

Ketika ia mendekat, ia melihat pemandangan indah sebuah planet biru yang menggantung di angkasa seperti kelereng, diselimuti oleh warna biru dan putih yang berputar-putar.

“Wow, itu planet Bumi,” katanya dalam hati.

“Seperti yang pernah saya baca di buku saya!” (Dalam cerita ini, bintik-bintik debu luar angkasa membaca buku seperti kamu dan saya).

Setelah menghabiskan waktu begitu lama melayang-layang di kegelapan angkasa, Gemma merasakan ketertarikan yang aneh terhadap gangguan baru yang indah ini.

Bukan hanya daya tarik Bumi. Rasanya seperti ada kekuatan tak terlihat yang membawanya perlahan-lahan mendekat dan mendekat ke bola cahaya yang terang ini.

Gaya tarik gravitasi

Ketika Gemma terbang mendekat, dia menyadari bahwa dia ditarik ke arah Bumi oleh gaya gravitasi.

“Saya pernah membaca tentang hal ini di buku-buku saya,” pikirnya, sambil mengingat bahwa gravitasi adalah kekuatan yang sama yang membuat manusia tetap berdiri di Bumi dan bukannya melayang.

Semakin besar sebuah planet, semakin kuat gravitasinya.

Saat dia mendekati planet itu, Gemma bisa melihat garis lautan dan awan serta matahari yang berkilauan di atas air yang berkilauan.

Tiba-tiba, ia menyadari kegelapan angkasa berubah menjadi langit biru yang indah. Dia telah memasuki atmosfer Bumi!

Dia telah membaca bahwa atmosfer adalah selimut udara yang tebal, setebal lebih dari 100 kilometer yang menyelimuti permukaan planet kita dan memungkinkan semua hewan dan manusia untuk bernapas.

Saat ia menghirup udara, Gemma merasakan dinginnya ruang angkasa mereda. Dia mulai merasa hangat seperti hari di musim panas.

Saat dia berdesak-desakan dan memantul di udara seperti pesawat terbang, dia mulai memancarkan energi dan cahaya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

“Ini pasti gesekan, membuat saya hangat - seperti gesekan ketika saya menggosokkan kedua tangan saya!” pikirnya dalam hati. Banyak gesekan bisa membuat sesuatu bersinar, dan Gemma mulai bersinar semakin terang.

Saat kecepatannya meningkat, Gemma merasa seperti berada di atas roller coaster.

“Wheeeeeeee!!!” teriaknya penuh semangat, saat ia melesat ke arah planet biru, bersinar seperti bintang yang indah dan terang.

Semua anak di Bumi mendongak dan sangat gembira melihat Gemma, si bintang jatuh dari luar angkasa, meluncur turun untuk bergabung dengan mereka di Bumi.

Gemma juga sama bersemangatnya melihat mereka, dan memiliki teman baru di planet Bumi yang indah ini.

Lain kali kalau kalian melihat bintang jatuh, sapa Gemma!

Lisa Harvey-Smith

Australian Government Women in STEM Ambassador, Professor of Practice, UNSW Sydney

Artikel ini tayang di Kompas.com berkat kerja sama dengan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambil dari artikel asli berjudul "Kenapa ada ‘bintang jatuh’?". Isi di luar tanggung jawab Kompas.com.

https://www.kompas.com/sains/read/2024/05/30/110000123/apa-yang-bikin-bintang-jatuh

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com