Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Flu Burung Sebabkan 17.000 Anak Anjing Laut Mati

Kompas.com, 23 Januari 2024, 20:00 WIB
Monika Novena,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lebih dari 17.000 anak anjing laut gajah selatan ditemukan mati di Semenanjung Valdes Argentina.

Jumlah tersebut merupakan 95 persen dari anak anjing laut yang lahir tahun lalu.

Baca juga: Kasus Flu Burung Teridentifikasi di Antartika untuk Pertama Kali

Kematian massal yang mengerikan itu disebabkan oleh virus flu burung H5N1 yang mematikan.

Wabah flu burung secara resmi dikonfirmasi oleh Layanan Kesehatan Hewan Pemerintah Argentina (SENASA).

Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran di kalangan konservasionis dan ilmuwan bahwa virus bisa bermutasi sehingga dapat menular dari mamalia ke mamalia.

"Saya mulai meneliti hewan-hewan ini pada tahun 70an, dan saya belum pernah melihat hal seperti itu," ungkap Claudio Campagna, peneliti konservasi di Wildlife Conservation Society (WCS) di Argentina.

Kematian massal

Mengutip Live Science, Selasa (23/1/2024) dalam makalah yang dipublikasikan 25 Desember 2023 di jurnal Marine Mammal Science, peneliti melaporkan kematian anak anjing laut gajah selatan (Mirounga leonina) pada bulan November 2023.

Anak anjing laut ini biasanya lahir papda bulan September hingga November dan tinggal bersama induknya selama sekitar tiga minggu.

Data lapangan diambil dari tiga wilayah di sepanjang Semenanjung Valdés, yang memiliki garis pantai sekitar 500 kilometer.

"Kami menemukan bahwa lebih dari 95 persen anak anjing di wilayah sampel telah mati, dan kami mengetahui bahwa pada tahun 2022, sekitar 18.000 telah lahir," kata Campagna.

Baca juga: Virus Flu Burung Menyerang Penguin yang Terancam Punah di Afrika

Peneliti belum mengetahui apakah populasi anjing laut gajah dewasa terkena dampak virus ini atau tidak.

Namun, studi mencatat ada 46 kematian anjing laut dewasa di pantai dengan kepadatan tinggi, di mana satu kematian dalam satu tahun jarang terjadi.

Hewan yang terinfeksi menunjukkan gejala neurologis dan pernapasan, seperti kepala gemetar, keluarnya cairan dari hidung, dan kurangnya koordinasi.

Virus yang sama juga bertanggung jawab atas kematian massal lainnya di Amerika Selatan, termasuk ribuan kematian singa laut di Peru, Chile, Argentina, Uruguay, dan Brasil.

Penularan antar mamalia

Sekarang, peneliti mempertimbangkan bagaimana anjing laut bisa tertular flu burung. Ilmuwan sebelumnya berasumsi bahwa mamalia tertular dari kontak dengan burung melalui kotoran atau bangkai mereka yang mati.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau