Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Danau Singkarak Sumatera Barat Diguncang 5 Rentetan Gempa Hari Sabtu

Kompas.com, 28 Januari 2024, 10:36 WIB
Resa Eka Ayu Sartika

Penulis

KOMPAS.com - Area Danau Singkarak, Sumatera Barat diguncang 5 gempa berturut-turut pada Sabtu (27/01/2024).

Rentetan gempa ini terjadi berturut-turut pada pukul 15.15 WIB, 15.42 WIB, 15.45 WIB, 16.41 WIB, dan 23.50 WIB.

Baca juga: Ilmuwan Selidiki Penyebab Gempa Terbesar yang Pernah Terjadi di Mars

Daftar rentetan gempa yang terjadi di Danau Singkarak, Sumatera Barat pada Sabtu (27/01/2024):

  1. M 3,0 pada 15.15 WIB
  2. M 2,8 pada 15.42 WIB
  3. M 3,1 pada 15.45 WIB
  4. M 2,6 pada 16.41 WIB
  5. M 4,4 pada 23.50 WIB.

Menurut rilis yang disebutkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dari kelima gempa tersebut dua guncangan di antaranya dirasakan oleh masyarakat sekitar.

"Gempa ke-3 dan ke-5 guncangannya dirasakan oleh masyarakat dipicu aktivitas sesar aktif di pertemuan segmen sesar Sianok - Sumani," tulis Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG melalui pesan singkat yang diterima Kompas.com pada Minggu (28/01/2024).

Kawasan seismik aktif dan kompleks

Daryono menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks.

"Disebut aktif karena aktivitas kegempaan di sini cukup tinggi," tulis Daryono.

"Disebut kompleks karena kawasan ini merupakan 'pertemuan' segmen sesar Sianok dan Sumani," sambungnya.

Baca juga: Analisis BMKG Gempa Swarm di Kabupaten Bogor

Daryono juga menjelaskan bahwa Danau Singkarak sendiri terbentuk akibat mekanisme pull-apart kedua sesar tersebut.

Sejarah gempa Danau Singkarak

Melansir dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Danau Singkarak juga mencatatkan sejarah gempa besar, bahkan menimbulkan "tsunami" dari air danau.

"Sejarah mencatat pada 28 Juni 1926, di Sumatera Barat diguncang gempa kuat yang diduga kuat pusat gempa berada di Danau Singkarak, Namun gempa ini populer sebagai gempa Padang Panjang. Sebab di Kota Padang Panjang sangat banyak korban berjatuhan," tulis Daryono.

"Peristiwa gempa dahsyat ini juga menyebabkan seiche yaitu tumpahnya air Danau Singkarak ke daratan," imbuhnya.

Dalam gempa tahun 1926 ini memiliki kekuatan M 7,6 yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif, tepatnya segmen Sianok.

Peristiwa yang terjadi 98 tahun silam tersebut, dilaporkan ribuan rumah rusak dan terjadi banyak rekahan tanah di wilayah Padang Panjang. Selain itu, jumlah korban mencapai 350 jiwa.

Gempa ini menimbulkan trauma yang mendalam pada masyarakat Padang Panjang. Bahkan hingga Maret 1927 dilaporkan sebagian besar masyarakat masih tinggal dalam tenda meski pemerintah telah merekonstruksi rumah-rumah mereka dalam kurun waktu 1926-1927.

Baca juga: Analisis BMKG soal Gempa Bumi M 5,7 di Laut Banda

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau