Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Bulu Oranye Kucing Akhirnya Terungkap Setelah 60 Tahun

Kompas.com, 17 April 2025, 14:42 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Setiap kali melihat kucing berbulu oranye yang menggemaskan, banyak dari kita mungkin bertanya-tanya: dari mana asal warna menyala itu? Ternyata, para ilmuwan juga penasaran—selama lebih dari 60 tahun!

Kini, di tahun 2024, pertanyaan itu akhirnya terjawab. Dua tim ilmuwan dari dua negara berbeda berhasil menemukan penyebab utama munculnya bulu oranye pada kucing domestik. Dan kabar baiknya: penjelasannya tidak serumit yang dibayangkan!

Petunjuk dari DNA yang “Diam”

Kucing oranye ternyata memiliki bagian DNA yang hilang di tempat yang sebelumnya dianggap “tidak penting”. Bagian ini tidak membuat protein, tapi rupanya punya peran besar dalam mengatur gen lain.

Menurut Greg Barsh, ahli genetika dari Stanford University, ini adalah misteri yang membingungkan selama bertahun-tahun. Ia dan timnya menemukan bahwa sel kulit pada kucing yang memiliki bulu oranye mengekspresikan RNA dari gen bernama Arhgap36 hingga 13 kali lebih banyak dibandingkan dengan sel kulit dari kucing tanpa bulu oranye.

Awalnya mereka menduga bahwa mutasi terjadi pada bagian pengode protein dari gen ini. Namun ternyata, penyebab utamanya adalah bagian di depan gen tersebut yang mengalami penghapusan (deletion) sepanjang 5 kilobase (5.000 pasangan basa), yang pada akhirnya mempengaruhi cara gen tersebut diekspresikan.

Dalam analisis terhadap 188 kucing—terdiri dari 145 kucing oranye, 6 calico/tortoiseshell, dan 37 kucing non-oranye—setiap kucing oranye terbukti memiliki penghapusan genetik tersebut. Hal ini memberikan bukti kuat bahwa mutasi ini sangat erat kaitannya dengan kemunculan warna oranye pada kucing.

Baca juga: Benarkah Kucing Oranye Cenderung Lebih Agresif Dibanding yang Lain?

Ilustrasi kucing berwarna oranyeUNSPLASH/ALU ZHENG Ilustrasi kucing berwarna oranye

X, Warna, dan Jenis Kelamin

Penemuan ini juga mengungkap mengapa kucing oranye lebih sering berjenis kelamin jantan. Jawabannya ada di kromosom X.

Kucing jantan hanya punya satu kromosom X. Kalau kromosom itu membawa mutasi oranye, maka seluruh tubuhnya akan berbulu oranye. Tapi kucing betina punya dua X. Kalau hanya satu yang membawa mutasi, tubuh mereka jadi campur aduk—ada bagian oranye, hitam, bahkan putih. Pola seperti itu disebut calico atau tortoiseshell, tergantung kombinasi warnanya.

Kenapa bisa begitu? Karena setiap sel tubuh betina memilih satu dari dua kromosom X secara acak untuk “dimatikan”. Jadi, warna bulu pun muncul dari sel mana yang mengekspresikan gen oranye dan mana yang tidak.

Namun, jika kedua X pada betina sama-sama membawa mutasi oranye—yang sangat langka—maka hasilnya adalah betina oranye sepenuhnya. Sebuah kejadian langka, tapi mungkin!

Baca juga: Benarkah Semua Kucing Oranye Pasti Jantan?

Ilustrasi kucing calico.Shutterstock/Mike Pellinni Ilustrasi kucing calico.

Kucing Oranye dan Reputasi Kocaknya

Banyak yang bercanda bahwa kucing oranye itu ‘agak lemot’ dibanding teman-temannya. Tapi secara ilmiah, tak ada bukti bahwa warna bulu memengaruhi kecerdasan. Mutasi ini tidak memengaruhi otak atau kesehatan kucing secara umum. Jadi, kalau si oranye terlihat lebih “nyeleneh”, itu mungkin karena kepribadian uniknya saja!

Baca juga: Alasan Kenapa Kucing Oranye Jantan Berjiwa Petualang, Ini Kata Pakar Inggris

Apa Bedanya Calico dan Tortoiseshell?

Kucing calico dan tortoiseshell sama-sama punya campuran oranye dan hitam. Tapi calico punya tambahan warna putih. Ini karena mutasi lain yang membuat beberapa sel pigmen gagal berkembang, sehingga muncul bercak-bercak putih di tubuh mereka. Jadi, calico bisa dibilang tortoiseshell yang "berbintik putih".

Ilustrasi kucing tortoiseshell Ilustrasi kucing tortoiseshell

Konfirmasi dari Jepang

Temuan dari tim Stanford ternyata sejalan dengan hasil penelitian dari Jepang, dipimpin Hidehiro Toh dari Universitas Kyushu. Mereka juga menemukan bahwa gen Arhgap36 membuat pigmen gelap berubah menjadi pigmen kuning hingga kemerahan—itulah yang membuat bulu kucing jadi jingga menyala.

Akhir dari Misteri Lama

Penemuan ini menunjukkan betapa bagian kecil DNA yang tadinya dianggap “tidak penting” ternyata bisa punya dampak besar pada penampilan hewan. Dari sini, kita belajar bahwa genetika punya banyak kejutan—dan bahwa warna bulu kucing ternyata lebih rumit daripada sekadar hitam atau oranye.

Seperti kata Greg Barsh: "Pengamatan ini memberikan bukti kuat bahwa penghapusan gen kecil di kromosom X adalah penyebab utama warna oranye yang unik itu."

Jadi, lain kali saat melihat kucing oranye melenggang santai di depan rumah, ingatlah bahwa ia adalah hasil dari teka-teki genetik yang butuh enam dekade untuk dipecahkan.

Baca juga: Benarkah Kucing Oranye Betina Langka?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau