Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Susu Kecoa, Superfood Masa Depan yang Mengalahkan Susu Sapi?

Kompas.com, 7 Agustus 2025, 18:15 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Susu sapi dan almond tampaknya akan mendapat saingan baru yang tak terduga: susu kecoa. Meskipun terdengar menjijikkan, temuan ilmiah terbaru membuktikan bahwa zat ini mengandung gizi luar biasa—bahkan jauh melampaui susu kerbau sekalipun.

Penelitian internasional yang dipublikasikan pada 2016 di jurnal IUCrJ mengungkap sesuatu yang mengejutkan dari seekor kecoa kecil bernama Diploptera punctata. Tidak seperti kebanyakan kecoa lainnya, spesies ini tidak bertelur—melainkan melahirkan.

Selama proses perkembangan embrio, induk kecoa ini menghasilkan cairan mirip susu yang mengandung kristal protein sangat padat gizi. Kristal-kristal inilah yang menarik perhatian para ilmuwan.

“Kristal ini adalah ‘makanan lengkap’—mengandung semua asam amino esensial, lemak, dan karbohidrat dalam satu paket,” ujar Sanchari Banerjee, salah satu peneliti dalam studi tersebut.

Baca juga: Bagaimana Kecoa Selamat dari Tumbukan Asteroid yang Membuat Dinosaurus Punah?

Lebih Bergizi dari Susu Kerbau

Yang membuat para ilmuwan takjub adalah kandungan nutrisinya. Per gram, kristal protein ini menyimpan tiga kali lebih banyak energi dibanding susu kerbau, yang selama ini dianggap salah satu jenis susu paling bergizi.

Tidak hanya itu, struktur kristal ini juga sangat unik. Lewat pencitraan sinar-X (X-ray diffraction), ilmuwan menemukan bahwa kristal ini memiliki lipocalin fold (struktur protein tertentu), lipid terikat, dan bentuk glikosilasi yang sangat rapat—membuatnya larut perlahan dalam tubuh dan memberikan energi secara bertahap, bukan sekaligus.

Salah satu keunggulan utama dari kristal susu kecoa ini adalah kemampuan pelepasan energi secara perlahan. Ini berbeda dari suplemen biasa yang langsung terserap dan cepat habis.

“Jika Anda butuh makanan tinggi kalori, pelepasan lambat, dan lengkap—ini jawabannya,” kata Subramanian Ramaswamy, peneliti utama studi tersebut.

Kemampuan ini menjadikannya sangat potensial untuk digunakan dalam situasi ekstrem: mulai dari misi luar angkasa, darurat bencana, hingga nutrisi bagi populasi rawan malnutrisi.

Baca juga: Antibiotik Paling Kuat Kemungkinan Berasal dari Kecoa

Tidak Perlu Memerah Kecoa

Meskipun judul berita "susu kecoa" memancing rasa ingin tahu (dan mungkin mual), memerah kecoa bukanlah hal yang realistis. Dibutuhkan lebih dari 1.000 kecoa untuk menghasilkan hanya 100 gram kristal protein tersebut.

Sebagai gantinya, para ilmuwan kini merekayasa ulang gen penghasil kristal dan mencoba menumbuhkannya dalam sistem mikroba seperti ragi. Jika berhasil, protein ini bisa diproduksi massal tanpa melibatkan kecoa lagi.

Langkah ini membuka jalan bagi hadirnya superfood hasil rekayasa biologis, yang ringkas, bergizi lengkap, dan disesuaikan dengan kebutuhan medis atau demografis tertentu.

Meski padat gizi, kristal susu kecoa belum siap dikonsumsi publik secara luas. Belum ada uji klinis untuk manusia, dan kandungan kalorinya yang tinggi membuatnya kurang cocok untuk diet modern. Satu gelas (250 ml) susu kecoa hipotetis bisa mengandung sekitar 700 kilokalori—hampir sepertiga dari kebutuhan energi harian orang dewasa!

Namun, di bidang tertentu, potensinya sangat menjanjikan: makanan untuk astronot, makanan darurat, atau bahkan sebagai bagian dari terapi gizi untuk malnutrisi.

Dan untuk Anda yang penasaran dengan rasanya? Para peneliti menyatakan bahwa tidak ada rasa khas dari kristal ini—mungkin kabar baik, mengingat asal-usulnya yang cukup ‘alien’.

Baca juga: Kisah Kecoa Temukan Jodoh, dari Antena ke Otak

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau