Penulis
KOMPAS.com - Menentukan kapan sebuah fosil terbentuk sering kali jauh lebih sulit dibanding mengetahui apa hewannya atau di mana ia hidup. Banyak lapisan batuan kaya fosil di seluruh dunia hanya memiliki penanggalan kasar karena tidak adanya “stempel waktu” alami seperti abu vulkanik.
Tanpa usia yang tepat, para ahli kesulitan menyusun garis waktu evolusi, membandingkan ekosistem lintas benua, atau memastikan apakah kepunahan dan perubahan iklim benar-benar terjadi bersamaan. Namun kini sebuah terobosan datang dari tempat yang tak terduga: cangkang telur dinosaurus.
Baca juga: Bagaimana Ilmuwan Memperkirakan Usia Fosil? Ternyata Begini
Tim ilmuwan yang dipimpin Dr. Ryan Tucker dari Stellenbosch University menemukan bahwa fosil cangkang telur dinosaurus dapat berfungsi sebagai “jam internal”. Mereka menggunakan teknik uranium–timah (U–Pb), salah satu standar emas dalam geologi, yang dipadukan dengan high-resolution elemental mapping untuk membaca jejak uranium dan timbal yang terperangkap dalam mineral kalsit pada cangkang telur.
Isotop uranium dan timbal bekerja layaknya jam pasir alami. Uranium secara perlahan meluruh menjadi timbal pada laju yang sangat terukur. Dengan mengetahui perbandingan keduanya, peneliti dapat menghitung usia sejak telur tersebut terkubur dan terisolasi dari lingkungan permukaan.
“Kalsit pada cangkang telur itu sangat serbaguna,” ujar Dr. Tucker. “Metode ini memberi kita cara baru untuk menentukan usia situs fosil yang tidak memiliki lapisan abu vulkanik — sesuatu yang selama puluhan tahun menjadi tantangan besar dalam paleontologi.”
Baca juga: 3 Metode Menentukan Usia Fosil
Untuk menguji teknik ini, para peneliti menganalisis cangkang telur dinosaurus dari dua wilayah berbeda: Utah di Amerika Serikat dan Gurun Gobi di Mongolia. Hasilnya mencengangkan:
Penanggalan presisi ini memberikan konteks penting: perilaku reproduksi dinosaurus—seperti membuat sarang, bertelur, atau mengerami telur—kini dapat ditempatkan dalam momen geologis yang pasti, bukan sekadar perkiraan.
“Penanggalan langsung terhadap fosil adalah impian setiap paleontolog,” ujar Prof. Lindsay Zanno dari North Carolina State University dan Museum Ilmu Pengetahuan Alam Carolina Utara. “Dengan teknik baru ini, kita akhirnya bisa menguak misteri-misteri evolusi dinosaurus yang dulu terasa mustahil dijawab.”
Baca juga: Misteri Fosil Telur Raksasa dari Antartika Terungkap, Mungkinkah Milik Dinosaurus?
Cangkang telur dinosaurus tersusun dari kalsit (kalsium karbonat) yang, saat terbentuk, dapat menyerap atom uranium dalam jumlah sangat kecil. Seiring berjalannya waktu geologis, sebagian uranium tersebut meluruh menjadi timbal. Teknik pemetaan unsur beresolusi tinggi memungkinkan peneliti menemukan zona kalsit yang masih murni, menghindari bagian yang mengalami perubahan kimia (diagenesis), serta memastikan bahwa data yang diambil benar-benar mencerminkan usia asli telur.
Dengan kata lain, setiap cangkang telur menjadi kotak waktu mineral yang menyimpan jejak masa lalu secara elegan.
Baca juga: Tak Seperti yang Dibayangkan, Cangkang Telur Dinosaurus Ternyata Lunak
Karena cangkang telur merupakan objek biologis yang umum ditemukan di lokasi sarang dinosaurus, metode ini menghadirkan jembatan baru antara rekam hayati dan rekam geologis. Teknik ini sangat berguna di area yang miskin lapisan abu vulkanik atau lokasi yang telah sulit ditanggal secara presisi selama puluhan tahun.
Dengan perangkat baru ini, ilmuwan kini dapat menceritakan ulang pola reproduksi dinosaurus dengan konteks waktu yang pasti, menguji hipotesis evolusi dengan lebih akurat, menyusun ulang kronologi migrasi dan penyebaran spesies, sekaligus memahami tempo perubahan ekosistem secara lebih tajam.
Baca juga: Cangkang Telur Ungkap Dinosaurus Ternyata Berdarah Panas, Kok Bisa?
Keberhasilan mencocokkan usia cangkang telur dengan penanggalan abu vulkanik yang sangat presisi membuka peluang besar. Banyak situs fosil klasik, mulai dari sarang-sarang yang terpencar hingga lapisan batu merah tempat telur-telur ditemukan terisolasi, kini bisa diberi tanggal langsung dari fosilnya—sesuatu yang sebelumnya mustahil.
Tentu ada batasan: tak semua cangkang telur mengandung uranium dalam jumlah yang cukup untuk ditanggal, dan beberapa telah terlalu rusak oleh proses geologis. Namun langkah pemetaan unsur membuat tim mampu menyaring bagian-bagian yang masih layak analisis.
Dengan memandang cangkang telur sebagai brankas mineral penyimpan waktu, Tucker dan rekan-rekannya telah memberikan paleontologi sebuah kronometer baru yang sangat berguna—sebuah konvergensi cerdas antara biologi dan geokimia isotop.
Baca juga: Seperti Apa Tekstur Telur Dinosaurus Awal?
Studi lengkapnya dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang