Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Ikan Laut Dalam Berevolusi Menjadi Bentuk-Bentuk Aneh?

Kompas.com, 18 November 2025, 10:34 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Di kedalaman laut yang gelap, dingin, dan bertekanan ekstrem, kehidupan menemukan jalannya sendiri. Dunia tanpa cahaya ini menyimpan makhluk dengan bentuk yang aneh, unik, bahkan tampak tak masuk akal. Sebuah studi baru mengungkap bagaimana ikan-ikan di laut dalam berevolusi selama jutaan tahun—dan mengapa spesies yang hidup di zona kedalaman berbeda akhirnya memiliki bentuk tubuh yang sangat beragam.

Penelitian yang dipimpin oleh Elizabeth Santos dari The Ohio State University ini memeriksa hampir 3.000 spesies ikan laut dalam. Timnya membandingkan bentuk tubuh, habitat, hingga sejarah evolusi masing-masing spesies. Hasilnya menunjukkan satu hal: laut dalam bukanlah dunia yang seragam. Kondisi di dasar laut berbeda drastis dengan perairan terbuka, sehingga mendorong evolusi menuju bentuk tubuh yang sangat berbeda.

Baca juga: Mengenal Ikan Barreleye, Predator Laut Dalam Bermata Tabung

Dua Dunia, Dua Bentuk Tubuh: Pelagis vs Bentik

Santos membagi ikan laut dalam menjadi dua kelompok besar:

  • Pelagis: hidup mengapung di kolom air, jauh dari dasar.
  • Bentuk bentik (benthic): hidup menempel atau dekat dengan dasar laut.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa ikan pelagis memiliki variasi bentuk tubuh paling liar dan beragam—mulai dari anglerfish bulat menyerupai bola, hingga belut panjang seperti pita.

Sebaliknya, ikan bentik justru terlihat lebih seragam: tubuh ramping, meruncing, dan efisien untuk bergerak stabil dekat dasar laut.

“Kami menemukan bahwa evolusi mendorong bentuk tubuh ke arah yang berbeda tergantung apakah ikan itu bentik atau pelagis,” kata Santos. “Kita sering menganggap laut dalam sebagai satu kesatuan, padahal kenyataannya sangat beragam.”

Keanekaragaman ini bermula dari cara mereka bertahan hidup: perairan terbuka menawarkan ruang luas namun minim perlindungan, sementara dasar laut menyediakan struktur tetapi membatasi ruang jelajah. Dua habitat ini membentuk dua jalur evolusi yang benar-benar berbeda.

Baca juga: Mengapa Ikan di Laut Dalam Terlihat Seperti Alien?

Fanfin atau anglerfish berbulu, salah satu hewan yang hidup di laut dalam (Dok. Monterey Bay Aquarium, California)
Ulfa Fanfin atau anglerfish berbulu, salah satu hewan yang hidup di laut dalam (Dok. Monterey Bay Aquarium, California)

Semakin Dalam Hidupnya, Semakin Cepat Ia Berubah

Salah satu temuan paling menarik dari studi ini adalah bahwa semakin dalam seekor ikan hidup, semakin cepat bentuk tubuhnya berevolusi. Namun kecepatan tidak berarti keberagaman.

Ikan bentik berevolusi cepat tetapi tetap mirip satu sama lain. Sedangkan ikan pelagis berevolusi lebih lambat, tetapi menghasilkan bentuk tubuh yang jauh lebih bervariasi.

“Kolonisasi ke zona pelagis dalam tampaknya menjadi rute yang lebih umum untuk menghasilkan keanekaragaman dibanding bentik,” ujar Santos.

Di perairan terbuka, spesies baru terus datang dan bercampur dengan penduduk lama. Ini menciptakan tambalan evolusi yang penuh bentuk tubuh tak berkerabat. Di dasar laut, evolusi berputar di tempat—satu garis keturunan memecah menjadi spesies baru, tetapi tetap dengan bentuk tubuh yang mirip.

Baca juga: Mengapa Banyak Hewan Laut Dalam Berukuran Raksasa?

Hidup Tanpa Cahaya: Energi adalah Segalanya

Mulai kedalaman 200 meter, cahaya matahari hampir hilang total. Tanpa cahaya, tak ada tumbuhan, dan predator harus mengandalkan adaptasi ekstrem untuk bertahan.

Tubuh panjang dan ramping mendominasi di zona ini. Bentuk ini membantu menghemat energi dalam suhu dingin dan air tenang.

Ikan demersal seperti grenadier dan halosaur menggunakan gerakan bergelombang untuk menempuh jarak jauh tanpa mengeluarkan energi besar.

“Di kolom air dalam, Anda tidak akan menemukan banyak perenang kuat,” kata Santos. “Lingkungannya gelap. Banyak ikan hanya melayang dan menunggu makanan datang. Hidup pelagis di laut dalam cocok untuk beragam bentuk tubuh—dari yang gumpal sampai yang sangat ramping.”

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau