Penulis
KOMPAS.com - Perang Rusia-Ukraina bukan hanya menggores peta politik dan menghancurkan infrastruktur. Konflik berkepanjangan ini juga memicu perubahan mengejutkan pada hewan domestik, khususnya anjing. Dalam waktu kurang dari setahun, anjing-anjing yang hidup paling dekat dengan garis depan pertempuran dilaporkan mengalami perubahan fisik dan perilaku yang membuat mereka tampak lebih mirip serigala.
Fenomena ini oleh para peneliti disebut sebagai bentuk “domestikasi terbalik” (reverse domestication), yaitu ketika tekanan lingkungan ekstrem mengikis ciri-ciri hasil ratusan tahun hidup berdampingan dengan manusia.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Evolutionary Applications.
Baca juga: Domestikasi Hewan, Begini Sejarah Manusia Punya Peliharaan
Penelitian yang dipimpin oleh Mariia Martsiv dari Ivan Franko National University of Lviv mendokumentasikan 763 anjing liar dan semi-liar di sembilan wilayah Ukraina.
Hasilnya mencengangkan. Anjing-anjing yang hidup di dekat zona pertempuran aktif menunjukkan kombinasi ciri yang jarang terlihat bersama dalam kondisi normal: telinga tegak, tubuh lebih ramping, moncong lebih panjang, ekor lurus, dan bulu dengan lebih sedikit warna putih.
Perbedaan antara anjing di garis depan dan anjing di wilayah barat Ukraina yang relatif aman sudah tampak jelas dalam periode pengamatan 10 bulan.
Karena perubahan ini terjadi terlalu cepat untuk disebabkan oleh mutasi genetik baru, peneliti menyimpulkan bahwa yang terjadi adalah proses seleksi alam yang brutal—bukan evolusi baru, melainkan penyaringan siapa yang mampu bertahan hidup.
Martsiv menuliskan, “Anjing dengan fenotipe ‘liar’ sebenarnya lebih mungkin bertahan hidup di garis depan: telinga tegak, ekor lurus, bulu lebih sedikit warna putih.”
Baca juga: Hampir Semua Anjing Modern Masih Menyimpan DNA Serigala, Mana yang Terdekat?
Perang memaksa jutaan warga Ukraina mengungsi. Rutinitas yang selama ini menjaga anjing tetap diberi makan dan dipelihara pun runtuh. Banyak hewan peliharaan ditinggalkan di stasiun kereta atau wilayah yang diduduki.
“Sejak awal perang di Ukraina, situasi hewan domestik sangat menyedihkan,” kata Martsiv.
Ketika pemiliknya menghilang, anjing-anjing yang tersisa harus bergantung pada sisa makanan dan belas kasih orang asing. Dalam kondisi kekurangan pangan dan bahaya ledakan, hanya anjing dengan tubuh dan perilaku paling adaptif yang mampu bertahan.
Baca juga: Chernobyl Jadi Laboratorium Evolusi: Apa yang Terjadi pada Anjing Liar?
Perang tidak memberi waktu bagi anjing untuk mengembangkan gen baru. Namun perang menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.
Anjing berhidung pesek (brachycephalic) lebih jarang ditemukan di garis depan. Masalah pernapasan yang umum pada ras berhidung pendek bisa menjadi hambatan fatal saat harus berlari menghindari ledakan. Begitu pula anjing bertubuh sangat panjang atau berkaki pendek yang memiliki keterbatasan gerak.
Seiring waktu, bentuk-bentuk tubuh yang rentan menghilang. Populasi yang tersisa menjadi kurang beragam secara fisik—sebuah kondisi yang bisa menyulitkan pemulihan populasi di masa depan.
Baca juga: 12 Ras Anjing Berisiko Alami Gangguan Pernapasan, Apa Sebabnya?
Penurunan berat badan paling tajam ditemukan di zona perang aktif. Dari analisis perbandingan tinggi dan berat badan, sekitar 82% anjing tergolong sangat kurus dan kekurangan gizi.