Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Makan Pedas Bisa Menurunkan Berat Badan? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 6 Maret 2026, 14:38 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Bagi orang Indonesia, makan sambil berkeringat, wajah memerah, hingga kesulitan berbicara karena kepedasan tentu sudah biasa. Semakin tinggi tingkat kepedasan, semakin dramatis pula reaksinya.

Sensasi tersebut disebabkan oleh capsaicin, senyawa kimia yang terkonsentrasi pada biji dan bagian dalam cabai. Zat inilah yang memberikan rasa pedas khas pada cabai.

Meskipun cabai tidak sampai mematikan, tingkat kepedasan yang ekstrem bisa berdampak serius bagi sebagian orang. Bahkan pada 2024, tiga varian mi instan dari perusahaan Korea Selatan, Samyang, sempat dinilai terlalu pedas oleh otoritas pangan Denmark hingga dianggap berpotensi membahayakan kesehatan.

Namun di balik sensasi panas yang membuat mata berair, cabai ternyata memiliki manfaat kesehatan yang cukup mengejutkan. Salah satunya adalah potensi membantu menjaga berat badan tetap sehat.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa makan cabai saja tidak otomatis membuat seseorang kurus. Ada mekanisme biologis yang menjelaskan bagaimana makanan pedas memengaruhi tubuh.

Baca juga: Makanan Pedas, Cara Sederhana Mengurangi Asupan Kalori

Cabai Bisa Meningkatkan Metabolisme Tubuh

Selama ini beredar mitos tentang makanan “kalori negatif”, yaitu makanan yang konon membakar lebih banyak energi daripada kalori yang dikandungnya. Namun para ahli menyatakan konsep tersebut tidak benar secara ilmiah.

Meski begitu, cabai memang dapat meningkatkan metabolisme tubuh secara sementara.

Menurut Dr. William Li, penulis buku Eat to Beat Your Diet, efek tersebut berasal dari cara capsaicin bekerja pada tubuh.

“Capsaicin mengaktifkan reseptor sel di lidah yang disebut TRPV1. Aktivasi ini tidak hanya menimbulkan sensasi panas, tetapi juga memicu otak melepaskan neurotransmitter bernama norepinefrin,” jelas Dr. Li.

Norepinefrin kemudian memicu serangkaian reaksi biologis yang mengaktifkan lemak cokelat (brown fat) dalam tubuh.

Baca juga: Mengapa Rasa Pedas Cabai Tidak Seragam?

Peran Lemak Cokelat dalam Membakar Energi

Tubuh manusia memiliki dua jenis lemak utama: lemak putih dan lemak cokelat.

Lemak putih adalah jenis lemak yang paling banyak tersimpan di tubuh, terutama di sekitar organ dalam. Lemak ini berfungsi sebagai cadangan energi, tetapi jika berlebihan bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Sebaliknya, lemak cokelat memiliki fungsi metabolik yang unik.

Lemak ini biasanya terdapat di area sekitar leher, di belakang tulang dada, di antara tulang belikat, serta di bagian perut. Berbeda dengan lemak putih, lemak cokelat berperan membantu mengatur suhu tubuh.

Saat suhu tubuh menurun, lemak cokelat akan aktif menghasilkan panas melalui proses yang disebut termogenesis.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau