Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa yang Terjadi Jika Matahari Tiba-Tiba Menghilang dari Tata Surya

Kompas.com, 31 Maret 2026, 09:11 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Sejak terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu, Matahari telah menjadi pusat dari segala dinamika di tata surya—termasuk kehidupan di Bumi. Ia lahir dari runtuhnya awan gas dan debu raksasa yang berputar, lalu memadat hingga suhu di intinya mencapai sekitar 15 juta derajat Celsius. Dari sisa material pembentukan itu, terbentuklah planet-planet, termasuk Bumi.

Sejak awal, Bumi sangat bergantung pada Matahari. Gaya gravitasinya menjaga Bumi tetap berada di orbit yang stabil, tepat di zona layak huni atau Goldilocks zone—jarak yang pas sehingga air bisa tetap cair. Matahari juga menjadi penggerak fotosintesis, siklus air, serta penentu iklim global. Bahkan, sinar ultravioletnya membantu tubuh manusia memproduksi vitamin D yang penting untuk tulang dan gigi.

Karena itu, bayangkan apa yang terjadi jika Matahari tiba-tiba menghilang.

Baca juga: Ternyata Matahari Pernah “Kabur” dari Pusat Bima Sakti, Apa yang Terjadi?

Delapan Menit yang Menipu

Jika Matahari lenyap seketika, manusia tidak akan langsung menyadarinya. Cahaya Matahari membutuhkan waktu sekitar 8 menit 20 detik untuk mencapai Bumi. Selama periode itu, semuanya akan tampak normal.

“Hampir pasti kita tidak akan menyadari bahwa sesuatu telah terjadi,” kata Timothy Cronin, profesor ilmu atmosfer di MIT.

Namun setelah “delay” singkat itu berakhir, perubahan drastis langsung terjadi.

Begitu cahaya Matahari berhenti tiba, Bumi akan masuk ke dalam kegelapan total. Tidak ada lagi siang dan malam. Bulan yang biasanya memantulkan cahaya Matahari akan ikut gelap. Hanya bintang-bintang jauh yang masih terlihat di langit.

Sumber cahaya satu-satunya hanyalah buatan manusia—listrik, api, atau fenomena alami seperti bioluminesensi.

Lebih jauh lagi, hilangnya Matahari berarti hilangnya gaya gravitasi yang selama ini “mengikat” tata surya. Dalam kondisi itu, semua planet, termasuk Bumi, akan terlepas dari orbitnya.

“Semua planet akan melayang mengikuti arah geraknya saat ini,” ujar Cronin.

Namun, bagi manusia, ancaman terbesar bukanlah terlempar ke ruang antarbintang. Dampak yang lebih cepat dan mematikan datang dari runtuhnya sistem kehidupan di Bumi sendiri.

Baca juga: Bumi Ternyata Tidak Mengorbit Matahari, Ini Faktanya

Rantai Kehidupan Mulai Runtuh

Tanpa sinar Matahari, fotosintesis langsung berhenti. Ini berarti tanaman tidak bisa lagi menghasilkan energi, yang kemudian berdampak pada seluruh rantai makanan.

Michael Summers, profesor ilmu planet di George Mason University, menjelaskan bahwa organisme fotosintetik akan segera musnah.

“Sebagian tanaman mungkin bisa ‘tidur’ selama beberapa minggu atau bulan, seperti di musim dingin, tetapi pada akhirnya semuanya akan mati,” katanya.

Tanpa tanaman, hewan kehilangan sumber makanan, dan manusia pun ikut terdampak. Produksi pangan menjadi hampir mustahil dilakukan secara alami.

Jamur mungkin sempat bertahan lebih lama karena dapat memakan materi organik mati yang melimpah. Namun, mereka tetap tidak akan selamat dari suhu ekstrem yang segera menyusul.

Baca juga: Mengapa Matahari Kita Lebih Tenang dari Bintang Lain?

Bumi Membeku dengan Cepat

Perubahan paling cepat terasa adalah suhu yang anjlok drastis. Dalam 24 jam pertama, suhu rata-rata Bumi bisa turun sekitar 20 derajat Celsius. Dalam dua hingga tiga hari, hampir seluruh permukaan Bumi akan berada di bawah titik beku.

Seiring waktu, penurunan suhu akan melambat, tetapi tetap terus berlangsung.

Kolam-kolam kecil akan membeku dalam hitungan hari, sementara danau bisa membeku dalam beberapa minggu hingga bulan. Lautan, karena volumenya yang sangat besar, dapat bertahan dalam bentuk cair lebih lama—bahkan hingga puluhan tahun.

Di beberapa lokasi ekstrem, seperti dasar laut yang memiliki aktivitas vulkanik, air bahkan bisa tetap cair selama miliaran tahun karena panas dari dalam Bumi.

Baca juga: Ternyata Planet Tidak Abadi, Berapa Lama Umurnya Sebelum “Mati”?

Seberapa Dingin Bumi Tanpa Matahari?

Untuk memahami suhu ekstrem ini, ilmuwan membandingkannya dengan Pluto—planet kerdil yang berada sekitar 40 kali lebih jauh dari Matahari dibanding Bumi. Suhu di Pluto saat ini mencapai sekitar minus 240 derajat Celsius.

Namun, Bumi yang kehilangan Matahari akan bergerak semakin jauh ke ruang angkasa, sehingga suhunya bisa menjadi lebih dingin lagi.

Meski begitu, suhu tidak akan mencapai nol mutlak. Sisa panas dari Big Bang masih menyelimuti alam semesta.

“Bahkan objek yang sangat jauh dari bintang tetap beberapa derajat di atas nol mutlak,” jelas Summers. Suhu radiasi latar kosmik sendiri berada di sekitar minus 270 derajat Celsius, sedikit lebih hangat dibanding nol mutlak.

Baca juga: Berapa Jumlah Minimum Manusia yang Dibutuhkan untuk Bertahan dari Kiamat?

Apakah Manusia Bisa Bertahan?

Dalam kondisi seperti ini, peradaban manusia hampir pasti akan runtuh. Namun secara teoretis, sebagian kecil manusia mungkin bisa bertahan.

“Manusia bisa saja bertahan di bawah tanah, memanfaatkan energi panas bumi atau nuklir, dengan tanaman yang ditanam menggunakan cahaya buatan,” kata Cronin.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa ini tetap merupakan bencana global yang luar biasa.

“Ini akan menjadi peristiwa kepunahan yang membuat semua peristiwa lain tampak kecil.”

Makhluk yang Mungkin Selamat

Di tengah kehancuran besar ini, ada beberapa bentuk kehidupan yang mungkin mampu bertahan.

Salah satunya adalah tardigrada, atau yang sering disebut “beruang air”. Makhluk mikroskopis ini dikenal sangat tahan terhadap kondisi ekstrem, termasuk radiasi dan lingkungan tanpa air.

“Mereka sangat sulit dimatikan,” kata Summers.

Selain itu, mikroorganisme yang hidup di dasar laut juga berpeluang bertahan. Mereka tidak bergantung pada fotosintesis, melainkan menggunakan chemosynthesis—memanfaatkan energi kimia dari batuan dan mineral.

Baca juga: Begini Prediksi Para Ahli Bila Kiamat Terjadi

Apakah Ini Akan Terjadi?

Kabar baiknya, skenario Matahari menghilang secara tiba-tiba hampir mustahil terjadi.

Namun, Matahari tetap memiliki siklus hidup. Sekitar 5 miliar tahun lagi, ia akan kehabisan bahan bakar dan mengembang menjadi raksasa merah. Dalam fase ini, Merkurius dan Venus akan tertelan, dan Bumi kemungkinan mengalami nasib serupa.

Bahkan sebelum itu, peningkatan panas Matahari diperkirakan akan menguapkan seluruh lautan Bumi dalam waktu sekitar 1 miliar tahun ke depan.

Meskipun terdengar seperti cerita fiksi ilmiah, mempelajari kemungkinan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana bintang bekerja dan bagaimana alam semesta berevolusi.

“Semakin kita memahami bintang dan bagaimana mereka berubah, kita semakin memahami alam semesta,” kata Summers.

Pada akhirnya, skenario ini mengingatkan satu hal penting: kehidupan di Bumi sangat bergantung pada keseimbangan yang rapuh—dan Matahari adalah pusat dari semuanya. Tanpanya, dunia yang kita kenal akan lenyap dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Baca juga: Berubah Dramatis, Bintang Raksasa di Galaksi Tetangga Bakal Meledak

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau