WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan negaranya kemungkinan akan mengakhiri serangan militer terhadap Iran dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (31/3/2026), di tengah konflik yang telah memasuki minggu kelima dan menimbulkan korban jiwa serta dampak ekonomi global.
“Kami akan segera keluar. Mungkin dalam dua minggu, bisa juga dua sampai tiga minggu,” ujar Trump, dikutip dari CNN.
Ia juga menegaskan bahwa penghentian operasi militer tidak bergantung pada tercapainya kesepakatan dengan Iran.
“Iran tidak harus membuat kesepakatan, tidak. Mereka tidak harus membuat kesepakatan dengan saya," katanya.
Pernyataan ini mencerminkan sikap Washington yang dinilai berubah-ubah terkait bagaimana konflik tersebut akan diakhiri.
Faktanya, Trump mengatakan demikian setelah muncul aksi demo besar-besaran bertajuk "No Kings" yang digelar di 3.300 titik di kota-kota AS pada Sabtu (28/3/2026) lalu.
Warga AS menuntut Trump termasuk untuk mengakhiri perang dengan Iran. Salah seorang demonstran dan veteran dari New York City, Ken Wyben, mengatakan serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran menunjukkan bahwa Trump sudah berada di luar kendali.
"Kita memiliki presiden yang di luar kendali. Semua perang yang pernah saya ikut dan saya telah mengikuti dua perang, kami merencanakannya dengan lebih baik," kata dia, Senin (30/3/2026).
Opsi diplomasi masih dibuka
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan Trump tetap membuka peluang kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Menurut Hegseth, pembicaraan masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif. Namun, AS juga siap melanjutkan operasi militer jika Iran tidak memenuhi tuntutan.
“Kami memiliki semakin banyak opsi, sementara mereka semakin terbatas. Dalam satu bulan, kami sudah menetapkan arah. Hari-hari ke depan akan menjadi penentu,” ujar Hegseth.
Iran ancam perusahaan AS
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Iran melalui Korps Garda Revolusi mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di kawasan.
Beberapa perusahaan yang disebut antara lain Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, hingga Boeing.
Sebagaimana dilansir Reuters, ancaman tersebut disebut akan mulai berlaku pada Rabu (1/4/2026) pukul 20.00 waktu Teheran.
Menanggapi hal itu, Trump mengaku tidak khawatir.
“Mereka tidak punya banyak yang tersisa untuk diancam,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan dirinya menerima pesan langsung dari utusan khusus AS, Steve Witkoff. Namun, ia menegaskan komunikasi tersebut belum dapat disebut sebagai negosiasi resmi.
Trump juga mengkritik negara-negara yang dinilai tidak mendukung operasi militer AS, termasuk Inggris.
Ia bahkan menyarankan negara-negara tersebut membeli energi dari AS atau mengambil langkah sendiri untuk mengatasi krisis pasokan bahan bakar global.
Sementara itu, beberapa sekutu Eropa seperti Perancis dan Italia dilaporkan menolak sebagian operasi militer AS dan Israel, yang menunjukkan adanya perbedaan sikap di antara anggota NATO.
Serangan berlanjut di sejumlah wilayah
Di lapangan, konflik masih terus berlangsung tanpa tanda mereda. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut militer AS terus menyerang fasilitas produksi dan riset strategis Iran.
Ia juga mengeklaim lebih dari 150 kapal angkatan laut Iran telah dihancurkan.
Serangan juga meluas ke berbagai wilayah. Ledakan dilaporkan terjadi di Beirut, sementara Damaskus dilaporkan mencegat rudal Iran melalui sistem pertahanan udara.
Di Iran, sejumlah fasilitas strategis turut menjadi sasaran, termasuk pelabuhan Bushehr serta kawasan industri di Isfahan.
Namun, laporan di lapangan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Dampak ekonomi mulai terasa, termasuk di AS
Perang Iran juga mulai berdampak pada ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga energi.
Di AS, harga rata-rata bensin nasional dilaporkan menembus 4 dollar AS per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.
Kondisi ini menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar dua pertiga warga Amerika menginginkan pemerintah segera mengakhiri keterlibatan dalam perang, meskipun target awal belum sepenuhnya tercapai.
https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/01/071500965/usai-demo-no-kings-pecah-trump-kini-bilang-as-bisa-akhiri-perang-iran-dalam