KOMPAS.com - Kedai kopi di sebuah museum bertema serangga di Beijing, China, menjadi perbincangan setelah menjual minuman unik yang ditaburi bubuk kecoak di permukaannya.
Minuman yang dicampur bubuk serangga dan cacing tepung kering itu viral karena dianggap ekstrem, meski pihak museum meyakinkan bahwa bahan-bahannya aman dikonsumsi.
Inovasi kopi tersebut dijual seharga 45 yuan (sekitar Rp 105 ribu) per cangkir.
Baca juga: Ramai Diperbincangkan, Kenapa Harga Kopi Americano di Daerah Jauh Lebih Murah dari Jakarta?
Dilansir dari SCMP, Rabu (19/11/2025), museum mulai menjual kopi kecoak sejak akhir Juni dan popularitasnya melonjak setelah ramai di internet.
Seorang staf menyebut minuman itu dibuat agar selaras dengan tema museum yang menampilkan koleksi serangga.
"Sebagai museum bertema serangga, sepertinya ide yang bagus untuk memiliki minuman yang cocok," ujar dia.
Selain bubuk kecoak, kopi tersebut juga dicampur cacing tepung kuning yang dikeringkan. Peminum menggambarkan rasanya seperti “gosong dan agak asam”.
Cacing tepung adalah istilah umum untuk larva dari kumbang jenis Tenebrio molitor, yang sebenarnya bukan cacing, melainkan serangga.
Museum juga menawarkan minuman eksperimental lain, termasuk kopi yang dicampur cairan pencernaan tumbuhan kantong semar (tanaman insektivora) dan kopi edisi Halloween yang menggunakan semut.
Staf mengatakan bahan-bahan tersebut dibeli dari toko ramuan pengobatan tradisional China (TCM) sehingga dianggap aman.
Dalam teori TCM, bubuk kecoak dipercaya dapat membantu sirkulasi darah, sementara cacing tepung dianggap baik untuk kekebalan tubuh.
Staf menyebut minuman berbahan semut terasa asam, sedangkan minuman kantong semar rasanya menyerupai kopi biasa.
Baca juga: 10 Karakter Seseorang yang Tersirat dari Caranya Memesan Kopi
Menurut staf, museum umumnya menjual lebih dari 10 cangkir kopi kecoak setiap hari, dikutip dari The Straits Times, Kamis (20/11/2025).
Dia menyebut minuman ini paling diminati anak muda yang penasaran dan mencari pengalaman baru.
Sementara itu, orang tua yang berkunjung bersama anak cenderung menolak pesan karena tidak menyukai keberadaan kecoak dalam minuman mereka.