Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Andri Yudhi Supriadi
Pegawai Negeri Sipil

Statistisi Ahli Madya BPS

Negeri dalam Pola Sembilan: Indonesia di Antara Tumbuh dan Tertinggal

Kompas.com, 26 Februari 2026, 10:42 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

ADA yang tampak sederhana dari tabel perkalian 9. Digit depan naik satu per satu, digit belakang turun perlahan, tetapi jumlahnya selalu kembali ke angka yang sama. Simetris, stabil, dan nyaris puitis. Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi sebuah metafora yang relevan untuk membaca perjalanan Indonesia dulu, sekarang, dan masa depan.

Indonesia tidak kekurangan angka pertumbuhan. Selama dua dekade terakhir, kita terbiasa membaca berita tentang ekonomi yang stabil, kelas menengah yang membesar, dan infrastruktur yang meluas. Dari luar, grafiknya tampak menanjak. Tetapi seperti pola perkalian 9, setiap kenaikan sering disertai penurunan di sisi lain.

Pertanyaannya: apakah kita benar-benar bertumbuh secara utuh, atau sekadar bergeser angka?

Fondasi yang Tumbuh Pelan

Jika menoleh ke masa lalu, Indonesia bergerak seperti deret awal perkalian 9, pelan, bertahap, namun konsisten. Fokus pembangunan saat itu adalah membuka akses: jalan dibangun, sekolah diperbanyak, kemiskinan ditekan. Strategi ini berhasil mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan absolut.

Namun fondasi yang dibangun bersifat kuantitatif. Banyak sekolah berdiri, tetapi kualitas pembelajaran belum merata. Infrastruktur meluas, tetapi produktivitas belum melonjak signifikan. Ekonomi tumbuh, tetapi masih bertumpu pada komoditas. Di fase ini, “digit depan” Indonesia memang naik. Tetapi “digit belakang”—kualitas, pemerataan, dan daya saing—belum sepenuhnya mengimbanginya.

Indonesia Hari Ini: Simetri yang Tegang

Masuk ke periode sekarang, Indonesia berada di titik yang lebih kompleks. Ekonomi digital berkembang pesat, urbanisasi meningkat, dan bonus demografi mulai terasa. Secara nominal, kita tampak melaju. Namun di saat yang sama, sejumlah sinyal peringatan muncul bersamaan:

  • produktivitas tenaga kerja tumbuh lebih lambat dari potensinya
  • kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah masih lebar
  • mismatch antara pendidikan dan kebutuhan industri terus berulang
  • sebagian talenta terbaik justru melihat peluang lebih besar di luar negeri

Di sinilah metafora perkalian 9 menjadi terasa nyata. Puluhan terus naik—PDB membesar, proyek infrastruktur bertambah, penetrasi digital meluas. Tetapi satuan diam-diam turun dalam bentuk kualitas pembelajaran yang timpang, kedalaman inovasi yang terbatas, dan daya saing SDM yang belum merata. Indonesia hari ini bukan kekurangan pertumbuhan. Kita sedang menghadapi persoalan yang lebih subtil: kualitas dari pertumbuhan itu sendiri.

Ilusi Angka Besar

Dalam banyak diskusi kebijakan, kita masih terlalu terpikat pada angka agregat. Pertumbuhan sekian persen terasa menggembirakan. Jumlah startup meningkat dianggap kemajuan. Panjang jalan tol bertambah dipandang sebagai lompatan besar. Padahal, seperti pelajaran dari angka 9, yang penting bukan hanya kenaikan di depan, tetapi keseimbangan keseluruhan.

Negara bisa saja:

  • ekonominya besar tetapi produktivitas stagnan
  • akses pendidikan luas tetapi kualitas rendah
  • penetrasi internet tinggi tetapi literasi digital dangkal

Jika itu terjadi, kita sedang menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai ilusi kemajuan—angka tampak naik, tetapi daya dorong jangka panjang belum tentu menguat.

Masa Depan: Ujian Bonus Demografi

Dekade ke depan akan menjadi momen paling menentukan. Indonesia memasuki puncak bonus demografi, jendela peluang yang tidak datang dua kali. Dalam bahasa sederhana, ini adalah fase ketika “puluhan” berpotensi melonjak cepat. Tetapi sejarah banyak negara menunjukkan: bonus demografi bukan jaminan otomatis.

Tanpa kualitas SDM yang kuat, ia justru bisa berubah menjadi beban demografi. Risikonya nyata:

  • jika pendidikan tidak menghasilkan skill relevan maka pengangguran terdidik naik
  • jika digitalisasi tak diiringi produktivitas maka ekonomi tumbuh dangkal
  • jika industrialisasi tak berbasis inovasi maka kita terjebak di kelas menengah

Di titik ini, Indonesia sedang diuji: apakah kita mampu menjaga “jumlah tetap sembilan”—yakni keseimbangan antara pertumbuhan kuantitas dan kualitas.

Dari Mengejar ke Menyempurnakan

Mungkin inilah saatnya menggeser paradigma pembangunan. Selama ini kita sangat kuat dalam logika mengejar: mengejar pertumbuhan, mengejar infrastruktur, mengejar angka partisipasi.

Ke depan, tantangannya berbeda: menyempurnakan kualitas. Artinya bukan hanya memperbanyak sekolah, tetapi memastikan belajar terjadi, bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi menaikkan produktivitas, dan  bukan hanya memperluas digitalisasi, tetapi memperdalam kapabilitas

Negara-negara yang berhasil melompat kelas bukan yang paling cepat tumbuh di awal, melainkan yang paling konsisten memperbaiki kualitas manusianya.

Perkalian 9 memberi pelajaran sederhana namun tajam: perubahan itu pasti, tetapi keseimbangan tidak otomatis terjadi. Ia harus dijaga secara sadar. Indonesia boleh—dan memang harus—terus menumbuhkan angka di depan. Tetapi pada saat yang sama, kita tidak boleh lengah terhadap angka di belakang: kualitas manusia, kedalaman inovasi, dan pemerataan kesempatan.

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi grafik kita menanjak, melainkan oleh satu pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah ketika angka-angka itu dijumlahkan, total kekuatan bangsa ini benar-benar bertambah? Jika jawabannya ya, kita sedang berada di jalur yang tepat. Jika belum, mungkin sudah waktunya kita membaca ulang—bukan tabel perkalian, tetapi arah pembangunan kita sendiri.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Terkini Lainnya
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau