
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
ADA yang tampak sederhana dari tabel perkalian 9. Digit depan naik satu per satu, digit belakang turun perlahan, tetapi jumlahnya selalu kembali ke angka yang sama. Simetris, stabil, dan nyaris puitis. Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi sebuah metafora yang relevan untuk membaca perjalanan Indonesia dulu, sekarang, dan masa depan.
Indonesia tidak kekurangan angka pertumbuhan. Selama dua dekade terakhir, kita terbiasa membaca berita tentang ekonomi yang stabil, kelas menengah yang membesar, dan infrastruktur yang meluas. Dari luar, grafiknya tampak menanjak. Tetapi seperti pola perkalian 9, setiap kenaikan sering disertai penurunan di sisi lain.
Pertanyaannya: apakah kita benar-benar bertumbuh secara utuh, atau sekadar bergeser angka?
Jika menoleh ke masa lalu, Indonesia bergerak seperti deret awal perkalian 9, pelan, bertahap, namun konsisten. Fokus pembangunan saat itu adalah membuka akses: jalan dibangun, sekolah diperbanyak, kemiskinan ditekan. Strategi ini berhasil mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan absolut.
Namun fondasi yang dibangun bersifat kuantitatif. Banyak sekolah berdiri, tetapi kualitas pembelajaran belum merata. Infrastruktur meluas, tetapi produktivitas belum melonjak signifikan. Ekonomi tumbuh, tetapi masih bertumpu pada komoditas. Di fase ini, “digit depan” Indonesia memang naik. Tetapi “digit belakang”—kualitas, pemerataan, dan daya saing—belum sepenuhnya mengimbanginya.
Masuk ke periode sekarang, Indonesia berada di titik yang lebih kompleks. Ekonomi digital berkembang pesat, urbanisasi meningkat, dan bonus demografi mulai terasa. Secara nominal, kita tampak melaju. Namun di saat yang sama, sejumlah sinyal peringatan muncul bersamaan:
Di sinilah metafora perkalian 9 menjadi terasa nyata. Puluhan terus naik—PDB membesar, proyek infrastruktur bertambah, penetrasi digital meluas. Tetapi satuan diam-diam turun dalam bentuk kualitas pembelajaran yang timpang, kedalaman inovasi yang terbatas, dan daya saing SDM yang belum merata. Indonesia hari ini bukan kekurangan pertumbuhan. Kita sedang menghadapi persoalan yang lebih subtil: kualitas dari pertumbuhan itu sendiri.
Dalam banyak diskusi kebijakan, kita masih terlalu terpikat pada angka agregat. Pertumbuhan sekian persen terasa menggembirakan. Jumlah startup meningkat dianggap kemajuan. Panjang jalan tol bertambah dipandang sebagai lompatan besar. Padahal, seperti pelajaran dari angka 9, yang penting bukan hanya kenaikan di depan, tetapi keseimbangan keseluruhan.
Negara bisa saja:
Jika itu terjadi, kita sedang menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai ilusi kemajuan—angka tampak naik, tetapi daya dorong jangka panjang belum tentu menguat.
Dekade ke depan akan menjadi momen paling menentukan. Indonesia memasuki puncak bonus demografi, jendela peluang yang tidak datang dua kali. Dalam bahasa sederhana, ini adalah fase ketika “puluhan” berpotensi melonjak cepat. Tetapi sejarah banyak negara menunjukkan: bonus demografi bukan jaminan otomatis.
Tanpa kualitas SDM yang kuat, ia justru bisa berubah menjadi beban demografi. Risikonya nyata:
Di titik ini, Indonesia sedang diuji: apakah kita mampu menjaga “jumlah tetap sembilan”—yakni keseimbangan antara pertumbuhan kuantitas dan kualitas.
Mungkin inilah saatnya menggeser paradigma pembangunan. Selama ini kita sangat kuat dalam logika mengejar: mengejar pertumbuhan, mengejar infrastruktur, mengejar angka partisipasi.
Ke depan, tantangannya berbeda: menyempurnakan kualitas. Artinya bukan hanya memperbanyak sekolah, tetapi memastikan belajar terjadi, bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi menaikkan produktivitas, dan bukan hanya memperluas digitalisasi, tetapi memperdalam kapabilitas
Negara-negara yang berhasil melompat kelas bukan yang paling cepat tumbuh di awal, melainkan yang paling konsisten memperbaiki kualitas manusianya.
Perkalian 9 memberi pelajaran sederhana namun tajam: perubahan itu pasti, tetapi keseimbangan tidak otomatis terjadi. Ia harus dijaga secara sadar. Indonesia boleh—dan memang harus—terus menumbuhkan angka di depan. Tetapi pada saat yang sama, kita tidak boleh lengah terhadap angka di belakang: kualitas manusia, kedalaman inovasi, dan pemerataan kesempatan.
Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi grafik kita menanjak, melainkan oleh satu pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah ketika angka-angka itu dijumlahkan, total kekuatan bangsa ini benar-benar bertambah? Jika jawabannya ya, kita sedang berada di jalur yang tepat. Jika belum, mungkin sudah waktunya kita membaca ulang—bukan tabel perkalian, tetapi arah pembangunan kita sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang