KOMPAS.com - Hari raya Idul Fitri atau Lebaran identik dengan kumpul bersama keluarga besar.
Meski demikian, tak jarang ada beberapa orang yang justru menghindari momen tersebut. Sebab, mereka kurang nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti, "Kapan nikah?".
Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin terdengar basa-basi. Tapi bagi mereka yang sudah terlalu sering menerima pertanyaan tersebut umumnya akan merespons dengan cara yang berbeda.
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal mengatakan, sebelum merespons pertanyaan "Kapan nikah", disarankan untuk memahami lebih dalam apa maksud pertanyaan tersebut. Dengan begitu, Anda bisa meresponsnya dengan cara yang elegan dan tenang.
"Sebelum merasa tersinggung, penting untuk memahami motif penanya dari sudut pandang psikologis," kata Danti, saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (18/3/2026).
Lantas, apa alasan psikologis seseorang menanyakan kapan menikah kepada sanak saudaranya?
Baca juga: Sudah Siap dengan Pertanyaan Kapan Menikah dan Kapan Punya Anak? Ini Cara Menjawabnya
Berikut ini analisis mengapa seseorang bertanya kapan menikah:
Danti mengatakan, banyak anggota keluarga, terutama generasi tua tidak memiliki keterampilan komunikasi yang variatif.
Oleh sebab itu pertanyaan klise yang dilontarkan adalah "naskah sosial" paling aman bagi mereka untuk memulai percakapan, meskipun bagi kita itu terasa intrusif.
Menurut Danti, orang menanyakan hal tersebut karena bagi mereka, indikator kebahagiaan dan kesuksesan adalah hal-hal normatif itu.
"Mereka memproyeksikan standar hidup mereka kepada Anda," kata Danti.
Sering kali, pertanyaan "Kapan menikah?" adalah upaya canggung untuk menunjukkan perhatian.
Mereka ingin merasa terlibat dalam hidup Anda, namun tidak tahu cara lain selain menanyakan hal-hal yang bersifat pencapaian.
Baca juga: Sudah Siapkah dengan Pertanyaan Kapan Menikah dan Kapan Punya Anak? Begini Saran Psikolog
Danti menjelaskan, ada 4 cara menjawab pertanyaan kapan menikah yang diucapkan pada saat kumpul keluarga di momen Lebaran.
Berikut penjelasannya:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya