Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG: 7 Wilayah Mulai Masuk Musim Kemarau April 2026, Didominasi Jawa dan Nusa Tenggara

Kompas.com, 30 Maret 2026, 12:30 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Tri Indriawati

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, awal musim kemarau tahun ini umumnya berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menuju Angin Timuran (Monsun Australia).

"Dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, terdapat 114 ZOM (16,3 persen) yang akan memasuki musim kemarau pada April 2026," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Secara umum, kata dia, musim kemarau 2026 diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya, serta sebagian lainnya berada pada kondisi normal.

BMKG mencatat sebanyak 451 ZOM (64,5 persen) akan mengalami kondisi lebih kering, sementara 245 ZOM (35,1 persen) diperkirakan normal.

Namun, terdapat 3 ZOM (0,4 persen) yang diprediksi mengalami kondisi atas normal atau lebih basah dari biasanya, yakni di Gorontalo bagian utara dan selatan serta sebagian kecil Sulawesi Tenggara.

Sebaliknya, wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih kering tersebar luas, mulai dari sebagian Sumatera, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Lantas, mana saja wilayah yang sudah mulai masuk musim kemarau 2026?

Baca juga: Musim Kemarau 2026 Bakal Lebih Panjang, Dimulai April?


Wilayah yang masuk musim kemarau 2026

Ardhasena mengungkapkan, wilayah yang mulai memasuki musim kemarau pada April 2026 meliputi:

  1. Pesisir utara Jawa bagian barat
  2. Sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur
  3. Sebagian kecil Bali
  4. Sebagian besar Nusa Tenggara Barat (NTB)
  5. Sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT)
  6. Sebagian kecil Kalimantan Selatan
  7. Sebagian kecil Sulawesi Selatan

Memasuki Mei 2026, jumlah wilayah yang masuk musim kemarau diperkirakan bertambah menjadi 184 ZOM (26,3 persen). Wilayahnya mencakup:

  • Sebagian Sumatera
  • Jawa bagian barat
  • Sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur
  • Bali
  • Sebagian NTB
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku
  • Sebagian wilayah Papua

Sementara itu, pada Juni 2026, sebanyak 163 ZOM (23,3 persen) diprediksi mulai mengalami musim kemarau. Wilayahnya meliputi:

  • Sebagian besar Sumatera
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku
  • Sebagian wilayah Papua

"Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologinya (periode 1991–2020), awal musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi lebih maju pada 325 ZOM (46,5 persen), sama pada 173 ZOM (24,7 persen), dan mundur pada 72 ZOM (10,3 persen)."

Wilayah yang diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat antara lain sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu, sebagian besar wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Kalimantan dan Sulawesi juga termasuk dalam kategori ini, serta sebagian Maluku dan Papua.

Baca juga: BMKG: 18 Wilayah Berpotensi Dilanda Banjir Rob 29 Maret–16 April 2026, Ini Daftarnya

Kapan puncak musim kemarau 2026?

Ardhasena menjelaskan, puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi secara bertahap.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau