Editor
KOMPAS.com - Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran (perang Iran) mulai berdampak pada sektor pangan global, terutama pada pasokan pupuk berbasis nitrogen.
Negara-negara Teluk selama ini menjadi produsen penting pupuk berbasis nitrogen yang menopang kebutuhan pertanian dunia.
Gangguan distribusi akibat konflik tersebut berpotensi memicu ketidakstabilan pasokan pupuk dan berimbas pada keamanan pangan global.
Baca juga: Sudah Turun, Ini Daftar Harga Pupuk Subsidi 2026
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof Subejo, menyebut perang di Timur Tengah berisiko menimbulkan kelangkaan bahan baku pupuk kimia.
Ia menjelaskan bahwa sebagian bahan pupuk kimia masih bergantung pada impor sehingga rentan terdampak gejolak geopolitik.
“Kalau misalnya pupuk organik, kemudian pupuk hayati sesungguhnya tidak tergantung impor, tetapi kalau pupuk kimia memang sebagian bahannya harus impor,” ujar Subejo dikutip dari laman UGM, Senin (30/3/2026).
Subejo menilai gangguan distribusi bahan baku pupuk akan menjadi masalah serius jika berlangsung dalam jangka panjang.
Keterlambatan pasokan berpotensi memengaruhi ketersediaan pupuk pada musim tanam berikutnya.
Pemerintah saat ini dinilai masih memiliki cadangan pupuk untuk musim tanam berjalan.
Ancaman baru diperkirakan muncul pada periode tanam pertengahan tahun, sekitar Juni hingga Juli.
“Mungkin untuk masa penanaman Juli atau Juni itu yang saya kira yang berisiko, kalau distribusi bahan bakunya tidak lancar,” jelasnya.
Baca juga: Pupuk Lebih Murah, Akses Kian Mudah, Petani Tuai Bungah
Kondisi tersebut dapat menghambat produktivitas pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini.
Subejo juga mengingatkan bahwa kebutuhan pupuk non-organik tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh pupuk organik.
Penurunan pasokan hingga 50 persen disebut berpotensi mengganggu produksi pangan nasional.
Di tengah risiko tersebut, Subejo melihat peluang untuk memperkuat produksi pupuk dalam negeri.