Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
IdeAksi
IdeAksi adalah platform kolaboratif insan pelajar dan sivitas akademika untuk berbagi ide, menyalurkan inovasi, menunjukkan aksi nyata, serta merayakan prestasi. Di sinilah ruang generasi muda berkumpul, saling menginspirasi, berkolaborasi, dan menciptakan perubahan.

Dari Stigma ke Arah Baru: Akademisi Tawarkan Solusi Transformasi Payo Sigadung

Kompas.com, 22 November 2025, 06:49 WIB
Ayunda Pininta Kasih

Editor Travel & Food

Penulis: Moammar Dauftsell
Mahasiswa S1 Universitas Airlangga

KOMPAS.com – Penutupan lokalisasi Payo Sigadung pada 13 Oktober 2014 lalu menjadi salah satu keputusan penting Pemerintah Kota Jambi dalam upaya memberantas prostitusi.

Saat itu, Wali Kota Jambi SY Fasha menegaskan bahwa pertimbangan moral dan nilai agama menjadi dasar utama penutupan, yang juga diperkuat Perda Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pemberantasan Prostitusi.

Menurut Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Moammar Dauftsell, penutupan semacam ini tak bisa hanya berhenti pada membubarkan aktivitas prostitusi. Ia menilai, tanpa solusi jangka panjang, kebijakan tersebut justru dapat melahirkan persoalan sosial baru yang lebih kompleks.

Baca juga: Mendikti Brian Kaget Ada Mahasiswa Hidup dengan Rp 400.000 Per Bulan

Seakan Hanya Tembok yang Dihancurkan

Moammar menilai pemerintah kerap melihat Payo Sigadung hanya sebagai “lokasi” yang perlu ditutup. Padahal di dalamnya terdapat ekosistem sosial yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Menurutnya, sebagian besar pekerja seks komersial (PSK) di sana bukanlah pelaku yang mencari gaya hidup mewah. Banyak yang terjebak dalam tekanan ekonomi: melunasi hutang keluarga, membiayai pendidikan anak, atau sekadar bertahan hidup di tengah minimnya kesempatan kerja.

“Mereka bukan perusak moral sosial. Mereka adalah warga yang termarjinalkan dari kegagalan negara memastikan kesejahteraan,” ujarnya dalam tulisan gagasannya.

Karena itu, Moammar menekankan perlunya program pemulihan pascapenutupan—mulai dari pemulihan stigma, kesehatan, hingga ekonomi.

Moammar mengingatkan, jika pemulihan ekonomi dan sosial tidak diperhatikan, praktik prostitusi tak serta-merta hilang. Bahkan justru bisa berpindah ke ruang-ruang gelap yang sulit dipantau, seperti jalanan, pedesaan, atau area tambang.

Situasi itu, kata Moammar, membuat PSK semakin rentan dan tak terlindungi oleh sistem apa pun.

Baca juga: SMA Taruna Nusantara Kini Berlakukan Beasiswa Penuh: Bebas Uang Pangkal dan SPP

Kisah M: Bertahan Karena Ekonomi, Lalu Mencari Jalan Pulang

Salah satu kisah yang dibagikan Moammar datang dari seorang mantan PSK, sebut saja M. Perempuan 32 tahun itu masuk ke dunia prostitusi pada usia 19 tahun karena dorongan kemiskinan. Ayahnya mengalami stroke, ia putus sekolah, dan pekerjaan sebagai buruh tak cukup untuk hidup.

Selama lebih dari 10 tahun, M bekerja sebagai PSK—bahkan setelah Payo Sigadung ditutup. Ia sering kucing-kucingan dalam razia. Kini, M memutuskan berhenti dan mencoba membangun hidup baru. Namun ia masih kesulitan membiayai dua anak kembarnya.

“Kita sangat dukung penutupan total, tetapi kami berharap ada pekerjaan atau modal untuk membuka usaha,” kata M kepada Moammar.

Wiwin dan Upaya Menghidupkan Payo Sigadung Lagi

Di tengah perubahan besar itu, muncul sosok warga bernama Wiwin, Ketua RT 05 Payo Sigadung. Ia menjadi motor gerakan perubahan agar kawasan tersebut lepas dari stigma kelamnya. Wiwin menggerakkan berbagai kegiatan, dari pengajian, lomba boxing, hingga menghadirkan pekerja seni.

Namun, perjuangan itu tak mudah. Wiwin mencari sendiri cara memberi pekerjaan bagi eks PSK, meski jumlah mereka mencapai 144 orang sebelum penutupan total. Mereka dahulu hidup dalam kontrol ketat mucikari, terjerat hutang, dan sulit keluar dari lingkaran yang mengungkung.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau