Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyatakan kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak darurat jika konflik di Timur Tengah terus mengganggu pasokan dan mendorong kenaikan harga energi global.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menilai dampak krisis energi saat ini jauh lebih besar dibandingkan gangguan pasokan sebelumnya, termasuk krisis minyak pada dekade 1970-an.
Berbicara di National Press Club di Canberra, Australia, Birol menegaskan, situasi pasar energi global berada dalam kondisi yang sangat serius akibat kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah.
Baca juga: Harga Minyak Turun Usai Trump Tunda Serangan ke Fasilitas Energi Iran
Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.“Situasinya sangat parah,” kata Birol, dikutip dari ABC Australia, Selasa (24/3/2026).
Menurut dia, bahkan jika kesepakatan damai tercapai dalam waktu dekat, kerusakan yang terjadi pada fasilitas energi akan menyebabkan tekanan pasokan dan harga yang berkepanjangan.
IEA mencatat setidaknya 40 aset energi di kawasan Timur Tengah telah rusak atau hancur akibat konflik yang sedang berlangsung.
Kerusakan ini berdampak langsung terhadap produksi, pengolahan, dan distribusi energi global.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Rontok, tapi Jalur Selat Hormuz Masih Rawan
Birol mengatakan dampak kehilangan pasokan energi saat ini melampaui krisis minyak pada 1973 dan 1979. Pada dua periode tersebut, dunia kehilangan sekitar 5 juta barrel per hari (bph).
Namun dalam kondisi sekarang, gangguan pasokan diperkirakan mencapai sekitar 11 juta bph.
“Hingga hari ini, kita telah kehilangan 11 juta barrel per hari,” ujar Birol.
Angka tersebut mencerminkan tekanan besar terhadap pasar energi global, terutama karena wilayah Timur Tengah memainkan peran penting dalam rantai pasok minyak dan gas dunia.
Ilustrasi kapal tanker. Baca juga: Wall Street Menguat Usai Sinyal Damai AS-Iran, Harga Minyak Justru Anjlok
Untuk meredam volatilitas harga minyak dan menjaga stabilitas pasokan, negara-negara anggota IEA sebelumnya telah sepakat melepas 400 juta barrel minyak dari cadangan darurat mereka.
Langkah tersebut menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah lembaga itu.
Menurut Birol, pengumuman pelepasan cadangan tersebut sempat menekan harga bahan bakar. Namun, efeknya tidak berlangsung lama karena ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan masih terus berlanjut.
Ia menegaskan, pelepasan tambahan cadangan tetap menjadi opsi jika situasi memburuk atau harga energi kembali melonjak.
Baca juga: Trump Sebut AS-Iran Berunding Akhiri Perang, Harga Minyak Dunia Langsung Jatuh 11 Persen