KOMPAS.com - Indeks utama Wall Street, bursa saham Amerika Serikat (AS), ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (31/3/2026), didorong oleh spekulasi meredanya ketegangan konflik di Timur Tengah yang sebelumnya memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 melonjak 2,91 persen ke level 6.528,52. Indeks Nasdaq menguat 3,83 persen menjadi 21.590,63, sementara indeks Dow Jones Industrial Average naik 2,49 persen ke posisi 46.341,51.
Ketiga indeks utama bursa saham AS itu mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak Mei 2025, saat pasar merespons meredanya ketegangan perang dagang antara Washington dan Beijing.
Penguatan Wall Street terjadi merata di berbagai sektor. Sembilan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 ditutup menguat, dipimpin sektor layanan komunikasi yang naik 4,42 persen, diikuti sektor teknologi informasi yang menguat 4,24 persen.
Baca juga: Wall Street Bergerak Variasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah
Di sisi lain, sektor energi justru melemah 1,2 persen, meskipun secara bulanan masih mencatatkan kenaikan sekitar 10 persen seiring lonjakan harga minyak sepanjang Maret.
Secara kumulatif sejak awal tahun, kinerja indeks saham AS masih tertekan. S&P 500 tercatat turun 4,6 persen (year-to-date), Nasdaq melemah 7,1 persen, dan Dow Jones terkoreksi 3,6 persen.
Aktivitas perdagangan di bursa AS juga tercatat tinggi dengan volume mencapai 22,4 miliar saham, di atas rata-rata 20 hari terakhir yang berada di kisaran 20,3 miliar saham.
Sentimen positif pasar dipicu laporan The Wall Street Journal yang menyebut Presiden AS Donald Trump membuka peluang untuk mengakhiri kampanye militer terhadap Iran, meskipun sebagian Selat Hormuz masih ditutup.
Baca juga: Wall Street Melemah Saat Perang Iran Memanas, Harga Minyak Kembali Melonjak
Namun demikian, ketidakpastian masih membayangi. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi krusial dalam konflik dengan Iran dan memperingatkan potensi eskalasi jika tidak tercapai kesepakatan.
Konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan tersebut sebelumnya sempat menekan pasar saham AS. S&P 500 dan Dow Jones mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2022, seiring kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akan menekan permintaan serta mendorong inflasi.
“Kenaikan pasar saat ini lebih didorong spekulasi terkait potensi meredanya konflik,” ujar Bill Northey, Direktur Investasi Senior di U.S. Bank Wealth Management.
Ia menambahkan, pelaku pasar tengah mencari sinyal stabilitas aliran energi global, khususnya melalui Selat Hormuz.
"Detailnya masih minim, tetapi pasar modal mencari indikasi apa pun yang menunjukkan adanya peluang untuk aliran energi yang lebih normal melalui Selat Hormuz,” paparnya.
Baca juga: Wall Street Menguat Usai Sinyal Damai AS-Iran, Harga Minyak Justru Anjlok
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi pendorong utama penguatan indeks. Saham Nvidia naik 5,6 persen, Alphabet menguat 5,1 persen, dan Meta Platforms melonjak 6,7 persen. Indeks semikonduktor PHLX juga melesat 6,24 persen, mencatatkan kinerja terbaiknya dalam hampir satu tahun terakhir.
Meski demikian, tekanan masih membayangi pasar tenaga kerja AS. Data pemerintah menunjukkan lowongan kerja turun lebih dalam dari perkiraan pada Februari, sementara perekrutan menyentuh level terendah dalam hampir enam tahun.
Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran juga kembali memicu kekhawatiran inflasi. Pelaku pasar kini menilai Federal Reserve (The Fed) lebih berpeluang menaikkan suku bunga pada akhir tahun dibandingkan menurunkannya, sebagaimana tercermin dalam FedWatch Tool milik CME Group.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang