Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mesin Mobil Tersendat Jangan Diabaikan, Ini Penyebabnya

Kompas.com, 24 Maret 2026, 20:12 WIB
Erwin Setiawan,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

SOLO, KOMPAS.com - Putaran mesin mobil tersendat atau brebet sebaiknya tidak diabaikan, karena bisa menimbulkan masalah lebih serius di tengah perjalanan.

Mesin mobil yang terasa tersendat merupakan tanda adanya gangguan pada sistem kerja mesin. Kondisi ini sering disebut brebet atau ndut-ndutan oleh pengemudi.

Gejala tersendat biasanya muncul saat akselerasi, tanjakan, atau bahkan ketika mobil berjalan stabil. Hal ini tentu mengganggu kenyamanan dan keselamatan berkendara.

Baca juga: Mesin Brebet Setelah Hujan? Bisa Jadi Soket dan Sensor Bermasalah


Hari, pemilik bengkel Juna Speed Klaten mengatakan salah satu penyebab paling umum adalah busi yang sudah aus atau kotor. 

“Busi berfungsi memantik api, sehingga jika melemah, pembakaran tidak sempurna, akibatnya putaran mesin tersendat dan tenaga berkurang,” ucap Hari kepada KOMPAS.com, Selasa (24/3/2026).

Selain itu, filter udara yang kotor juga bisa memicu masalah. Aliran udara yang terhambat membuat campuran bahan bakar tidak ideal.

Baca juga: Apa Benar Mesin Mobil Brebet Bisa Hilang Sendiri?

Suasana kemacetan terlihat dari dalam mobil yang dikendarai Ferdhinal Ashful (55) saat melintasi jalur Sungai Pua menuju Koto Baru, Tanah Datar, Senin (23/3/2026). Kendaraan hanya bergerak merayap di tengah padatnya arus mudik Lebaran.Dharma Harisa Suasana kemacetan terlihat dari dalam mobil yang dikendarai Ferdhinal Ashful (55) saat melintasi jalur Sungai Pua menuju Koto Baru, Tanah Datar, Senin (23/3/2026). Kendaraan hanya bergerak merayap di tengah padatnya arus mudik Lebaran.

Masalah pada sistem bahan bakar juga sering menjadi penyebab utama. Injektor kotor atau filter bensin tersumbat dapat menghambat suplai bahan bakar ke mesin.

“Pompa bensin yang mulai lemah juga berpengaruh. Tekanan bahan bakar menjadi tidak stabil sehingga mesin terasa kehilangan tenaga,” ucap Hari.

Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi mesin juga bisa memicu tersendat. Oktan yang terlalu rendah dapat menyebabkan pembakaran tidak optimal.

Baca juga: Jelang Mudik Lebaran, Kenali Tanda Busi Mobil Sudah Harus Diganti

Komponen pengapian seperti koil juga berperan penting. Jika koil bermasalah, tegangan listrik ke busi tidak maksimal.

“Sensor mesin yang error juga dapat menjadi penyebab. Data yang salah membuat sistem elektronik mengatur pembakaran secara tidak tepat,” ucap Hari.

Throttle body yang kotor turut mempengaruhi performa mesin. Kotoran dapat menghambat aliran udara dan membuat respons gas tidak halus.

Baca juga: Lebih Irit Mana Mudik Pakai Pertalite atau Pertamax?

Ilustrasi filter udara mobilKompas.com/Erwin Setiawan Ilustrasi filter udara mobil

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa semakin parah. Mesin bisa mati mendadak atau bahkan menyebabkan kerusakan lebih serius.

“Ada banyak faktor yang bikin putaran mesin tersendat, konsumen perlu memeriksanya ke bengkel terdekat agar mendapat penanganan tepat,” ucap Hari.

Kesimpulannya, mesin tersendat adalah sinyal adanya gangguan yang harus segera diperiksa. Penanganan cepat dan tepat akan mencegah risiko mogok saat perjalanan jauh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau