PADANG, KOMPAS.com — Aroma ikan bilih dari Danau Singkarak dan pedasnya samba lado jariang langsung terbayang di benak Ardi (58) sesaat setelah menjejakkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat.
Bagi perantau asal Tanah Datar itu, pulang kampung bukan cuma perjalanan, melainkan kembali pada rasa yang lama tersimpan.
"Yang pertama terlintas itu ikan bilih, jariang, cabe darek, sama bareh Solok," kata Ardi, ditemui di area kedatangan, Rabu (18/3/2026).
Ardi mengaku, sejak pensiun, ia sebenarnya cukup rutin mudik ke kampung halaman.
Namun, karena istrinya berasal dari Semarang, tradisi pulang kampung dilakukan bergantian setiap tahun.
"Kadang ke Padang, kadang ke Semarang. Gantian saja," ujarnya.
Baca juga: Beli Tiket Kapal Rp 90.000 dari Calo, Rijal Nyaris Gagal Mudik gara-gara Barcode Tak Bisa Di-scan
Kampung halaman Ardi berada di Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar—wilayah yang lebih dikenal para perantau sebagai Batusangkar.
Nagari tersebut berjarak sekitar 30 menit dari tepian Danau Singkarak, habitat asli ikan bilih yang menjadi salah satu kuliner khas Minangkabau.
Tahun ini, Ardi pulang bersama istri dan dua putrinya dari Bekasi.
Ia menyebut perjalanan dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta hingga tiba di Padang berlangsung relatif lancar.
"Alhamdulillah perjalanan tidak terlalu padat, masih cukup lancar," katanya.
Meski begitu, ia mengakui biaya mudik tahun ini terasa lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Untuk tiket pesawat pulang-pergi bagi empat orang, ia harus merogoh kocek hingga sekitar Rp 17 juta.
"Biasanya sekitar Rp 12 jutaan. Sekarang naik cukup jauh," ujar Ardi.
Baca juga: Hampir Tak Bisa Pulang Kampung, Pedagang Cuanki dan Kupat Tahu Sumringah Ikut Mudik Gratis
Kepulangan kali ini terbilang singkat.