LAMPUNG, KOMPAS.com - Korban yang mobilnya tertabrak kereta api di Bandar Lampung menyebut kondisi di lokasi membuatnya "buta".
Reni Antika, kakak kandung pengendara mobil, mengatakan, lokasi tersebut sangat berbahaya.
Reni juga meluruskan opini yang beredar di masyarakat terkait anggapan korban menerobos perlintasan kereta api itu.
"Informasi yang beredar itu salah, bukan seperti itu peristiwa di lapangan," katanya saat dihubungi, Sabtu (28/3/2026) pagi.
Dia menceritakan, dalam peristiwa kecelakaan yang terjadi pada malam takbiran atau Jumat (20/3/2026) malam itu, kondisi adiknya tidak tahu kalau ada kereta api yang melintas.
Menurutnya, kontur jalan menuju perlintasan itu berbelok, turunan, dan terhalang rumah warga.
Baca juga: Video Viral Warga Blokir Perlintasan Kereta Api di Bandar Lampung, Ada Apa?
Sehingga, korban benar-benar tidak tahu akan ada kereta.
"Kami bukan menerobos. Posisi memang tidak ada palang perlintasan dan tidak ada yang jaga," kata dia.
Kemudian, tidak ada lampu sorot dan bukti dari kereta api babarajang (batu bara jajaran panjang) yang melintas itu.
"Jadi kami benar-benar buta. Nggak ada tanda-tanda kereta melintas, kami baru tahu saat sudah di tengah-tengah, kalau ada tanda kereta kami nggak bakal terus," kata dia.
Reni mengatakan, hal itu juga sudah disampaikannya saat pertemuan dengan pihak PT KAI Divre IV, termasuk permintaan agar kerusakan kendaraan diperbaiki.
"Orang KAI bilang kalau (korban) meninggal baru dapat kompensasi. Masa harus jatuh korban dahulu?" kata dia.
Selain itu pihak korban juga meminta agar PT KAI memasang palang pintu serta penjaga perlintasan agar kejadian tidak terulang.
"Memang kereta api itu prioritas, tetapi nyawa manusia itu lebih penting," katanya.
Karena tidak mencapai kata sepakat, pihak keluarga korban pun mengadakan aksi protes dengan memalangkan besi di perlintasan itu.