Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga yang Blokir Rel Kereta Api di Lampung Buka Suara, Bantah Narasi di Medsos

Kompas.com, 28 Maret 2026, 10:03 WIB
Tri Purna Jaya,
Diamanty Meiliana

Tim Redaksi

LAMPUNG, KOMPAS.com - Korban yang mobilnya tertabrak kereta api di Bandar Lampung menyebut kondisi di lokasi membuatnya "buta".

Reni Antika, kakak kandung pengendara mobil, mengatakan, lokasi tersebut sangat berbahaya.

Reni juga meluruskan opini yang beredar di masyarakat terkait anggapan korban menerobos perlintasan kereta api itu.

"Informasi yang beredar itu salah, bukan seperti itu peristiwa di lapangan," katanya saat dihubungi, Sabtu (28/3/2026) pagi.

Kronologi Versi Pemilik Mobil

Dia menceritakan, dalam peristiwa kecelakaan yang terjadi pada malam takbiran atau Jumat (20/3/2026) malam itu, kondisi adiknya tidak tahu kalau ada kereta api yang melintas.

Menurutnya, kontur jalan menuju perlintasan itu berbelok, turunan, dan terhalang rumah warga.

Baca juga: Video Viral Warga Blokir Perlintasan Kereta Api di Bandar Lampung, Ada Apa?

Sehingga, korban benar-benar tidak tahu akan ada kereta.

"Kami bukan menerobos. Posisi memang tidak ada palang perlintasan dan tidak ada yang jaga," kata dia.

Kemudian, tidak ada lampu sorot dan bukti dari kereta api babarajang (batu bara jajaran panjang) yang melintas itu.

"Jadi kami benar-benar buta. Nggak ada tanda-tanda kereta melintas, kami baru tahu saat sudah di tengah-tengah, kalau ada tanda kereta kami nggak bakal terus," kata dia.

Tanggapan PT KAI

Reni mengatakan, hal itu juga sudah disampaikannya saat pertemuan dengan pihak PT KAI Divre IV, termasuk permintaan agar kerusakan kendaraan diperbaiki.

"Orang KAI bilang kalau (korban) meninggal baru dapat kompensasi. Masa harus jatuh korban dahulu?" kata dia.

Selain itu pihak korban juga meminta agar PT KAI memasang palang pintu serta penjaga perlintasan agar kejadian tidak terulang.

"Memang kereta api itu prioritas, tetapi nyawa manusia itu lebih penting," katanya.

Karena tidak mencapai kata sepakat, pihak keluarga korban pun mengadakan aksi protes dengan memalangkan besi di perlintasan itu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Puji Sosok Jokowi: Mantan Presiden yang Sukses Jalankan Pemerintahan
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Puji Sosok Jokowi: Mantan Presiden yang Sukses Jalankan Pemerintahan
Regional
Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Ini Topik yang Dibahas
Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Ini Topik yang Dibahas
Regional
Aktivis Perempuan: Mediasi Kasus Kekerasan Seksual Unissula Langgar UU TPKS
Aktivis Perempuan: Mediasi Kasus Kekerasan Seksual Unissula Langgar UU TPKS
Regional
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK Pemerkosa Balita dan ASN Satpol PP Pecandu Narkoba
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK Pemerkosa Balita dan ASN Satpol PP Pecandu Narkoba
Regional
PT KAI Laporkan Warga Bandar Lampung yang Blokir Rel Kereta ke Polisi
PT KAI Laporkan Warga Bandar Lampung yang Blokir Rel Kereta ke Polisi
Regional
Grebeg Gethuk di Magelang Digelar April, Ini Rangkaian Acaranya
Grebeg Gethuk di Magelang Digelar April, Ini Rangkaian Acaranya
Regional
Mapolres Dogiyai Diserang Sekelompok Warga, Toko Bangunan Terimbas dan Terbakar
Mapolres Dogiyai Diserang Sekelompok Warga, Toko Bangunan Terimbas dan Terbakar
Regional
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Regional
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Regional
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
Regional
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
Regional
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Regional
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
Regional
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Regional
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Warga yang Blokir Rel Kereta Api di Lampung Buka Suara, Bantah Narasi di Medsos
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat