Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teko Listrik, Kompor, atau Microwave yang Lebih Efisien Merebus Air?

Kompas.com, 8 Mei 2021, 16:21 WIB
Aniza Pratiwi,
Esra Dopita Maret

Tim Redaksi

Sumber Treehugger

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika ingin mendapatkan air panas untuk membuat secangkir kopi atau teh, Anda harus memanaskannya terlebih dahulu menggunakan panci atau teko khusus di atas kompor. Namun, sebenarnya hal tersebut bukan cara satu-satunya untuk mendapatkan air panas.

Dilansir dari Treehugger, Sabtu (8/5/2021), ada beberapa cara atau peralatan yang bisa digunakan untuk merebus atau memanaskan air. Mulai dari, menggunakan teko listrik, panci di atas kompor, hingga microwave

Baca juga: Apakah Boleh Meletakkan Makanan Terlalu Lama di Panci Stainless Steel?

Lantas, di antara ketiganya, mana yang lebi efisien? Berikut ini perbandingan antara ketiga peralatan dapur tersebut dalam merebus air. 

Teko listrik

Di dalam teko listrik, air akan bersentuhan langsung dengan elemen pemanas. Tidak ada panci yang digunakan untuk dipanaskan dan sebagian besar teko memiliki penutup sehingga mempercepat prosesnya. 

Baca juga: 6 Kesalahan Merawat Wajan dan Panci Stainless Steel

Dengan menggunakan teko listrik, Anda dapat memanaskan 350 mililiter air dengan 83 derajat celsius dalam hitungan 125 detik dengan pemakaian listrik 972 watt. 

Kompor 

Permasalahan merebus air menggunakan kompor ada dua, yakni panas perlu ditransfer dari kompor ke panci, kemudian panci perlu pemanasan sebelum menyalurkan energinya ke air. 

Baca juga: Kenapa Api Kompor Gas Berwarna Oranye? Ini Penyebabnya

Selain itu, jika tidak menggunakan penutup, ada sumber inefisiensi (pemborosan) ketiga dalam kehilangan panas karena konveksi. Pada panci berukuran enam sentimeter, air sebanyak 350 mililiter membutuhkan waktu 318 detik untuk mendidih.

Bila dilihat dari waktunya, teko listrik dua kali lebih efisien daripada kompor. Namun, karena kompor tidak menggunakan daya listrik, kompor lebih hemat dibandingkan dengan teko listrik.

Baca juga: Ini 5 Tanda Kompor Harus Diganti 

Microwave  

Cara terakhir memanaskan air adalah menggunakan microwave. Namun, karena air yang dipanaskan menggunakan alat ini dimasukkan ke dalam mug, akan menambah waktu dan energi lebih lama untuk mendidihkannya.

Kelebihan menggunakan microwave untuk memanaskan air adalah air akan panas lebih lama bila dibandingkan dengan air mendidih yang dituangkan ke dalam cangkir bersuhu ruangan. Mendidihkan air memakai microwave membutuhkan waktu 191 detik dengan daya 1.350 watt. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau