KOMPAS.com - Air plant atau tanaman udara merupakan tanaman hias yang bisa tumbuh tanpa tanah maupun media tanam lain.
Meski terlihat mudah dirawat, air plant tetap membutuhkan perawatan khusus, terutama dalam penyiraman dan pencahayaan.
Baca juga: Cara Menyuburkan Tanaman Pothos dengan Ampas Kopi
Jika tidak dilakukan dengan tepat, air plant bisa cepat kering, bahkan membusuk. Karena itu, penting memahami cara menyiram tanaman yang benar sekaligus kesalahan yang perlu dihindari.
Untuk membantu menumbuhkan tanaman udara yang subur, dikutip dari Martha Stewart, Selasa (31/3/2026), berikut sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat menyiram air plant beserta kesalahan yang perlu dihindari.
Cara terbaik menyiram air plant bukanalah mengguyurkan air langsung ke tanaman atau menggunakan semprotan, tetapi merendamnya.
“Mulailah merendam tanaman di dalam mangkuk berisi air selama 15-30 menit,” kata Lisa Eldred Steinkopf, pakar tanaman hias sekaligus pendiri The Houseplant Guru.
Jika melakukan metode ini, kamu tidak perlu melakukan metode penyemprotan. Penyemprotan ringan sering kali tidak memberikan hidrasi cukup pada tanaman karena tidak sepenuhnya membasahi air plant.
Setelah direndam, goyangkan air plant untuk menghilangkan kelebihan air, lalu balikkan di atas handuk. Biarkan mengering sepenuhnya sebelum menempatkannya kembali ke dalam pot atau bola kaca atau tempat yang digunakan untuk menempel tanaman ini.
Baca juga: 6 Tanaman Bunga Beraroma Harum yang Dapat Ditanam di Rumah
Umumnya, Steinkopf menyarankan membiasakan menyiram tanaman udara setiap satu sampai 10 hari sekali agar dapat menghasilkan air plant yang subur dan berdaun lebat.
Meski begitu, frekuensi penyiramannya tetap bergantung pada kondisi kelembapan dalam ruangan tempat tillandsia tumbuh.
“Jika lingkungannya cenderung kering, sebaiknya tingkatkan penyiramnya lebih sering,” kata Steinkopf.
Steinkopf mengungkapkan air plant cenderung mudah beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan.
Misalnya, dapat tumbuh di dapur dan kamar mandi yang memiliki kelembapan lebih tinggi. Karena itu, penyiramannya juga cenderung memberi jeda waktu lebih lama antara perendaman.
Tak hanya dari lingkungan tumbuhnya, intensitas penyiramannya juga dapat ditentukan melalui warna daunnya.
“Perhatikan warna dan teksturnya. Jika tanaman tampak berwarna keperakan, tandanya mereka membutuhkan lebih sedikit air dan cahaya lebih terang,” ujar Steinkopf.