Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Ungkap Sarung Bantal Lebih Kotor daripada Dudukan Kloset

Kompas.com, 4 November 2025, 21:37 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

Sumber Ideal Home

KOMPAS.com - Sarung bantal dapat menampung sejumlah kotoran, kuman, dan bakteri yang berasal dari minyak tubuh, sisa makeup atau skincare yang menempel, noda makanan yang tertinggal, hingga keringat. 

Tak heran, bila perlu mencuci sarung bantal secara teratur. Soal seberapa sering kita harus mencucinya, survei mengungkapkan banyak dari kita mencuci seprai, selimut, dan sarung bantal setiap dua minggu. 

Baca juga: Jangan Dibuang, Ini 5 Cara Memanfaatkan Sarung Bantal Bekas 

"Kebanyakan orang kehilangan sekitar 500-700 mililiter keringat setiap malam, yang akhirnya menempel pada seprai dan perlengkapan tidur," jelas Gareth Nye, doktor dosen ilmu biomedis di Universitas Salford, Inggris, dikutip dari Ideal Home, Selasa (4/11/2025). 

Namun, angka ini bisa jauh lebih tinggi karena kebanyakan orang memiliki tingkat keringat bervariasi sepanjang malam, dengan pria biasanya berkeringat lebih sedikit dan wanita yang mengalami menopause berkeringat paling banyak. 

Karena alasan ini, perlu mempertimbangkan mencuci sarung bantal lebih sering dari waktu tersebut.

Nye menjelaskan manusia juga akan mengelupas sekitar 500 juta sel kulit setiap hari, sebagian besar terjadi saat tidur. Kita juga memproduksi sekresi tubuh lainnya, seperti air liur atau liur.

"Semua sekresi ini merupakan tempat berkembang biak yang sempurna bagi bakteri dan jamur serta beberapa kuman berbahaya lainnya," imbuh Nye. 

Baca juga: Catat, Ini Tanda Perlu Mengganti Sarung Bantal 

Sarung bantal lebih kotor daripada dudukan kloset 

Ilustrasi sarung bantal.Unsplash/Erik Mclean Ilustrasi sarung bantal.
Bahkan penelitian menunjukkan setelah seminggu di tempat tidur, sarung bantal dapat mengandung lebih banyak bakteri daripada dudukan kloset pada umumnya.

"Beberapa penelitian menunjukkan terdapat 17 ribu koloni bakteri lebih banyak pada sarung bantal setelah seminggu dibanding dudukan kloset," kata Nye. 

Artinya, tempat kepala kamu berbaring setiap malam bisa jadi mengandung lebih banyak bakteri daripada kloset. 

Sarung bantal dirancang melindungi bantal, tetapi jika kita tidak cukup sering mencucinya, keringat, air liur, bahkan tungau debu dapat menembus sarung bantal dan mencapai bantal itu sendiri.

"Bantal pada umumnya dapat memiliki hingga 16 spesies jamur dan jutaan spora jamur, yang dapat mempengaruhi penderita alergi atau asma," ujar Dr. Nye. 

Untungnya, para ahli mengatakan kita tidak perlu membersihkan seluruh tempat tidur setiap minggu untuk melawan bakteri sebelum tidur. Ada solusinya. 

Baca juga: Ketahui, Ini Aturan Mencuci Sarung Bantal

Seperti dijelaskan Phoebe Street, spesialis tekstil dan pakaian tidur di Pretty You London, kebanyakan orang mencuci seprai mereka setiap satu atau dua minggu, yang biasanya sudah cukup.

Namun, jika kamu khawatir tentang penumpukan bakteri di sarung bantal dan tidak punya waktu  membersihkan seluruh tempat tidur, masukkan saja seprai dan sarung bantal ke mesin cuci. 

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau