Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Terlalu Sering Mencuci Jeans, Ini Alasannya Menurut Ahli

Kompas.com, 23 Januari 2026, 12:10 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Celana jeans dikenal sebagai salah satu jenis pakaian yang tidak harus dicuci setiap kali selesai dipakai.

Namun, tidak sedikit orang yang masih ragu menentukan seberapa sering jeans sebaiknya dicuci.

Padahal, kebiasaan mencuci jeans terlalu sering justru bisa membuat warna cepat pudar dan bahan lebih cepat rusak.

Lantas, seberapa sering sebenarnya celana jeans perlu dicuci? Dilansir dari Martha Stewart, berikut ini penjelasannya.

Baca juga: Cara Mengeringkan Celana Jeans dengan Benar, Antiluntur dan Rusak

Banyak orang mencuci jeans terlalu sering

Dalam sebuah jajak pendapat di Instagram, sebanyak 6.575 responden diminta menjawab seberapa sering mereka mencuci celana jeans.

Hasilnya, 57 persen mengaku mencuci jeans setelah dipakai beberapa kali, 29 persen hanya mencucinya ketika benar-benar diperlukan, 13 persen mencuci setiap kali dipakai, dan dua persen menyebut tidak pernah mencuci jeans mereka.

Meski pendapat soal mencuci jeans kerap berbeda-beda, para ahli sepakat bahwa ada pedoman umum yang bisa dijadikan acuan.

Idealnya, jeans dicuci setiap 10 kali pemakaian

Menurut Patric Richardson, pendiri The Laundry Evangelist, kebanyakan orang justru terlalu sering mencuci celana jeans.

Baca juga: Cara Menjaga Celana Jeans Tetap Awet Bertahun-tahun

Padahal, dalam kondisi normal, jeans cukup dicuci setiap sembilan atau 10 kali pemakaian, kecuali jika benar-benar kotor.

“Mencuci jeans terlalu sering dapat merusak serat kain akibat gesekan selama proses pencucian,” kata Richardson.

Dampaknya, warna jeans lebih cepat memudar dan bahan kain menjadi aus sebelum waktunya.

Kapan jeans perlu lebih sering dicuci?

Ada situasi tertentu yang membuat celana jeans perlu dicuci lebih sering. Misalnya, jika jeans digunakan untuk pekerjaan berat atau sering dipakai pada cuaca panas dan lembap.

Morgan LaLonde, manajer merek perawatan pakaian di Whirlpool, menyarankan agar jeans segera dicuci jika terkena noda atau kotoran yang terlihat.

Baca juga: Cara Menghilangkan Noda Minyak dari Jeans, Tampak Baru

“Jika jeans digunakan dalam kondisi ekstrem, tentu frekuensi pencuciannya perlu disesuaikan,” ujar Morgan.

Membekukan jeans, perlu atau tidak?

Sebagian orang memilih membekukan celana jeans sebagai alternatif mencuci, dengan harapan suhu dingin dapat menghilangkan bakteri dan bau.

Akan tetapi, menurut Richardson, freezer rumahan tidak cukup dingin untuk membunuh bakteri secara efektif.

Selain itu, menyimpan jeans kotor di dalam freezer bersama bahan makanan juga dinilai tidak higienis.

Baca juga: Antiluntur, Ini Cara Mencuci Celana Jeans Hitam

Tips agar celana jeans lebih awet

Selain tidak mencucinya terlalu sering, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar celana jeans lebih tahan lama, yakni:

  • Hindari mencuci jeans dengan air panas karena dapat merusak serat dan warna kain.
  • Pastikan juga semua kancing dan ritsleting sudah tertutup sebelum mencuci untuk mencegah kerusakan.
  • Mencuci jeans dalam posisi terbalik juga disarankan untuk menjaga warna tetap awet.
  • Terakhir, selalu perhatikan petunjuk perawatan pada label pakaian. Setiap celana jeans bisa memiliki karakteristik dan kebutuhan perawatan yang berbeda.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau