Penulis
KOMPAS.com - Gempuran produk impor, terutama dari Tiongkok, terus menghajar industri furnitur dan mebel nasional.
Seperti diketahui, produk Tiongkok menawarkan harga yang jauh lebih murah dibanding furnitur nasional karena skala produksi besar dan biaya tenaga kerja yang rendah.
Baca juga: IFEX 2026 Hadirkan Furnitur Inovasi, Bidik 15 Ribu Pembeli Internasional
Tantangan ini tak hanya mengancam pangsa pasar dalam negeri, tetapi juga daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
Maka itu, para produsen furnitur nasional perlu mengambil strategi untuk dapat resilien atau tetap tangguh di tengah gampuran furnitur Tiongkok.
Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menjelaskan sangat berat bagi industri furnitur Indonesia bersaing dengan Tiongkok di pasar ekspor furnitur global.
Mengingat, Tiongkok merupakan peringkat pertama negara eksportir furnitur terbesar di dunia, kemudian disusul Vietnam. Sedangkan Indonesia berada di posisi 21.
Meski demikian, bukan tidak mungkin furnitur dan mebel Indonesia bersaing dengan furnitur dari negara lain.
Menurut Abdul, aspek substantif penting diterapkan di industri furnitur nasional untuk dilirik banyak negara, yakni melalui desain atau style.
Baca juga: 5 Tren Furnitur yang Mulai Ditinggalkan pada 2026 Menurut Ahli
"Kalau kita masuk di wilayah pertempuran Cina dan Vietnam itu seperti samudera merah, kita akan gosong. Jadi, kita harus main seperti Italia di kelompok niche market (pasar unik atau khusus--red)," ucap Abdul dalam diskusi ekspor furnitur nasional di Menara Kompas, baru-baru ini.
Abdul menambahkan perlu mendorong Indonesia bukan menjadi sumber furnitur murah, melainkan sumber yang sudah memperhitungkan nilai desain tersebut. Tentu saja, desain yang harus sangat dikembangkan.
Selain desain, kata Abdul, starategi yang bisa dilakukan adalah mengundang trendsetter furnitur di beberapa negara, seperti dari Spanyol, Jepang, juga Filipina.
"Biasanya, kalau kita undang trendsetter dunia, itu (pandangan dunia terhadap furnitur Indonesia) ikut berubah. Mungkin kita bisa bersaing dengan Italia," ucap Abdul.
Baca juga: 5 Cara Memperbarui Tampilan Rumah Tanpa Harus Membeli Furnitur Baru
Abdul melanjutkan bahwa HIMKI sedang membuka pasar baru yang mulai mengusung desain atau value creation sehingga dengan barang yang sama, tapi memiliki nilai yang tinggi. Ini bisa meningkatkan nilai tambah ekspor furnitur Indonesia.
Menurut Abdul, Amerika Serikat menjadi pasar utama ekspor furnitur Indonesia sebesar 58 persen dan sisanya 42 persen ke 122 negara.
"Jadi, kalau kita mau bertempur, ya sudah perjuangkan saja pasar Amerika Serikat ini meski dengan tarif impor yang tinggi," imbuh Abdul.
Namun, kata Abdul, bukan berarti pasar di luar Amerika tidak penting. Hanya saja, dalam strategi besarnya, kalau mau mempertahankan industri furnitur di pasar global, perlu mengusai pasar Amerika Serikat yang memberikan pendapatan besar ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang