Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Halo Prof! Bolehkah Pasien Hipokalemia Disuntik Vaksin Covid-19?

Kompas.com, 9 September 2021, 16:03 WIB
Shierine Wangsa Wibawa

Penulis

Halo Prof

Konsultasi kesehatan tanpa antre dokter

Temukan jawaban pertanyaanmu di Kompas.com

KOMPAS.com - Seorang pembaca Kompas.com dengan inisial NM yang berusia 38 tahun dari Bogor memiliki pertanyaan mengenai keamanan vaksin Covid-19 bagi pasien hipokalemia. Berikut pertanyaannya:

"Istri saya usia 35 tahun ingin ikut vaksin. Namun, masih ragu karena istri saya punya penyakit hipokalemia. Muncul pertama kali pada 2017 dengan hasil cek darah di laboratorium, kalium 1-2 dan hingga sekarang masih sering kambuh. Jika kambuh (seringkali setelah aktivitas berat); kakinya terasa sakit, susah berjalan, dan lemah. Istri saya tidak mengonsumsi obat saat ini, cuma saat kambuh dia minum suplemen KSR untuk menaikkan kaliumnya.

Yang ingin saya tanyakan, dengan kondisi istri saya tersebut apakah aman untuknya divaksin Covid-19? Dan vaksin apa yang baik untuknya antara Sinovac, Astra Zaneca, Pfizer, atau Moderna? Terima kasih."

Pertanyaan ini dijawab oleh dr. Franciscus Ari, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya. Berikut paparannya:

Baca juga: Halo Prof! Bolehkah Penderita GERD Berulang Disuntik Vaksin Covid-19?

Halo Bapak NM! Terima kasih atas pertanyaanya, ya.

Hipokalemia adalah keadaan di mana terjadi penurunan kadar kalium dalam darah. Kalium adalah salah satu elektrolit yang penting dalam tubuh manusia. Salah satu fungsi terpenting dari kalium adalah menghantar sinyal listrik sel saraf dan mengatur kontraksi otot, termasuk otot jantung.

Hipokalemia ringan umumnya ditandai dengan gejala lemas, nyeri atau keram otot, berdebar, dan konstipasi.

Kondisi hipokalemia pada dasarnya bukan merupakan kontraindikasi mutlak untuk vaksinasi. Namun, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian.

Saat terjadi hipokalemia berat, dapat terjadi gangguan fungsi organ yang berat, seperti: gangguan gerak usus, kelumpuhan otot anggota gerak, gangguan irama jantung yang berat, bahkan pada kondisi yang sangat berat dapat berakibat gagal napas atau henti jantung. Pada kondisi hipokalemia tersebut, tentu pemberian vaksin sebaiknya ditunda. Kondisi hipokalemia yang berat harus segera diatasi, karena dapat berakibat fatal.

Baca juga: 7 Revisi Rekomendasi PAPDI Terkait Vaksinasi Covid-19 Pasien Komorbid

Penyebab hipokalemia yang umum, dibagi menjadi dua, yaitu berkurangnya asupan kalium dan meningkatnya jumlah kalium yang keluar dari tubuh. Kurangnya asupan kalium disebabkan adanya gangguan intake atau masuknya makanan, misalnya pada pasien yang menderita penyakit infeksi, gangguan pencernaan, penyakit keganasan (kanker), atau bahkan penyakit psikosomatik yang menyebabkan penurunan nafsu makan.

Peningkatan jumlah kalium yang keluar dari tubuh dapat disebabkan oleh gangguan saluran pencernaan seperti diare dan mual muntah, atau peningkatan jumlah kalium yang dibuang oleh ginjal melalui urin. Pada kondisi gangguan saluran cerna akut, seperti diare dan mual muntah berat, sebaiknya vaksinasi juga ditunda sampai kondisi akut teratasi.

Selain penyebab umum di atas, ada beberapa penyebab lain dari hipokalemia, yaitu pemakaian obat-obatan yang menurunkan kalium, konsumsi alkohol berlebih, keringat berlebih, dan gangguan hormon.

Sebaiknya diskusikan dengan dokter mengenai penyebab hipokalemia yang istri Bapak alami, sehingga istri Bapak dapat memperoleh terapi penanganan dan menentukan langkah yang sesuai dengan kondisinya.

Baca juga: Apa Itu Vaksin dan Manfaatnya?

Tidak ada rekomendasi khusus pemilihan jenis vaksin Covid-19 pada kondisi hipokalemia. Belum ada laporan penelitian jenis vaksin mana yang lebih superior pada kondisi hipokalemia. Pada dasarnya, apabila tidak ada kondisi akut atau kondisi hipokalemia yang berat, istri Bapak dapat divaksinasi dengan vaksin Covid-19 merek apapun.

Namun, sebaiknya istri Bapak berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi, untuk dilakukan evaluasi. Selain menilai kondisi klinis istri Anda, dokter mungkin juga akan meminta pemeriksaan kadar kalium melalui pemeriksaan laboratorium darah.

Demikian penjelasan yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat dan sehat selalu untuk Anda dan keluarga. Terima kasih.

dr. Franciscus Ari, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
RS Pondok Indah – Bintaro Jaya

Punya pertanyaan terkait kesehatan yang membuat Anda penasaran? Ajukan pertanyaan Anda via email ke haloprof17@gmail.com atau dengan mengisi formulir di laman ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau