Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manusia dan Kera: Sejauh Apa Perbedaan Kita dari Kerabat Terdekat?

Kompas.com, 29 Juli 2025, 14:04 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Meski terlihat sangat berbeda, manusia ternyata adalah bagian dari keluarga besar kera besar. Lalu, kapan sebenarnya manusia pertama kali muncul, dan apa yang membedakan kita dari sepupu-sepupu primata kita?

Manusia (Homo sapiens) memiliki kemiripan genetik yang mencengangkan dengan kera besar lainnya. Menurut penelitian, manusia berbagi sekitar 99% DNA dengan simpanse, 98% dengan gorila, dan 97% dengan orangutan. Tak heran jika mereka kerap disebut sebagai “kerabat terdekat” manusia.

Secara ilmiah, manusia termasuk dalam keluarga Hominidae, yang mencakup delapan spesies kera besar yang masih hidup: simpanse, bonobo, gorila timur dan barat, serta tiga spesies orangutan (Borneo, Sumatera, dan Tapanuli). Kelompok ini termasuk dalam kelompok yang lebih besar bernama Hominoidea atau kera, yang juga mencakup gibbon—satu-satunya kera yang tidak tergolong kera besar.

Jadi, secara teknis, manusia memang kera, namun tidak semua kera adalah manusia.

Baca juga: Mengapa Tidak Semua Primata Berevolusi Menjadi Manusia?

Awal Mula Kera dan Perpecahan Pohon Keluarga Evolusi

Berdasarkan analisis genetik dan fosil, para ilmuwan memperkirakan bahwa kera (hominoid) mulai berpisah dari monyet Dunia Lama sekitar 25 juta tahun yang lalu di zaman Oligosen. Masa berikutnya, yaitu Miosen (23–5,3 juta tahun lalu), adalah puncak keragaman kera. Iklim yang lebih hangat dan hutan yang semakin luas menciptakan berbagai habitat yang memungkinkan munculnya beragam spesies kera.

Selama Miosen awal, tabrakan antara Afrika dan Jazirah Arab dengan Eurasia membentuk jembatan darat. Ini memungkinkan kera menyebar ke wilayah yang lebih luas, termasuk Asia.

Baca juga: Apa Perbedaan Monyet dengan Kera?

Owa mengeluarkan suara seperti nyanyiansmithsonian Owa mengeluarkan suara seperti nyanyian

Siapa yang Pertama Kali Memisahkan Diri?

Kelompok pertama yang terpisah dari pohon keluarga kera adalah gibbon (Hylobatidae), sekitar 16,8 juta tahun lalu. Gibbon, atau owa, dikenal memiliki tubuh mungil, perbedaan jenis kelamin yang minim, serta lengan yang sangat panjang. Uniknya, mereka tidak membuat sarang seperti kera besar lainnya.

Hari ini, ada sekitar 20 spesies gibbon yang hidup di hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Baca juga: Seperti Manusia, Studi Ungkap Kera Besar Saling Mengejek

Kelestarian orangutan kembali menjadi perhatian publik setelah kasus viral di media sosial menunjukkan keberadaan dua orangutan yang diduga berada di Kaltim, Rabu (12/2/2025) Kompas.com/pandawa borniat Kelestarian orangutan kembali menjadi perhatian publik setelah kasus viral di media sosial menunjukkan keberadaan dua orangutan yang diduga berada di Kaltim, Rabu (12/2/2025)

Orangutan: Si Pemikir Soliter dari Hutan Tropis

Beberapa juta tahun setelah gibbon berpisah, muncul kelompok kera besar pertama: orangutan. Mereka adalah kera yang paling sering berada di pohon dan juga paling menyendiri. Meski begitu, kecerdasan mereka luar biasa. Orangutan diketahui mampu menggunakan alat, membuat sarang rumit, bahkan mempelajari bahasa isyarat.

Genus orangutan yang masih hidup sekarang adalah Pongo, yang mencakup orangutan Sumatera, Borneo, dan Tapanuli—ketiganya asli hutan hujan Indonesia dan Malaysia, serta berstatus sangat terancam punah.

Menariknya, dahulu pernah hidup spesies orangutan raksasa bernama Gigantopithecus di China selatan. Beratnya mencapai 300 kg sebelum punah sekitar 200.000 tahun lalu.

Baca juga: Ke Mana Perginya Kera Raksasa yang Pernah Hidup di Tiongkok?

Ilustrasi gorila makan, gorila gunung makan daun. Gorila makan tumbuh-tumbuhan, buah, bahkan serangga juga kadang menjadi makanan untuk mencukupi kebutuhan protein mereka.Charles J. Sharp via WIKIMEDIA COMMONS Ilustrasi gorila makan, gorila gunung makan daun. Gorila makan tumbuh-tumbuhan, buah, bahkan serangga juga kadang menjadi makanan untuk mencukupi kebutuhan protein mereka.

Gorila dan Panin: Sepupu Terdekat Sebelum Manusia

Setelah orangutan, gorila muncul sekitar 8 juta tahun lalu. Mereka adalah primata terbesar yang masih hidup, dengan berat mencapai 270 kg dan tinggi hampir 2 meter. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang disebut “troops”, dan terutama mengonsumsi dedaunan dan buah-buahan.

Lalu muncul kelompok Panin, yakni simpanse dan bonobo, sekitar 6,5 juta tahun lalu. Mereka memiliki kehidupan sosial yang dinamis, tinggal dalam kelompok besar, dan memiliki kemampuan menggunakan alat—bahkan membuat tombak sederhana untuk berburu.

Meski bonobo lebih kecil (sekitar 40 kg), dan simpanse bisa mencapai lebih dari 100 kg, keduanya sangat cerdas. Mereka telah lulus “mirror test” yang menandakan kesadaran diri—kemampuan langka di dunia hewan.

Baca juga: Dua Juta Tahun Lalu Kerabat Manusia Memanjat seperti Kera dan Berjalan Tegak

Tengkorak manusia purba Homo Habilis.Wikimedia Commons Tengkorak manusia purba Homo Habilis.

Kapan Manusia Pertama Kali Muncul?

Banyak spesies berada di antara panin dan manusia modern. Salah satunya adalah Ardipithecus ramidus, lalu Paranthropus robustus yang bertubuh kekar dan herbivora, serta Homo habilis, si "manusia tukang".

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau