Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Komet Ini Bisa Lebih Terang dari Bulan, Asal Tak Hancur oleh Matahari

Kompas.com, 11 Februari 2026, 13:37 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Sebuah komet baru yang dijuluki C/2026 A1 (MAPS) tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan astronom. Komet ini diprediksi akan melintas sangat dekat dengan Matahari pada awal April 2026. Jika berhasil selamat dari “uji nyali” tersebut, komet ini berpotensi bersinar sangat terang — bahkan mungkin terlihat dengan mata telanjang di siang hari.

Namun, ada satu syarat besar: komet itu harus bertahan dari panas dan tarikan gravitasi ekstrem Matahari yang bisa merobeknya hingga hancur.

Komet C/2026 A1 (MAPS) ditemukan pada 13 Januari oleh tim astronom Prancis yang mengoperasikan teleskop jarak jauh di Observatorium AMACS1, Gurun Atacama, Chile. Saat ditemukan, jaraknya dari Matahari masih lebih dari dua kali jarak Bumi ke Matahari — posisi yang relatif jauh untuk komet jenis ini.

Dengan diameter inti diperkirakan sekitar 2,4 kilometer, komet ini tergolong cukup besar. Ia termasuk dalam keluarga Kreutz sungrazing comets — kelompok komet yang memiliki orbit sangat lonjong dan melintas amat dekat dengan permukaan Matahari.

Komet-komet Kreutz dikenal sebagai “penyapu Matahari” (sungrazer) karena saat mendekat, jaraknya bisa kurang dari 1,4 juta kilometer dari Matahari. Bahkan, C/2026 A1 diperkirakan akan mendekat hingga hanya sekitar 800.000 kilometer dari pusat Matahari — atau sekitar 120.000 kilometer dari permukaannya. Itu berarti sekitar 70 kali lebih dekat dibandingkan orbit Merkurius.

Pada titik terdekatnya (perihelion) yang diperkirakan terjadi 4 April 2026, komet ini akan melesat dengan kecepatan lebih dari 3,2 juta kilometer per jam.

Baca juga: Ternyata Bukan Edmond Halley, Biarawan Abad ke-11 Ini Lebih Dulu Memahami Komet Halley

Warisan “Mega-Komet” Kuno

Yang membuat keluarga Kreutz begitu menarik adalah asal-usulnya. Para astronom meyakini bahwa ribuan komet Kreutz merupakan pecahan dari satu mega-komet raksasa berdiameter lebih dari 100 kilometer yang mendekati Matahari ribuan tahun lalu.

Setelah mengalami pertemuan ekstrem dengan Matahari, komet purba tersebut pecah menjadi fragmen-fragmen besar dan kecil. Fragmen-fragmen itu terus kembali dalam orbit panjangnya mengitari Matahari dan kembali terfragmentasi setiap kali mendekat.

Beberapa di antaranya menjadi komet spektakuler yang tercatat dalam sejarah, seperti:

  • Great Comet of 1882 (C/1882 R1) — yang disebut-sebut mencapai kecerahan 100 kali lebih terang dari Bulan purnama.
  • Comet Ikeya-Seki (1965) — komet paling terang abad ke-20, bersinar seterang Bulan purnama dan terlihat jelas di siang hari.
  • Comet Lovejoy (2011) — komet yang nyaris hancur total namun tetap bersinar terang setelah melewati Matahari.

C/2026 A1 diduga berasal dari subkelompok yang sama dengan komet-komet legendaris tersebut, bahkan mungkin merupakan “saudara jauh” dari Great Comet tahun 1106 dan 1138.

Baca juga: Komet C/2025 R3 Berpeluang Terlihat dengan Mata Telanjang Tahun Ini

Seberapa Terang Komet C/2026 A1 (MAPS)?

Inilah pertanyaan besar yang membuat astronom bersemangat.

Saat komet sungrazing mendekati Matahari, panas ekstrem menyebabkan es dan gas di dalamnya menyublim dengan hebat. Proses ini melepaskan awan gas dan debu dalam jumlah besar, membuat komet bersinar sangat terang dan membentuk ekor spektakuler menyerupai sapu raksasa.

Beberapa peneliti berspekulasi bahwa jika C/2026 A1 cukup besar dan tetap utuh saat perihelion, ia bisa menjadi beberapa kali lebih terang daripada Bulan purnama. Dalam skenario paling optimistis, komet ini bahkan bisa terlihat dengan mata telanjang di siang hari.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar komet sungrazing berukuran kecil dan hancur sebelum mencapai puncak kecerahan. Bahkan pada gerhana Matahari total April 2024, sebuah komet sungrazing kecil ditemukan hanya beberapa jam sebelum akhirnya lenyap selamanya.

Kabar baiknya, C/2026 A1 sudah terdeteksi jauh lebih awal dibanding kebanyakan komet Kreutz lain. Saat ditemukan, jaraknya dari Matahari bahkan lebih jauh dibanding komet Ikeya-Seki saat pertama kali teramati pada 1965. Hal ini menunjukkan bahwa komet ini kemungkinan merupakan fragmen yang relatif besar — bukan sekadar bongkahan kecil yang akan langsung hancur.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau