Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Makan Archaeopteryx Berevolusi Seiring Kemampuannya Terbang

Kompas.com, 11 Februari 2026, 10:14 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Sci News

KOMPAS.com - Fosil terbaru mengungkap bahwa Archaeopteryx, burung tertua di dunia, sudah memiliki struktur mulut canggih yang mendukung kebutuhan energi besar untuk terbang.

Terbang bukanlah perkara mudah. Dibandingkan berjalan, berenang, atau berlari, terbang adalah bentuk pergerakan yang paling menguras energi. Hewan yang mampu terbang membutuhkan kalori dalam jumlah besar untuk mempertahankan aktivitasnya di udara.

Karena itulah, burung modern berevolusi dengan sistem pencernaan yang sangat efisien. Mereka tidak hanya piawai menemukan makanan, tetapi juga mampu mencernanya secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi. Kini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan efisiensi ini ternyata sudah mulai berkembang sejak awal sejarah burung — tepatnya pada Archaeopteryx, burung tertua yang diketahui manusia.

Baca juga: Fosil Utuh Archaeopteryx Jawab Misteri Evolusi Dinosaurus Bisa Terbang

Fosil Kunci dari Jerman

Archaeopteryx hidup sekitar 150 juta tahun lalu pada periode Jurassic, di wilayah yang kini menjadi Jerman. Spesies ini sering disebut sebagai “mata rantai” penting antara dinosaurus darat dan burung modern.

Selama bertahun-tahun, ilmuwan kesulitan menemukan ciri khas yang benar-benar menandai transisi dari dinosaurus berjalan di darat menjadi dinosaurus yang mampu terbang. Namun, studi terbaru yang dipimpin oleh paleontolog dari Field Museum of Natural History, Dr. Jingmai O’Connor, membuka petunjuk baru yang mengejutkan.

“Kami menemukan fitur-fitur kecil yang aneh di mulut Archaeopteryx, yang juga terdapat pada burung modern. Ini memberi kami kriteria baru untuk menentukan apakah suatu fosil dinosaurus bisa dikategorikan sebagai burung atau tidak,” jelas O’Connor.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Innovation ini berfokus pada spesimen yang dikenal sebagai “Chicago Archaeopteryx”, salah satu fosil terbaru yang tercatat dalam literatur ilmiah.

Baca juga: Archaeopteryx: Dinosaurus Berbulu yang Ternyata Bisa Terbang

Struktur Mulut yang Lebih Canggih dari Perkiraan

Tim peneliti membandingkan jaringan yang terawetkan di dalam mulut Archaeopteryx dengan struktur serupa pada burung modern, khususnya papila oral — tonjolan kecil di dalam mulut burung yang membantu memanipulasi dan menelan makanan.

Hasilnya mengejutkan. Mereka menyimpulkan bahwa struktur tersebut merupakan bukti pertama papila oral dalam catatan fosil. Artinya, sejak 150 juta tahun lalu, Archaeopteryx sudah memiliki adaptasi khusus untuk membantu proses makan.

Tak berhenti di situ, para ilmuwan juga menemukan fragmen tulang sangat kecil di dalam tengkorak yang ternyata merupakan tulang lidah.

Berbeda dengan manusia yang tidak memiliki tulang di dalam lidah, sebagian besar burung memiliki struktur tulang yang membentuk kerangka utama lidahnya. Tulang ini menyediakan titik perlekatan otot tambahan sehingga lidah menjadi lebih fleksibel dan mampu membantu mengambil serta memanipulasi makanan.

“Tulang yang sangat kecil ini menunjukkan bahwa Archaeopteryx memiliki lidah yang sangat mobile, seperti banyak burung masa kini,” kata O’Connor.

Baca juga: Seperti Apa Rupa Burung Pertama di Bumi? Studi Mengungkapnya

Paruh Sensitif untuk Mencari Makan

Dengan bantuan pemindaian CT scan, tim juga menemukan adanya terowongan-terowongan kecil di ujung paruh Archaeopteryx. Struktur ini merupakan jejak saraf, indikasi adanya organ sensitif di ujung paruh — mirip dengan bill-tip organ pada burung modern.

Organ ini membuat paruh burung sangat peka terhadap sentuhan, membantu mereka meraba dan mencari makanan di tanah atau lumpur.

Gabungan dari papila oral, tulang lidah yang fleksibel, dan organ sensitif di ujung paruh menunjukkan bahwa Archaeopteryx sudah memiliki berbagai strategi untuk menemukan dan menelan makanan secara efisien.

Evolusi Makan dan Terbang Berjalan Bersama

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa evolusi kemampuan terbang dan sistem makan pada burung awal terjadi secara bersamaan. Ketika dinosaurus mulai mengembangkan kemampuan terbang, mereka juga harus menghadapi tantangan baru: kebutuhan energi yang sangat besar.

“Penemuan ini menunjukkan pergeseran yang sangat jelas dalam cara dinosaurus makan ketika mereka mulai terbang dan harus memenuhi tuntutan energi yang luar biasa besar,” ujar O’Connor.

Burung modern dikenal memiliki sistem pencernaan yang sangat efisien. Hampir seluruh anatomi mereka dimodifikasi untuk memaksimalkan asupan kalori dari makanan. Dan proses itu, ternyata, dimulai dari mulut.

Penelitian ini bukan hanya menambah detail tentang Archaeopteryx, tetapi juga membantu ilmuwan memahami bagaimana evolusi burung berlangsung pada tahap-tahap awalnya. Dari struktur kecil di dalam mulut, kita kini mengetahui bahwa sejak awal, terbang dan makan adalah dua kemampuan yang saling berkaitan erat dalam sejarah evolusi burung.

Baca juga: 120 Juta Tahun Lalu, Burung Purba Ini Mati Tersedak Usai Telan 800 Batu

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau