KOMPAS.com - Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan merah bencana hidrometeorologi.
Tahun 2026 baru berjalan tiga bulan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat 263 kejadian banjir di seluruh penjuru negeri.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras atas meningkatnya frekuensi banjir bandang hingga rob yang kian ekstrem.
Dr. Emilya Nurjani, pakar klimatologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan bahwa lonjakan ini merupakan dampak nyata dari akumulasi energi atmosfer akibat pemanasan global.
Lantas, mengapa wilayah seperti Semarang terus tenggelam oleh rob, dan apa hubungannya penemuan mesin uap abad ke-18 dengan banjir bandang di Jawa Barat hari ini? Simak analisis lengkapnya.
Jika dilihat dari waktu yang lebih panjang, peningkatan bencana banjir di Indonesia terlihat jelas.
Pada 2025 tercatat 2009 kejadian banjir, 2024 ada 1420 kejadian, dan tahun 2023 sebanyak 1255 kejadian.
"Data ini memperlihatkan peningkatan kejadian banjir (untuk seluruh jenis bencana banjir: rob, bandang, kenaikan muka air Sungai) di seluruh Indonesia," sebut Emilya kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).
Dengan data itu, tak heran jika banjir menjadi jenis bencana yang sering terjadi dibandingkan dengan semua jenis bencana di Indonesia.
"Bencana banjir menempati peringkat pertama jumlah kejadian bencana dibandingkan jenis bencana lainnya diikuti oleh cuaca ekstrem," lanjut Emilya.
Fenomena alam seperti hujan ekstrem hingga siklon tropis menjadi salah satu faktor yang memicu banjir di berbagai wilayah tanah air.
Catatan menunjukkan, lanjut Emilya, ada sejumlah kejadian siklon tropis terbesar dalam 10 tahun terakhir. Ada Campaka (2017), Seroja (2021) dan Senyar (2025).
"Dua siklon pertama terjadi di wilayah Indonesia bagian Selatan. Cempaka terjadi di Selatan Jawa dan Seroja di Selatan Nusa Tenggara Timur (NTT)," katanya.
Selanjutnya, Emilya mengatakan Siklon Senyar terjadi di wilayah Laut China Selatan yang menimbulkan dampak banjir di wilayah Sumatera bagian Utara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Baca juga: Pemerintah Afrika Selatan Deklarasikan Bencana Nasional Usai 30 Orang Tewas karena Banjir Bandang
Salah satu jenis banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah Indonesia adalah banjir bandang.
Emilya menjelaskan, fenomena banjir bandang didukung oleh beberapa faktor, di antaranya:
Artinya, lanjut Emilya, selain curah hujan, kondisi fisik wilayah memegang peran penting dalam menentukan dampak banjir.
Sebagai contoh, curah hujan yang tinggi di atas 100 mm per hari di wilayah yang bagus, maka dampak banjir mungkin berupa genangan akibat luapan Sungai.
"Tetapi curah hujan di bawah 100 mm per hari juga akan menimbulkan banjir jika fisik lingkungan wilayah sudah rusak," jelasnya.