Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Darurat Banjir 2026, Rekor 263 Bencana dalam 3 Bulan, Apa Pemicunya?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 21:34 WIB
Mannisa Elfira Putri Aji Suharno,
Tri Indriawati

Tim Redaksi

Ia menyebut, banjir rob sering terjadi di daerah pesisir karena topografinya yang berada di bawah permukaan laut.

"Sementara itu, banjir rob di Semarang telah menjadi fenomena tahunan dan terus meningkat dari tahun ke tahun, khususnya di bagian utara," katanya.

Penyebab utama banjir rob di Semarang Utara adalah, lanjut Emilya, kombinasi antara kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim global (curah hujan ekstrem).

"Juga penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah dan beban infrastruktur (Marfai & King, 2008)," sambungnya.

Baca juga: BMKG: 18 Wilayah Berpotensi Dilanda Banjir Rob 29 Maret–16 April 2026, Ini Daftarnya

Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang BMKG yang diterima Kompas.com, banjir rob memang menjadi fenomena tahunan dan terus meningkat.

Berikut rekapitulasi data banjir rob di Semarang beberapa tahun terakhir:

2020

  • 29 Mei 2020: Kota Semarang, Kab.Demak, Kota Tegal     
  • 1-2 Juni 2020: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Tegal
  • 9-10 Juni 2020: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Tegal

2021

  • 19 Januari 2021: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Tegal, Kab. Kendal, Kab. Batang, Pantai Rembang
  • 6 Februari 2021: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Pekalongan, Kab. Kendal, Kab. Batang, Kab. Pati
  • 22-24 April 2021: Kota Semarang, Kab.Demak , Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Tegal

2022

  • 11 Mei 2022: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Tegal
  • 23 Mei 2022: Kab. Brebes, Kota Tegal, Kab. Tegal, Kab. Pemalang, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan, kab. Kendal, Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pati, Kab Jepara, Kab. Rembang
  • 20-21 Juni 2022: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kab. Pati
  • 30 November-2 Desember 2022: Kota Semarang, Kab.Demak,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan, Kota Tegal
  • 28-31 Desember 2022: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan, Kota Tegal

2023

  • 10-15 Mei 2023: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 7-12 Juni 2023: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 2 Agustus 2023: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan

2024

  • 1-3 Mei 2024: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan    
  • 27 Mei 2024: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 1 dan 12 Juni 2024: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 25-27 Juni 2024: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kota Tegal, Kab. Kendal, Kab. Batang, Kab. Jepara
  • 30 September 2024: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 11-14 Oktober 2024: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 10-13 November 2024: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan

2025

  • 8 Januari 2025:Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan    
  • 4-7 April 2025    : Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 16 Mei 2025: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan    
  • 14 Juni 2025: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan
  • 17 Oktober 2025: Kota Semarang, Kab.Demak ,  Kab. Jepara, Kab. Pekalongan, Kab. Batang

2026

  • 6, 7, 15, 30 dan 31 Januari 2026: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan    
  • 12 dan 28 Februari 2026:    Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan    
  • 1 -3, 14 Maret 2026: Kota Semarang, Kab.Demak, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan

Baca juga: Analisis BRIN soal Banjir Rob Semarang, Benarkah karena Fenomena Astronomis?

3 faktor peningkatan banjir rob di Semarang

Prakirawan Cuaca Maritim BMJG M. Soleh Ismail mengatakan peningkatan banjir rob dalam satu dekade terakhir di Semarang disebabkan oleh berbagai faktor.

Faktornya antara lain faktor meteorologi, astronomi, dan antropogenik. 

Meteorologi

Dari sisi meteorologi, Soleh menjelaskan peningkatan tinggi muka laut (sea level rise) yang berdasarkan pengamatan Automatic Weather Station (AWS) Maritim Semarang milik BMKG menunjukkan tren kenaikan.

"Kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang tinggi, peningkatan kecepatan angin, dan curah hujan turut memperparah kondisi," katanya kepada Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Pada periode tertentu, lanjut Soleh, khususnya saat Angin Monsun Timur (Juli-September) dan angin monsun barat (Desember-Januari), terjadi peningkatan tinggi gelombang di Laut Jawa akibat peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada wilayah pesisir utara Jawa.

"Saat kondisi pasang tertinggi terjadi bersamaan dengan cuaca ekstrem, tinggi muka air laut akan semakin meningkat dan berpotensi menimbulkan banjir rob," tuturnya.


Astronomi


Selanjutnya, Soleh menjelaskan faktor astronomi yang menyebabkan peningkatan banjir rob di Semarang.

"Kejadian seperti fase bulan baru dan bulan purnama serta fase perigee (jarak terdekat bulan dengan Bumi) dapat meningkatkan pasang air laut maksimum akibat gaya tarik gravitasi," ucapnya.

Antropogenik

Tak kalah penting, faktor antropogenik juga turut andil.

Soleh menyebutkan seperti penurunan permukaan tanah (land subsidence), perubahan tata guna lahan, kerusakan ekosistem pesisir, serta sistem drainase yang kurang optimal juga berkontribusi signifikan. 

"Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah berlebihan dan beban pembangunan menyebabkan elevasi daratan semakin rendah terhadap muka laut, sehingga memperbesar kerentanan wilayah terhadap genangan rob," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau