Ia menyebut, banjir rob sering terjadi di daerah pesisir karena topografinya yang berada di bawah permukaan laut.
"Sementara itu, banjir rob di Semarang telah menjadi fenomena tahunan dan terus meningkat dari tahun ke tahun, khususnya di bagian utara," katanya.
Penyebab utama banjir rob di Semarang Utara adalah, lanjut Emilya, kombinasi antara kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim global (curah hujan ekstrem).
"Juga penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah dan beban infrastruktur (Marfai & King, 2008)," sambungnya.
Baca juga: BMKG: 18 Wilayah Berpotensi Dilanda Banjir Rob 29 Maret–16 April 2026, Ini Daftarnya
Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang BMKG yang diterima Kompas.com, banjir rob memang menjadi fenomena tahunan dan terus meningkat.
Berikut rekapitulasi data banjir rob di Semarang beberapa tahun terakhir:
Baca juga: Analisis BRIN soal Banjir Rob Semarang, Benarkah karena Fenomena Astronomis?
Prakirawan Cuaca Maritim BMJG M. Soleh Ismail mengatakan peningkatan banjir rob dalam satu dekade terakhir di Semarang disebabkan oleh berbagai faktor.
Faktornya antara lain faktor meteorologi, astronomi, dan antropogenik.
Dari sisi meteorologi, Soleh menjelaskan peningkatan tinggi muka laut (sea level rise) yang berdasarkan pengamatan Automatic Weather Station (AWS) Maritim Semarang milik BMKG menunjukkan tren kenaikan.
"Kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang tinggi, peningkatan kecepatan angin, dan curah hujan turut memperparah kondisi," katanya kepada Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Pada periode tertentu, lanjut Soleh, khususnya saat Angin Monsun Timur (Juli-September) dan angin monsun barat (Desember-Januari), terjadi peningkatan tinggi gelombang di Laut Jawa akibat peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada wilayah pesisir utara Jawa.
"Saat kondisi pasang tertinggi terjadi bersamaan dengan cuaca ekstrem, tinggi muka air laut akan semakin meningkat dan berpotensi menimbulkan banjir rob," tuturnya.
Selanjutnya, Soleh menjelaskan faktor astronomi yang menyebabkan peningkatan banjir rob di Semarang.
"Kejadian seperti fase bulan baru dan bulan purnama serta fase perigee (jarak terdekat bulan dengan Bumi) dapat meningkatkan pasang air laut maksimum akibat gaya tarik gravitasi," ucapnya.
Tak kalah penting, faktor antropogenik juga turut andil.
Soleh menyebutkan seperti penurunan permukaan tanah (land subsidence), perubahan tata guna lahan, kerusakan ekosistem pesisir, serta sistem drainase yang kurang optimal juga berkontribusi signifikan.
"Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah berlebihan dan beban pembangunan menyebabkan elevasi daratan semakin rendah terhadap muka laut, sehingga memperbesar kerentanan wilayah terhadap genangan rob," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang