Lantas, seberapa besar pengaruh pemanasan global terhadap meningkatnya frekuensi banjir bandang seperti yang terjadi di Jawa Barat dan beberapa wilayah di Sumatera?
Baca juga: Ramai Ajakan Berhenti Pakai AI karena Sebabkan Pemanasan Global, Ini Penjelasan Pakar Siber
Pemanasan global kerap dituding sebagai akar permasalahan perubahan iklim dunia.
Emilya menjelaskan pemanasan global dimulai sejak penemuan mesin uap oleh James Watt (1750-an) yang menimbulkan revolusi industry.
"Perubahan penggunaan lahan dan pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan gas rumah kaca (GRK) sehingga terjadi penumpukan karena jumlahnya yang sangat banyak di troposfer Bumi," paparnya.
Penumpukan GRK, lanjut Emilya, bakal menyebabkan penumpukan energi radiasi di atmosfer yang terserap.
Ia menyebut, dalam hukum fisika tentang kekekalan energi maka energi yang terkumpul di atmosfer tersebut akan tetap bertahan di atmosfer dan hanya dapat berubah bentuk menjadi jenis energi lainnya seperti:
Emilya memaparkan, perubahan energi akibat pemanasan global telah mengakibatkan perubahan siklus air yang mengarah pada perubahan iklim.
"Secara sederhana pemanasan global meningkatkan kejadian-kejadian iklim ekstrem sehingga meningkatkan kejadian bencana di muka bumi. Tetapi proses ini berjalan lambat, sehingga baru kita rasakan sekarang," terangnya.
Baca juga: Studi: Pemanasan Global Bisa Berulang seperti Era Kepunahan Massal
Menurut World Meteorological Organization (WMO) pada tahun 2018, Emilya menyebut hujan ekstrem merupakan kejadian yang spesifik secara spasial dan temporal.
Sehingga penentuan batasan nilai hujan ekstrem tiap wilayah dan periode akan berbeda.
"Beberapa penyebab kejadian hujan ekstrem disebabkan oleh tingginya kelembapan (high moisture), atau adanya gangguan atmosfer (atmospheric disturbance) seperti badai musim dingin, front hangat atau dingin, dan siklon tropis," jelasnya.
Semakin lama kondisi tersebut berlangsung di suatu tempat yang sama, maka kemungkinan terjadinya hujan ekstrem semakin tinggi.
"Hal ini karena kondisi udara hangat mengandung lebih banyak kelembapan (warmer air can hold more moisture)," tuturnya.
Sementara itu, mengacu pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dikategorikan ekstrem apabila jumlahnya diatas 100 mm/hari.
Untuk konteks Indonesia, Emilya menjelaskan bahwa curah hujan bulanan biasanya berkisar antara 200-300 mm/bulan (hujan sedang) atau diatas 500 mm/bulan (hujan tinggi).
"Bisa dibayangkan jika hujan dengan nilai 200 mm yang biasanya turun selama satu bulan tetapi diturunkan dalam satu hari atau bahkan hanya beberapa jam, dampak hidrometeorologis yang akan muncul yaitu banjir atau longsor," katanya.
Petugas mengoperasikan pompa penyedot banjir portabel berkapasitas sedot 500 liter per detik untuk mengatasi banjir limpasan air laut ke daratan atau rob di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/5/2022). Kementerian PUPR menyiagakan sejumlah mobil penyedot banjir berbagai kapasitas untuk mempercepat proses pengeringan sejumlah titik kawasan pelabuhan yang masih terendam banjir rob.Sejumlah daerah Indonesia juga dilanda banjir rob, termasuk wilayah Semarang.
Emilya menjelaskan, banjir rob merupakan fenomena intrusi air laut yang masuk ke daratan akibat adanya kombinasi dari kenaikan muka air laut, penurunan muka tanah, dan pasang laut yang terjadi secara perlahan.
"Kejadian banjir rob di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, khususnya wilayah pesisir," paparnya.