Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Darurat Banjir 2026, Rekor 263 Bencana dalam 3 Bulan, Apa Pemicunya?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 21:34 WIB
Mannisa Elfira Putri Aji Suharno,
Tri Indriawati

Tim Redaksi

Lantas, seberapa besar pengaruh pemanasan global terhadap meningkatnya frekuensi banjir bandang seperti yang terjadi di Jawa Barat dan beberapa wilayah di Sumatera?

Baca juga: Ramai Ajakan Berhenti Pakai AI karena Sebabkan Pemanasan Global, Ini Penjelasan Pakar Siber

Pengaruh pemanasan global terhadap frekuensi banjir bandang

Pemanasan global kerap dituding sebagai akar permasalahan perubahan iklim dunia. 

Emilya menjelaskan pemanasan global dimulai sejak penemuan mesin uap oleh James Watt (1750-an) yang menimbulkan revolusi industry

"Perubahan penggunaan lahan dan pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan gas rumah kaca (GRK) sehingga terjadi penumpukan karena jumlahnya yang sangat banyak di troposfer Bumi," paparnya.

Penumpukan GRK, lanjut Emilya, bakal menyebabkan penumpukan energi radiasi di atmosfer yang terserap. 

Ia menyebut, dalam hukum fisika tentang kekekalan energi maka energi yang terkumpul di atmosfer tersebut akan tetap bertahan di atmosfer dan hanya dapat berubah bentuk menjadi jenis energi lainnya seperti:

  • Energi panas atau kalor dalam bentuk peningkatan suhu bumi, mencairnya es di daratan yang menyebabkan peningkatan muka air laut
  • Energi gerak atau kinetis dalam bentuk angin puting beliung, badai, topan dan siklon tropis serta
  • Energi berat atau potensial dalam bentuk turunnya hujan air dan es yang lebih deras

Emilya memaparkan, perubahan energi akibat pemanasan global telah mengakibatkan perubahan siklus air yang mengarah pada perubahan iklim.

"Secara sederhana pemanasan global meningkatkan kejadian-kejadian iklim ekstrem sehingga meningkatkan kejadian bencana di muka bumi. Tetapi proses ini berjalan lambat, sehingga baru kita rasakan sekarang," terangnya.

Baca juga: Studi: Pemanasan Global Bisa Berulang seperti Era Kepunahan Massal

Hujan ekstrem singkat bisa berdampak 

Menurut World Meteorological Organization (WMO) pada tahun 2018, Emilya menyebut hujan ekstrem merupakan kejadian yang spesifik secara spasial dan temporal.

Sehingga penentuan batasan nilai hujan ekstrem tiap wilayah dan periode akan berbeda.

"Beberapa penyebab kejadian hujan ekstrem disebabkan oleh tingginya kelembapan (high moisture), atau adanya gangguan atmosfer (atmospheric disturbance) seperti badai musim dingin, front hangat atau dingin, dan siklon tropis," jelasnya.

Semakin lama kondisi tersebut berlangsung di suatu tempat yang sama, maka kemungkinan terjadinya hujan ekstrem semakin tinggi.

"Hal ini karena kondisi udara hangat mengandung lebih banyak kelembapan (warmer air can hold more moisture)," tuturnya.

Sementara itu, mengacu pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dikategorikan ekstrem apabila jumlahnya diatas 100 mm/hari.

Untuk konteks Indonesia, Emilya menjelaskan bahwa curah hujan bulanan biasanya berkisar antara 200-300 mm/bulan (hujan sedang) atau diatas 500 mm/bulan (hujan tinggi).

"Bisa dibayangkan jika hujan dengan nilai 200 mm yang biasanya turun selama satu bulan tetapi diturunkan dalam satu hari atau bahkan hanya beberapa jam, dampak hidrometeorologis yang akan muncul yaitu banjir atau longsor," katanya.

Petugas mengoperasikan pompa penyedot banjir portabel berkapasitas sedot 500 liter per detik untuk mengatasi banjir limpasan air laut ke daratan atau rob di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/5/2022). Kementerian PUPR menyiagakan sejumlah mobil penyedot banjir berbagai kapasitas untuk mempercepat proses pengeringan sejumlah titik kawasan pelabuhan yang masih terendam banjir rob.ANTARA FOTO/AJI STYAWAN Petugas mengoperasikan pompa penyedot banjir portabel berkapasitas sedot 500 liter per detik untuk mengatasi banjir limpasan air laut ke daratan atau rob di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/5/2022). Kementerian PUPR menyiagakan sejumlah mobil penyedot banjir berbagai kapasitas untuk mempercepat proses pengeringan sejumlah titik kawasan pelabuhan yang masih terendam banjir rob.

Banjir rob di Semarang

Sejumlah daerah Indonesia juga dilanda banjir rob, termasuk wilayah Semarang.

Emilya menjelaskan, banjir rob merupakan fenomena intrusi air laut yang masuk ke daratan akibat adanya kombinasi dari kenaikan muka air laut, penurunan muka tanah, dan pasang laut yang terjadi secara perlahan. 

"Kejadian banjir rob di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, khususnya wilayah pesisir," paparnya.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau