Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kata Tuchel Soal Kekalahan Inggris dari Jepang Jelang Piala Dunia 2026

Kompas.com, 1 April 2026, 06:57 WIB
Henrikus Ezra Rahardi,
Firzie A. Idris

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hilangnya Harry Kane dari skuad Timnas Inggris saat kalah 0-1 dari Jepang dalam ujicoba jelang Piala Dunia 2026 dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh Thomas Tuchel.

Timnas Inggris ditekuk Jepang 0-1 dalam ujicoba jelang Piala Dunia 2026 di Stadion Wembley pada hari Rabu (1/4/2026) dini hari WIB.

Jepang mampu unggul melalui gol yang dicetak oleh pemain Brighton and Hove Albion, Kaoru Mitoma ke gawang Inggris pada menit ke-23.

Dalam pertandingan melawan Jepang, Timnas Inggris tidak diperkuat oleh bintang Bayern Muenchen, Harry Kane yang menyaksikan laga dari tribun.

Taktik Inggris Ala Tuchel Saat Lawan Jepang

Tuchel kemudian melakukan percobaan dengan menurunkan Phil Foden sebagai false nine, dibantu oleh pemain Aston Villa, Morgan Rogers dan penyerang sayap Newcastle United, Anthony Gordon.

Baca juga: Kata Beckham soal Hilangnya Trent Alexander-Arnold dari Timnas Inggris

Selain itu, Cole Palmer juga dimainkan sebagai gelandang serang Timnas Inggris, dibantu oleh Elliot Anderson dan Kobbie Mainoo di lini tengah.

Pada babak kedua, Thomas Tuchel kemudian mengubah susunan pemain dengan menurunkan Dominic Solanke sebagai penyerang murni, dibantu Jarrod Bowen dan Marcus Rashford sebagai pemain sayap.

Namun, Timnas Inggris tidak kunjung mencetak gol dan harus menerima kekalahan 0-1 dari Jepang dalam ujicoba jelang Piala Dunia 2026.

Dilansir dari Mirror, Thomas Tuchel kemudian memberikan klarifikasi bahwa kekalahan Timnas Inggris dari Jepang adalah hal normal.

Eks pelatih Chelsea ini menegaskan bahwa kekalahan dari Jepang bukan karena Timnas Inggris terlalu bergantung pada Harry Kane.

Baca juga: Hasil Inggris Vs Jepang 0-1, Sejarah Samurai Biru

Pelatih kepala timnas Inggris asal Jerman Thomas Tuchel mengawasi para pemain dari pinggir lapangan pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup K antara Inggris dan Andorra, di Villa Park, Birmingham, pada 6 September 2025.AFP/BEN STANSALL Pelatih kepala timnas Inggris asal Jerman Thomas Tuchel mengawasi para pemain dari pinggir lapangan pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup K antara Inggris dan Andorra, di Villa Park, Birmingham, pada 6 September 2025.

Klarifikasi Tuchel Soal Harry Kane

Menurut Tuchel, wajar ketika sebuah tim punya pemain bintang yang diandalkan dan mencontohkan Timnas Portugal yang punya Cristiano Ronaldo dan Argentina yang memiliki Lionel Messi.

"Mengapa Argentina tidak mengandalkan Messi atau Portugal tidak mengandalkan Cristiano Ronaldo? Itu sangat normal dan saya pikir pemain kunci meninggalkan kamp untuk sementara waktu dan kita sedikit melihat hal itu," ujar Tuchel.

"Kami sedikit kurang bertenaga di 20 meter terakhir, mungkin di kedua pertandingan, tetapi kami memberi semangat kepada para pemain."

"Itu sulit, di babak pertama kami bermain terlalu sempit, di babak kedua kami lebih melebar dan lebih dinamis, mengambil lebih banyak risiko, memiliki lebih banyak peluang tetapi tidak bisa mencetak gol," imbuh Tuchel.

Kekalahan Timnas Inggris atas Jepang dalam laga ujicoba jelang Piala Dunia 2026 jelas memberikan alarm pada Thomas Tuchel.

Baca juga: Hasil Lengkap Play Off Piala Dunia 2026: Turkiye Akhiri Penantian, Italia Gagal Lagi

Pasalnya, dalam dua laga ujicoba jelang Piala Dunia 2026, Timnas Inggris sama sekali tidak mendapatkan kemenangan.

Sebelum kekalahan dari Jepang, Timnas Inggris ditahan imbang 1-1 oleh Uruguay dalam laga ujicoba jelang Piala Dunia 2026.

Soal hasil dua pertandingan ujicoba jelang Piala Dunia 2026 dan tekanan pemain saat turun bersama Timnas Inggris, Tuchel enggan memberikan komentar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Daftar Lengkap 48 Tim di Piala Dunia 2026: Irak Lolos, Curacao Ukir Sejarah
Daftar Lengkap 48 Tim di Piala Dunia 2026: Irak Lolos, Curacao Ukir Sejarah
Internasional
Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Internasional
Malaysia Gagal ke Piala Asia 2027, Peter Cklamovski Akui Keunggulan Vietnam
Malaysia Gagal ke Piala Asia 2027, Peter Cklamovski Akui Keunggulan Vietnam
Timnas Indonesia
Timnas Indonesia Era John Herdman: Menjanjikan, tapi Masih Banyak PR
Timnas Indonesia Era John Herdman: Menjanjikan, tapi Masih Banyak PR
Timnas Indonesia
Cerita Dony Tri Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Dapat Petuah Verdonk
Cerita Dony Tri Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Dapat Petuah Verdonk
Timnas Indonesia
Jadwal Babak 16 Besar Piala Gubernur DKI Jakarta, ASIOP Tancap Gas
Jadwal Babak 16 Besar Piala Gubernur DKI Jakarta, ASIOP Tancap Gas
Liga Indonesia
Skor Irak Vs Bolivia 2-1, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
Skor Irak Vs Bolivia 2-1, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
Internasional
Respons Dony Tri Pamungkas Usai Calvin Verdonk Dukung Main di Eropa
Respons Dony Tri Pamungkas Usai Calvin Verdonk Dukung Main di Eropa
Timnas Indonesia
KNVB Usut Kasus Naturalisasi, Pemain Indonesia Berpotensi Dibekukan?
KNVB Usut Kasus Naturalisasi, Pemain Indonesia Berpotensi Dibekukan?
Liga Lain
Hasil Irak Vs Bolivia 2-1: Wakil Asia di Piala Dunia 2026 Bertambah
Hasil Irak Vs Bolivia 2-1: Wakil Asia di Piala Dunia 2026 Bertambah
Internasional
Jepang Tekuk Inggris 1-0 di Wembley, Skuad Tuchel Rindukan Kane
Jepang Tekuk Inggris 1-0 di Wembley, Skuad Tuchel Rindukan Kane
Internasional
Italia Gagal ke Piala Dunia, Waktu Gianluigi Buffon Sampai Juni
Italia Gagal ke Piala Dunia, Waktu Gianluigi Buffon Sampai Juni
Internasional
Rekam Jejak Tiga Kegagalan Lolos Beruntun Italia ke Piala Dunia
Rekam Jejak Tiga Kegagalan Lolos Beruntun Italia ke Piala Dunia
Internasional
Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia, Gattuso Ungkap Luka dan Pilih Diam
Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia, Gattuso Ungkap Luka dan Pilih Diam
Internasional
Ketika Keunggulan Italia Berubah Jadi Tekanan Setelah Kartu Merah
Ketika Keunggulan Italia Berubah Jadi Tekanan Setelah Kartu Merah
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau