Penulis
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) kembali memperkuat militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk ketiga.
Kapal induk yang dikirim tersebut merupakan kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz, USS George HW Bush, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (31/3/2026).
Kapal induk ini beserta gugus tempurnya dijadwalkan bergabung dengan dua kapal induk lainnya yang sudah berada di kawasan tersebut, yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford.
Baca juga: Nasib Kapal Induk Terbesar AS Terungkap Usai Kebakaran, Kini di Kroasia
Menurut keterangan sejumlah pejabat AS, kehadiran kapal-kapal induk bertenaga nuklir ini menandakan peningkatan kekuatan armada laut Amerika secara signifikan.
"AS kemungkinan akan menempatkan tiga kapal induk di kawasan tersebut untuk masa mendatang," ujar pejabat tersebut.
Meski demikian, pihak Angkatan Laut AS memilih untuk tetap berhati-hati dan menolak memberikan rincian lebih lanjut terkait strategi militer mereka.
Berdasarkan siaran pers Angkatan Laut AS, USS George HW Bush telah bertolak dari Pangkalan Angkatan Laut Norfolk di Virginia pada hari Selasa waktu setempat.
Diperkirakan, kapal induk ini membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mencapai perairan Timur Tengah.
Saat ini, kekuatan laut AS di kawasan tersebut terbagi di beberapa titik. USS Abraham Lincoln dilaporkan tengah beroperasi di Laut Arab.
Sementara itu, USS Gerald R Ford saat ini berada di pelabuhan Kroasia untuk menjalani perbaikan teknis.
Baca juga: Trump Ejek Kapal Induk Inggris sebagai Mainan, Dianggap Telat Bantu AS Lawan Iran
Menurut laporan New York Times, Minggu (29/3/2026), dua pejabat militer AS mengatakan bahwa beberapa ratus personel pasukan operasi khusus, termasuk Navy SEALs dan Army Rangers, telah tiba di Timur Tengah.
Mereka bergabung dengan ribuan Marinir serta pasukan lintas udara yang telah lebih dulu berada di kawasan.
Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim, menyebut pasukan komando itu belum diberi tugas khusus.
Namun, sebagai pasukan darat terlatih, mereka dapat digunakan untuk berbagai operasi strategis.
Beberapa kemungkinan misi mencakup pengamanan Selat Hormuz yang saat ini praktis tertutup akibat serangan Iran, operasi perebutan Pulau Kharg hingga misi yang menargetkan stok uranium yang diperkaya di fasilitas nuklir Isfahan.
Baca juga: Italia Setuju, Indonesia Bakal Terima Kapal Induk Hibah Giuseppe Garibaldi Tahun Ini
Petugas memandu pesawat F/A-18C Hornet di dek Kapal Induk USS George HW Bush milik US Navy di Teluk Persia, Minggu (10/8/2014).Secara keseluruhan, jumlah pasukan AS di Timur Tengah kini telah melampaui 50.000 personel, meningkat sekitar 10.000 dari jumlah normal.
Mereka tersebar di berbagai pangkalan dan kapal di kawasan seperti Arab Saudi, Bahrain, Irak, Suriah, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.
Tambahan kekuatan terbaru mencakup sekitar 2.500 Marinir dan 2.500 pelaut yang baru tiba.
Selain itu, Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon juga telah mengerahkan sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 untuk memperkuat opsi militer.
Lokasi pasukan lintas udara tersebut dirahasiakan, namun disebut berada dalam jarak serang terhadap Iran.
Mereka juga berpotensi dilibatkan dalam operasi darat bersama Marinir, termasuk di Pulau Kharg yang sebelumnya telah dibombardir lebih dari 90 target militer oleh pesawat tempur AS.
Baca juga: Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln, Ogah Negosiasi dengan AS
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang