Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rifki Maulana
Pegawai Negeri Sipil

Master of Public Policy University of Michigan, Manajer di Bank Indonesia

Melembagakan WFH: Hemat, Produktif, dan Hijau Sekaligus

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:37 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Presiden Prabowo Subianto membuka Sidang Kabinet Paripurna pada 13 Maret 2026 dengan mendorong kajian kerja dari rumah (work from home/WFH) sebagai langkah penghematan BBM.

Terlepas dari respon publik yang beragam atas kajian tersebut, pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab adalah, seberapa jauh WFH perlu dilembagakan agar bisa berdampak jangka panjang dan tidak hanya menjadi respons darurat terhadap krisis energi.

Argumen untuk menjawab pertanyaan tersebut sesungguhnya tidak hanya berangkat dari teori, tetapi juga dari pengalaman empiris. Pandemi Covid-19 secara tidak sengaja menjadi eksperimen ketenagakerjaan terbesar dalam sejarah modern.

Baca juga: WFH Parsial dan Ekspektasi Penghematan BBM: Membaca Dampak Nyata Ekonomi

Bukti Empiris: Produktivitas, Emisi, dan Ekonomi

Menurut IEA dalam Global Energy Review 2025, penurunan mobilitas selama pandemi secara signifikan menekan konsumsi BBM di sektor transportasi. Permintaan bahan bakar transportasi di Uni Eropa dan Jepang bahkan masih berada di bawah level pra-pandemi hingga 2024 karena berlanjutnya praktik kerja jarak jauh secara parsial.

Di Indonesia, Pertamina mencatat penurunan konsumsi BBM nasional hingga 25 persen dibandingkan kondisi normal karena mobilitas masyarakat yang dibatasi sepanjang tahun 2020.

Dampak positif di sisi ketenagakerjaan menunjukkan hal serupa. Survei OECD Global Forum on Productivity terhadap manajer dan pekerja di 25 negara menemukan bahwa 63 persen manajer dan 74 persen pekerja memberikan penilaian positif terhadap pengalaman kerja jarak jauh, baik dari sisi kinerja perusahaan maupun kesejahteraan individu.

Criscuolo et al (2023) dalam jurnal Economics and Statistics memperkuat temuan tersebut. Dia menyebutkan bahwa produktivitas meningkat seiring bertambahnya hari kerja dari rumah per minggu, dengan catatan penting bahwa efek negative akan muncul ketika intensitasnya berlebihan.

Konsensus riset tersebut mengerucut pada satu rekomendasi yakni model kerja hybrid 2-3 hari per minggu adalah titik optimal yang menyeimbangkan manfaat pengurangan komuter dengan kebutuhan kolaborasi tatap muka.

Manfaat WFH tidak berhenti di sana. Pelembagaannya membuka peluang peningkatan komitmen iklim nasional. Indonesia telah berkomitmen mengurangi emisi hingga 43,20 persen pada 2030 melalui Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC). Namun sektor transportasi yang menyumbang 25 persen emisi CO? nasional belum memiliki instrumen kebijakan yang konkret. Oleh karenanya WFH terstruktur dapat mengisi celah tersebut.

Terakhir, ada satu dimensi lagi yang kerap luput: kemacetan parah adalah pajak tersembunyi yang ditanggung jutaan pekerja produktif setiap harinya.

Studi BPTJ (2024) memperkirakan kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp 71,4 triliun per tahun, dengan warga Jakarta rata-rata kehilangan 174 jam di jam-jam padat.

Baca juga: Pertamina Sudah Siapkan Skema Antrean di Tengah Kabar BBM Naik Sempat Beredar

Studi Bappenas bersama JUTPI II (2019) bahkan menempatkan angka kerugian tersebut di Rp 100 triliun per tahun atau setara penurunan 4 persen PDB Jabodetabek. Terlebih, World Bank dalam dokumen Indonesian Mass Transit Program mencatat bahwa 60 persen PDB Indonesia bersumber dari kawasan perkotaan yang hanya dihuni 53 persen populasi, sehingga jika tenaga kerja di kawasan ini terus terjebak kemacetan, potensi pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan optimal di tengah puncak bonus demografi yang sedang kita alami dan tidak akan datang dua kali.

Desain Kebijakan Presisi, Sektoral, dan Efektif

Kekhawatiran dunia usaha terhadap dampak WFH pada produktivitas dan kelangsungan operasional harus direspons secara baik. Tidak semua pekerjaan dapat dilakukan secara jarak jauh seperti contoh sektor manufaktur, logistik, dan jasa lapangan.

Oleh karena itu, kebijakan ini perlu dirancang dengan secara unique dan presisi secara sektoral serta tidak diberlakukan seragam. Setidaknya terdapat tiga prinsip desain yang dapat memandu institutionalisasi WFH di Indonesia.

Pertama, pemetaan teleworkability perlu dilakukan secara sistematis mengacu pada metodologi seperti Adams-Prassl et al. (2022) yang membuktikan variasi signifikan kapasitas WFH bahkan dalam satu profesi yang sama.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau