Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Mengalami Cemas dan Depresi? Ini Pertolongan Pertamanya

Kompas.com, 19 Maret 2026, 04:00 WIB
Devi Pattricia,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

Konsultasi Tanya Pakar Parenting

Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel

Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com

KOMPAS.com - Dari sekitar 7 juta anak yang diperiksa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). 

Tak hanya itu, 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak mengalami gejala depresi (depression disorder).

Kondisi ini membuat orangtua dan lingkungan sekitar perlu memahami langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan ketika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan emosional. 

Penanganan awal yang tepat dinilai penting sebelum anak mendapatkan bantuan profesional. Berikut langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan.

Baca juga: Psikolog Ungkap Dampak Media Sosial pada Remaja, dari Kecemasan hingga Cyberbullying

Pertolongan pertama pada luka psikologis 

1. Perhatikan kondisi anak dan pastikan aman

Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi., menekankan, langkah pertama adalah memperhatikan kondisi anak secara menyeluruh.

“Pastikan mereka aman dan tempatkan di tempat aman. Apakah ada luka atau kondisi sesak yang perlu ditangani medis dan penuhi kebutuhan dasarnya apakah misalnya makanan, minuman, atau pakaian dan lainnya,” jelas dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).

Orangtua atau orang dewasa di sekitar anak perlu mengamati lingkungan serta kondisi fisik anak sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada risiko yang membahayakan keselamatan anak.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan gejala lain yang mungkin muncul pada anak sebagai bagian dari respons emosional yang mereka alami.

Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi., menambahkan, langkah awal ini dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menyadari adanya perubahan pada anak.

“Pertolongan pertama secara cepat itu sesederhana mendeteksi bahwa ada sesuatu yang berubah dari anak didik misalnya kalau di sekolah, atau anaknya sendiri di rumah,” tuturnya.

Baca juga: Anak Mendadak Malas Sekolah Bisa Jadi Tanda Gangguan Perilaku

Bukan Tugas Ibu Saja, Ini Pentingnya Ayah Ikut Antar Anak Sekolahfreepik Bukan Tugas Ibu Saja, Ini Pentingnya Ayah Ikut Antar Anak Sekolah

2. Dengarkan dengan empati dan hadir sepenuhnya

Setelah memastikan kondisi anak aman, langkah berikutnya adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya.

“Prinsip utamanya adalah mendengarkan dengan aktif, suportif, dan penuh empati. Hadir sepenuhnya mendengarkan, arahkan seluruh perhatian kepadanya seolah dia adalah orang paling penting saat ini,” ujar Lydia.

Mendengarkan secara aktif berarti tidak hanya mendengar kata-kata anak, tetapi juga memahami perasaan yang mereka sampaikan. 

Kehadiran orangtua atau pendamping yang penuh empati dapat membuat anak merasa lebih aman dan dihargai.

Baca juga: Orangtua yang Mendengarkan Bisa Lindungi Anak Jadi Korban Bullying

Gloria juga menekankan pentingnya respons sederhana namun bermakna ketika anak sedang mengalami kesulitan emosional.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau