Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Orangtua Harus Batasi Gadget, Psikolog Tekankan Pentingnya Interaksi Nyata Anak

Kompas.com, 17 Maret 2026, 12:49 WIB
Dian Erika Nugraheny,
Larissa Huda

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Paparan gadget dan media sosial pada anak usia dini dinilai perlu dibatasi karena berpotensi menghambat proses tumbuh kembang, terutama dalam aspek sosial, emosional, dan motorik.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, menegaskan anak-anak membutuhkan stimulasi langsung melalui interaksi nyata, bukan dari layar digital.

Pasalnya, pada fase usia dini, anak masih berada dalam tahap perkembangan yang membutuhkan pengalaman konkret untuk membentuk kemampuan kognitif dan sosial.

"Anak-anak harus dapat stimulasi langsung. Misalnya, dia bisa memahami bahwa memiliki teman itu adalah sesuatu yang luar biasa," ujar Rose saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (16/3/2026).

Baca juga: Dosen Unpam Juga Laporkan Akun Medsos yang Viralkan Tuduhan Pelecehan di KRL

Ia menjelaskan, kemampuan anak dalam bergaul, termasuk bagaimana merespons ketika diledek teman, hanya dapat dipelajari melalui interaksi langsung dengan teman-teman di dunia nyata, bukan melalui dunia maya.

Menurut Rose, stimulasi yang dibutuhkan anak harus bersifat konkret dan mampu mendorong perkembangan kognitif, afektif (emosi), serta sosial-emosional secara seimbang. Ia juga menekankan pentingnya aktivitas fisik atau motorik dalam keseharian anak.

"Kalau dia menggunakan media sosial atau game-game online, itu tidak terlalu terasah. Sehingga dia harusnya bisa melakukan itu dalam bentuk nyata," tutur Rose.

Pintu masuk predator online

Selain berdampak pada tumbuh kembang, penggunaan gadget tanpa pengawasan juga membuka risiko kejahatan digital, termasuk predator online.

Rose mengingatkan, ancaman tersebut bisa menyasar anak dari berbagai usia, sehingga pendampingan orangtua menjadi hal yang krusial.

"Makanya kalau ada pendampingan orang tua itu penting sekali. Misalnya ada platform yang sudah membuat bahwa ada koneksi antara orang tua dengan apa yang dibuka oleh anak," ungkap Rose.

Ia menjelaskan, jika anak ingin membuka fitur tertentu, maka harus terlebih dahulu meminta izin kepada orangtua. Ia juga menambahkan, apabila fitur tersebut digunakan terlalu lama, ada kemungkinan aksesnya akan diblokir oleh platform.

Baca juga: Cerita Orangtua Melawan Konten “Brainrot” yang Dikonsumsi Anak di Medsos

Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh sejumlah orangtua yang kini semakin selektif dalam memberikan akses gadget kepada anak.

Salah satunya dilakukan oleh Fitri (32), seorang ibu di Tangerang Selatan. Ia memilih untuk tidak lagi memberikan smartphone kepada putranya, Bisma (8). Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk pencegahan terhadap risiko kesehatan dan keamanan digital.

"Dulu Bisma tuh punya ponsel. Lalu rusak kan, patah dimainin sama dia. Sejujurnya aku orangnya tipe enggak mau ngasih ponsel ya. Takut mata anaknya rusak, takut ada orang jahat," ujar Fitri saat diwawancarai Kompas.com, Senin.

Ia menuturkan, penggunaan gadget dapat memungkinkan pihak lain melacak lokasi, melihat foto, hingga memantau percakapan.

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Megapolitan
Direlokasi dari Lahan Makam Jakbar, Kori Kaget Lihat Rusun: Kenapa Enggak Digusur dari Dulu?
Direlokasi dari Lahan Makam Jakbar, Kori Kaget Lihat Rusun: Kenapa Enggak Digusur dari Dulu?
Megapolitan
Tak Ada Jalan, Keluarga Bingung Turunkan Ayah yang Sakit dari Lantai 3
Tak Ada Jalan, Keluarga Bingung Turunkan Ayah yang Sakit dari Lantai 3
Megapolitan
Ikuti Pusat, Pemkot Tangsel Terapkan WFH ASN Tiap Jumat Mulai Pekan Depan
Ikuti Pusat, Pemkot Tangsel Terapkan WFH ASN Tiap Jumat Mulai Pekan Depan
Megapolitan
Meski ASN WFH Setiap Rabu, Pelayanan Publik di Bekasi Dipastikan Tetap Normal
Meski ASN WFH Setiap Rabu, Pelayanan Publik di Bekasi Dipastikan Tetap Normal
Megapolitan
Pramono Pastikan Tetap Ngantor meski Ada WFH, Samakan Diri dengan Wartawan
Pramono Pastikan Tetap Ngantor meski Ada WFH, Samakan Diri dengan Wartawan
Megapolitan
Di Balik Luka Andrie Yunus yang Memaafkan Sambil Menunggu Keadilan
Di Balik Luka Andrie Yunus yang Memaafkan Sambil Menunggu Keadilan
Megapolitan
Pengangkutan Sampah Pasar Induk Kramat Jati Segera Diambil Alih Swasta
Pengangkutan Sampah Pasar Induk Kramat Jati Segera Diambil Alih Swasta
Megapolitan
Trotoar di Pondok Indah Kembali Pakai Konblok Lagi Setelah Sempat Gunakan Hebel
Trotoar di Pondok Indah Kembali Pakai Konblok Lagi Setelah Sempat Gunakan Hebel
Megapolitan
Cerita Kori, Warga Terdampak Penggusuran TPU Pegadungan yang Kini Hidup Nyaman di Rusun
Cerita Kori, Warga Terdampak Penggusuran TPU Pegadungan yang Kini Hidup Nyaman di Rusun
Megapolitan
Bengkel dan Toko Helm di Tangsel Terbakar, Pemadaman Sempat Terhambat
Bengkel dan Toko Helm di Tangsel Terbakar, Pemadaman Sempat Terhambat
Megapolitan
Dapat Ancaman, Aktivis dan Tim Hukum Andrie Yunus Minta Perlindungan ke Komnas HAM-LPSK
Dapat Ancaman, Aktivis dan Tim Hukum Andrie Yunus Minta Perlindungan ke Komnas HAM-LPSK
Megapolitan
Jalan Marunda–Rorotan Dikotori Tanah Merah, Operasional Truk Kini Dibatasi
Jalan Marunda–Rorotan Dikotori Tanah Merah, Operasional Truk Kini Dibatasi
Megapolitan
Pemutilasi di Bekasi Obral HP dan Dua Motor Korban dengan Harga Murah
Pemutilasi di Bekasi Obral HP dan Dua Motor Korban dengan Harga Murah
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Orangtua Harus Batasi Gadget, Psikolog Tekankan Pentingnya Interaksi Nyata Anak
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat