Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waduk Pluit Sempat Menghijau, Eceng Gondok Tumbuh Pesat dalam 4 Hari

Kompas.com, 1 April 2026, 13:15 WIB
Omarali Dharmakrisna Soedirman,
Larissa Huda

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Tanaman eceng gondok dilaporkan tumbuh pesat dan sempat menutupi sebagian permukaan Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, hanya dalam waktu empat hari.

Fenomena ini memicu kekhawatiran karena mengganggu kondisi badan air dan aktivitas pembersihan waduk.

Petugas Unit Penanganan Sampah Badan Air (UPS Badan Air) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta kini terus melakukan pengangkutan secara intensif untuk mengendalikan penyebaran tanaman tersebut.

Baca juga: Waduk Pluit Dipenuhi Eceng Gondok, Petugas Angkut Belasan Truk dalam Sehari

Pengawas saringan sampah UPS Badan Air Penjaringan, Abu Bakar, mengatakan kemunculan eceng gondok terjadi dalam beberapa hari terakhir, dipicu kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Eceng ini ada baru sekitar empat hari yang lalu dikarenakan cuaca yang belum bisa dipastikan. Hujan dan terik sehingga eceng cepat bertumbuh,” ujarnya saat ditemui di Waduk Pluit, Rabu (1/4/2026).

Ia menjelaskan, pertumbuhan eceng gondok mulai terlihat sejak setelah Lebaran dan terus menumpuk di sejumlah titik waduk.

“Pas habis puasa aja itu. Makin numpuknya di sini,” katanya.

Sejumlah titik di waduk, terutama di sudut area dekat pos polisi subsektor Pluit dan sekitar saringan sampah, sempat dipadati eceng gondok.

Petugas mulai mengangkut eceng gondok itu secara bertahap sejak Selasa (31/3/2026). Dalam satu hari, sebanyak 12 truk eceng gondok berhasil diangkut.

“Ya, sampai kemarin kami ngangkut dari pagi sampai sore. Sekitar pukul 17.00 WIB hampir pukul 18.00 WIB kita baru kelar. Kami angkut itu habis 12 mobil diangkut,” ujar Abu Bakar.

Dengan kapasitas sekitar sembilan meter kubik per truk, total eceng gondok yang diangkut mencapai sekitar 108 meter kubik dalam sehari.

Baca juga: Banjir Mengubah TPU Semper, Kini Jadi Kolam yang Dipenuhi Eceng Gondok

Pada Rabu siang, pengangkutan kembali dilakukan dengan tambahan sekitar enam truk atau setara 54 meter kubik.

"Ini sekarang sudah enam mobil kecil. Satu mobil itu muatannya sembilan kubik," jelasnya.

Selain pengangkutan, pengendalian eceng gondok juga dilakukan melalui metode penyekatan menggunakan material high density polyethylene (HDPE) serta pengolahan menjadi kompos.

Pembersihan melibatkan mesin penarik di area saringan sampah dan alat berat di sejumlah titik waduk.

Halaman:


Terkini Lainnya
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Megapolitan
Pelayanan Publik di Tangsel Dipastikan Tetap Normal meski ASN WFH Tiap Jumat
Pelayanan Publik di Tangsel Dipastikan Tetap Normal meski ASN WFH Tiap Jumat
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Waduk Pluit Sempat Menghijau, Eceng Gondok Tumbuh Pesat dalam 4 Hari
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat