Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waduk Pluit Dipenuhi Eceng Gondok, Petugas Angkut Belasan Truk dalam Sehari

Kompas.com, 1 April 2026, 11:10 WIB
Omarali Dharmakrisna Soedirman,
Larissa Huda

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kemunculan tanaman eceng gondok yang menutupi sebagian permukaan air di Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, viral di media sosial.

Fenomena ini sempat membuat permukaan waduk berubah warna menjadi hijau dalam beberapa hari terakhir.

Video yang diunggah akun @ilhamapriyanto memperlihatkan sebaran eceng gondok yang kian meluas di Waduk Pluit pada Selasa (31/3/2026). Tanaman air tersebut tampak menutupi sebagian badan air hingga mengganggu tampilan waduk.

Baca juga: Banjir Mengubah TPU Semper, Kini Jadi Kolam yang Dipenuhi Eceng Gondok

Dalam video tersebut, sejumlah petugas Unit Penanganan Sampah Badan Air (UPS Badan Air) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta terlihat tengah membersihkan waduk tersebut. Mereka berdiri di atas hamparan eceng gondok yang mengapung di permukaan air.

Selain itu, beberapa unit ekskavator dikerahkan untuk mengeruk tanaman tersebut. Proses pengangkutan juga dibantu alat penyaring sampah di waduk yang menarik eceng gondok ke daratan.

Setelah terangkat, tanaman tersebut dipindahkan menggunakan mesin konveyor yang mengalirkannya ke dalam truk pengangkut.

Berdasarkan pengamatan Kompas.com di lokasi pada Rabu (1/4/2026), volume eceng gondok di Waduk Pluit mulai berkurang. Namun, masih terdapat beberapa titik yang dipadati tanaman tersebut, terutama di sudut waduk dekat Pos Polisi Subsektor (Pospol Subsektor) Pluit dan area saringan sampah.

Pembersihan di area dekat Pospol Subsektor Pluit dilakukan menggunakan tiga unit ekskavator. Sementara itu, pengangkutan melalui alat penyaring dan konveyor masih difokuskan di area saringan sampah.

Pengawas saringan sampah UPS Badan Air Penjaringan, Abu Bakar, mengatakan bahwa proses pengangkutan telah dilakukan secara intensif sejak Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Eceng Gondok dari Waduk Pluit Bakal Dijadikan Kompos

"Ya, sampai kemarin kami ngangkut dari pagi sampai sore. Sekitar pukul 17.00 WIB hamir pukul 18.00 WIB kita baru kelar. Kami angkut itu habis 12 mobil kami angkut," ucapnya saat ditemui Kompas.com pada Rabu.

Ia menjelaskan, total eceng gondok yang berhasil diangkut pada Selasa mencapai sekitar 108 meter kubik. Sementara hingga Rabu siang, tambahan volume yang diangkut mencapai sekitar 54 meter kubik.

"Ini sekarang sudah enam mobil kecil. Satu mobil itu muatannya sembilan kubik," jelasnya.

Abu Bakar menuturkan, eceng gondok mulai muncul di Waduk Pluit sejak sekitar empat hari lalu, tepatnya pada Minggu (29/3/2026).

"Eceng ini ada baru sekitar empat hari yang lalu di karenakan cuaca yang belum bisa dipastikan. Hujan dan terik sehingga eceng cepat bertumbuh oleh karena itu kamu terus berupaya untuk mengendalikan pertumbuhan eceng gondok," jelasnya.

Ia menambahkan, eceng gondok yang telah diangkut akan dibawa ke fasilitas milik Dinas Lingkungan Hidup untuk diolah lebih lanjut.

"Dengan cara disekat dengan High Density Polyethylene (HDPE) serta dijadikan kompos," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Megapolitan
Direlokasi dari Lahan Makam Jakbar, Kori Kaget Lihat Rusun: Kenapa Enggak Digusur dari Dulu?
Direlokasi dari Lahan Makam Jakbar, Kori Kaget Lihat Rusun: Kenapa Enggak Digusur dari Dulu?
Megapolitan
Tak Ada Jalan, Keluarga Bingung Turunkan Ayah yang Sakit dari Lantai 3
Tak Ada Jalan, Keluarga Bingung Turunkan Ayah yang Sakit dari Lantai 3
Megapolitan
Ikuti Pusat, Pemkot Tangsel Terapkan WFH ASN Tiap Jumat Mulai Pekan Depan
Ikuti Pusat, Pemkot Tangsel Terapkan WFH ASN Tiap Jumat Mulai Pekan Depan
Megapolitan
Meski ASN WFH Setiap Rabu, Pelayanan Publik di Bekasi Dipastikan Tetap Normal
Meski ASN WFH Setiap Rabu, Pelayanan Publik di Bekasi Dipastikan Tetap Normal
Megapolitan
Pramono Pastikan Tetap Ngantor meski Ada WFH, Samakan Diri dengan Wartawan
Pramono Pastikan Tetap Ngantor meski Ada WFH, Samakan Diri dengan Wartawan
Megapolitan
Di Balik Luka Andrie Yunus yang Memaafkan Sambil Menunggu Keadilan
Di Balik Luka Andrie Yunus yang Memaafkan Sambil Menunggu Keadilan
Megapolitan
Pengangkutan Sampah Pasar Induk Kramat Jati Segera Diambil Alih Swasta
Pengangkutan Sampah Pasar Induk Kramat Jati Segera Diambil Alih Swasta
Megapolitan
Trotoar di Pondok Indah Kembali Pakai Konblok Lagi Setelah Sempat Gunakan Hebel
Trotoar di Pondok Indah Kembali Pakai Konblok Lagi Setelah Sempat Gunakan Hebel
Megapolitan
Cerita Kori, Warga Terdampak Penggusuran TPU Pegadungan yang Kini Hidup Nyaman di Rusun
Cerita Kori, Warga Terdampak Penggusuran TPU Pegadungan yang Kini Hidup Nyaman di Rusun
Megapolitan
Bengkel dan Toko Helm di Tangsel Terbakar, Pemadaman Sempat Terhambat
Bengkel dan Toko Helm di Tangsel Terbakar, Pemadaman Sempat Terhambat
Megapolitan
Dapat Ancaman, Aktivis dan Tim Hukum Andrie Yunus Minta Perlindungan ke Komnas HAM-LPSK
Dapat Ancaman, Aktivis dan Tim Hukum Andrie Yunus Minta Perlindungan ke Komnas HAM-LPSK
Megapolitan
Jalan Marunda–Rorotan Dikotori Tanah Merah, Operasional Truk Kini Dibatasi
Jalan Marunda–Rorotan Dikotori Tanah Merah, Operasional Truk Kini Dibatasi
Megapolitan
Pemutilasi di Bekasi Obral HP dan Dua Motor Korban dengan Harga Murah
Pemutilasi di Bekasi Obral HP dan Dua Motor Korban dengan Harga Murah
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Waduk Pluit Dipenuhi Eceng Gondok, Petugas Angkut Belasan Truk dalam Sehari
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat