Penulis
Ketika salah satu tidak terpenuhi, sebagian pekerja memilih menutup celah tersebut melalui side hustle, pengembangan diri ekstra, atau berpindah kerja.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Strategi ini dapat membantu dalam jangka pendek, tetapi juga memperbesar risiko kelelahan kronis.
Bagi lebih dari 40 persen Gen Z dan hampir separuh milenial, pekerjaan utama merupakan bagian penting dari identitas mereka. Dengan posisi sedemikian sentral, tekanan di tempat kerja mudah merembet ke dimensi personal.
Sekitar 40 persen responden menyebut kurangnya makna dalam pekerjaan berkontribusi pada kecemasan dan stres.
Ketika pekerjaan menjadi cerminan identitas, kegagalan menemukan kepuasan atau makna dapat memperdalam rasa lelah secara emosional.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
Dalam konteks inilah burnout tidak hanya soal jam kerja panjang, tetapi juga soal ketegangan antara ekspektasi pribadi, kebutuhan finansial, dan realitas organisasi.
Ilustrasi bekerja di kantor. Survei Deloitte menunjukkan Gen Z dan milenial bukan generasi yang kurang ambisi, melainkan generasi yang mendefinisikan ulang ambisi.
Mereka ingin belajar, berkembang, dan bekerja dengan makna. Pada saat yang sama, mereka menghadapi tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta perubahan teknologi yang cepat.
Di tengah tekanan tersebut, side hustle menjadi strategi bertahan sekaligus potensi sumber overwork.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Upaya mengembangkan keterampilan di luar jam kerja memperluas kapasitas, tetapi juga menggerus waktu istirahat. Tanpa dukungan manajerial yang memadai dan sistem kerja yang memberi ruang pemulihan, risiko burnout menjadi nyata.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang