Penulis
Kondisi ini menunjukkan, keputusan mengambil pekerjaan tambahan tidak selalu lahir dari ambisi, tetapi dari kebutuhan.
Menariknya, burnout di kalangan Gen Z dan milenial tidak semata dipicu oleh ambisi mengejar jabatan.
Hanya 6 persen Gen Z yang menyebut mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Meski demikian, mereka tetap ambisius dalam hal pengembangan diri.
Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z. Sebanyak 70 persen Gen Z mengaku mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali seminggu, dibandingkan 59 persen milenial.
Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya
Lebih dari dua pertiga Gen Z (67 persen) bahkan meluangkan waktu di luar jam kerja, baik sebelum atau sesudah bekerja maupun di hari libur, untuk meningkatkan keterampilan.
Fokus pada continuous learning ini menjadi pedang bermata dua.
Di satu sisi, hal tersebut mencerminkan komitmen untuk bertumbuh. Di sisi lain, ketika pengembangan diri dilakukan di luar jam kerja reguler, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.
Survei juga menyoroti adanya kesenjangan antara ekspektasi pekerja muda terhadap manajer dan realitas yang mereka alami.
Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Gen Z dan milenial berharap manajer dapat memberi bimbingan, inspirasi, membantu menetapkan batasan untuk menjaga work-life balance, serta berperan sebagai mentor. Namun, banyak yang merasa manajer lebih fokus pada pengawasan tugas harian.
Kondisi ini berpotensi memperparah burnout. Tanpa dukungan yang memadai dalam menetapkan batasan dan mengelola beban kerja, pekerja muda cenderung memikul tekanan secara individual.
Deloitte merangkum temuan survei dalam satu konsep, yakni kebahagiaan di tempat kerja terletak pada irisan antara uang, makna, dan kesejahteraan. Ketiganya saling berkaitan erat.
Sebanyak 60 persen Gen Z dan 68 persen milenial yang merasa aman secara finansial menyatakan bahagia, dibandingkan hanya 28 persen Gen Z dan 31 persen milenial yang merasa tidak aman secara finansial.
Ilustrasi karierBaca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Di sisi lain, 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menilai rasa tujuan (purpose) penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Namun, ketika makna tidak ditemukan dalam pekerjaan, dampaknya terasa. Sekitar 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial pernah meninggalkan pekerjaan karena dianggap kurang bermakna.
Kesulitan mendapatkan “trifecta” ini, yaitu fleksibilitas, gaji, dan ketertarikan pada pekerjaan, menciptakan dilema.