Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Pemanfaatan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin menjadi bagian dari transformasi sektor perbankan.
Teknologi ini digunakan untuk mendukung operasional, pengambilan keputusan, hingga meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.
Namun, di tengah percepatan adopsi teknologi tersebut, tantangan yang dihadapi perbankan tidak hanya terkait penerapan teknologi, tetapi juga bagaimana merancang model bisnis yang tetap relevan, bertanggung jawab, dan berfokus pada manusia.
Baca juga: Transaksi Digital Tumbuh 54,89 Persen, AI Jadi Andalan Layanan Bank
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Topik ini mengemuka dalam acara Indonesia HR Director Summit ke-12 di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam forum diskusi bertajuk Reinventing HR Leadership in the Age of AI and Work Transformation, para pimpinan sumber daya manusia (human resources/HR) dari berbagai perusahaan menyoroti pentingnya pendekatan AI yang berpusat pada manusia (human-centric AI).
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab organisasi terhadap karyawan maupun pemangku kepentingan lainnya.
Salah satu perusahaan yang menerapkan pendekatan ini adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO). Bank digital tersebut memanfaatkan AI untuk memperkuat kapasitas organisasi sekaligus meningkatkan efektivitas kerja karyawan.
Baca juga: Rekrutmen Bisa Tuntas 3 Hari, Solusi AI Tawarkan Seleksi 80 Persen Lebih Cepat
Head of People & Culture Bank Jago Pratomo Soedarsono mengatakan, peran AI di dalam perusahaan diposisikan sebagai mitra bagi manusia, bukan sebagai pengganti.
“Kami di Bank Jago memposisikan AI sebagai ‘co-pilot’, bukan ‘autopilot’. AI bukan pengganti manusia, tetapi mitra yang memperkuat peran dan kreativitas setiap Jagoan (istilah untuk karyawan Bank Jago),” ujar Pratomo.
Ilustrasi bank digitalSebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago menjadikan AI sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya manusia. Teknologi ini dimanfaatkan mulai dari proses rekrutmen hingga pengembangan keterampilan karyawan.
Menurut Pratomo, AI membantu perusahaan mencocokkan kompetensi kandidat secara lebih presisi, memprediksi kebutuhan talenta digital, hingga mengidentifikasi kesenjangan keterampilan dalam organisasi.
Baca juga: PwC: 96 Persen Pekerja RI Pengguna AI Harian Akui Produktivitas Naik
Pemanfaatan tersebut bertujuan membantu karyawan bekerja lebih efektif dalam kegiatan sehari-hari. AI digunakan untuk menyederhanakan berbagai proses kerja, menyusun informasi, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Meski demikian, setiap keputusan tetap berada di tangan manusia. Prinsip akuntabilitas dan pemahaman konteks tetap menjadi dasar dalam setiap proses pengambilan keputusan.
“AI tidak boleh berhenti sebagai tools. Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya bagian dari alur pekerjaan sehari-hari, tanpa menghilangkan tanggung jawab manusia,” jelas dia.
Dalam pengembangan sumber daya manusia, Bank Jago juga mendorong peningkatan kemampuan karyawan dalam memanfaatkan AI.
Baca juga: PM Singapura Janjikan Tak Akan Ada Jobless Growth Meski AI Ubah Arah Ekonomi