Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Pertumbuhan ekonomi sering dianggap sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah ekonom mulai melihat adanya perubahan dalam pola tersebut: ekonomi tetap tumbuh, tetapi lapangan kerja yang tercipta tidak lagi berkualitas seperti sebelumnya.
Fenomena ini disoroti oleh ekonom dan mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri, dalam kuliah umum bertajuk Why Development Becomes Harder: The Political Economy of the Possible yang ditayangkan di kanal YouTube Harvard Center for International Development, dikutip pada Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Kembalikan Daya Beli, Kelas Menengah Butuh Lapangan Kerja Berkualitas
Mantan Menteri Keuangan era Presiden SBY, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) era Presiden Prabowo, Chatib Basri. Ia menilai banyak negara berkembang kini menghadapi situasi yang tidak biasa: pertumbuhan ekonomi berlanjut, tetapi rasa aman ekonomi masyarakat justru melemah.
“Banyak negara masih tumbuh secara ekonomi, tetapi masyarakat merasa semakin tidak aman secara ekonomi,” ujar Chatib.
Menurut dia, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar dalam pembangunan ekonomi: mengapa pembangunan terasa semakin sulit meskipun ekonomi tetap berkembang?
Salah satu penjelasan utama adalah perubahan struktur lapangan kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi tidak lagi menciptakan pekerjaan formal dalam jumlah besar.
Baca juga: Anak Muda Terdidik jadi Pengangguran, Perlu Investasi untuk Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas
Sebaliknya, sebagian besar pekerjaan baru justru muncul di sektor informal.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Chatib menjelaskan, dalam periode sebelumnya, terutama sekitar satu dekade lalu, pertumbuhan ekonomi masih disertai peningkatan jumlah pekerjaan formal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola tersebut mulai berubah.
“Pertumbuhan ekonomi masih ada, tetapi komposisi pekerjaan bergeser dari sektor formal ke sektor informal,” kata dia.
Perubahan ini penting karena pekerjaan formal biasanya menyediakan pendapatan yang lebih stabil, perlindungan sosial, serta peluang mobilitas ekonomi yang lebih baik. Sementara itu, pekerjaan informal cenderung memiliki pendapatan yang tidak pasti dan minim perlindungan.
Baca juga: Janji Purbaya ke Generasi Muda: Ke Depan akan Lebih Banyak Lapangan Kerja...
Akibatnya, meskipun ekonomi tetap tumbuh, sebagian masyarakat tidak merasakan peningkatan keamanan ekonomi.
Perubahan struktur pekerjaan tersebut memiliki implikasi besar bagi kelompok kelas menengah.
Chatib menyoroti munculnya fenomena yang kerap disebut sebagai fragile middle class atau kelas menengah yang rapuh. Kelompok ini berada di atas garis kemiskinan, tetapi tetap rentan terhadap guncangan ekonomi.
“Kelompok ini hanya satu guncangan dari kemungkinan jatuh kembali ke kemiskinan,” ujarnya.
Baca juga: Wamenkeu Juda Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Ungguli China, Dorong Lapangan Kerja
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya